Liputan6.com, Jakarta - Kematian bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Dalam ajaran Islam, kematian justru menjadi pintu masuk menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Karena itu, memahami perjalanan ruh setelah meninggal menurut Islam menjadi bagian penting dari keimanan sekaligus pengingat agar setiap muslim mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan setelah dunia.
Keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian, termasuk perjalanan ruh menuju alam barzakh, merupakan bagian dari akidah yang wajib diimani. Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam Ebook Siksa Kubur Sebuah Aqidah yang Absolut menjelaskan bahwa mengimani adanya kehidupan alam kubur beserta peristiwa-peristiwa yang menyertainya merupakan akidah Ahlussunnah yang berlandaskan Al-Qur'an dan hadis.
Allah SWT menggambarkan detik-detik perpisahan ruh dengan jasad, "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat..." (QS. Al-Waqi'ah: 83–84). Ayat ini mengingatkan bahwa setiap manusia pasti akan menghadapi saat ketika kehidupan di dunia berakhir dan memasuki alam yang tidak lagi dapat disaksikan oleh mata.
Advertisement
Abu Asma Andre dalam Ebook Kehidupan Alam Kubur dan Keadaan Penghuninya Sampai Hari Kebangkitan menerangkan bahwa setelah meninggalkan jasad, ruh akan melewati berbagai tahapan hingga memasuki alam barzakh. Memperbanyak amal saleh, memperkuat iman, dan mempersiapkan diri sejak di dunia menjadi bekal yang sangat penting untuk menghadapi perjalanan tersebut.
Perjalanan ruh setelah perpisahan dengan jasad fisik merupakan epik spiritual yang dinamis, menegangkan, dan menunjukkan keadilan Allah SWT. Merujuk berbagai literatur, berikut ini adalah ulasan mengenai perjalanan ruh setelah meninggal dunia.
Perjalanan Ruh setelah Terpisah dari Jasad
1. Fase Sakaratul Maut dan Eksekusi Pencabutan Nyawa
Fase ini adalah detik-detik terputusnya interaksi manusia dengan dimensi duniawi dan terbukanya tabir alam gaib. Proses ini tidak hanya melibatkan Malaikat Maut, melainkan sebuah delegasi malaikat yang turun dari langit.
Sebelum Malaikat Maut tiba, turunlah sekelompok malaikat pendamping yang duduk sejauh mata memandang. Bagi orang mukmin, mereka turun dengan wajah putih bercahaya bak matahari, membawa kain kafan (hanuth) dan wewangian langsung dari surga.
Bagi orang kafir/zalim, yang turun adalah malaikat berwajah hitam kelam dengan membawa kain kasar (musuh) yang memancarkan hawa panas neraka.
Malaikat Maut kemudian duduk di dekat kepala. Kepada mukmin, ia memanggil dengan sangat lembut, "Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya." Ruh tersebut keluar dengan sangat mulus, diibaratkan oleh Abu Asma Andre (mengutip riwayat Al-Bara' bin 'Azib) seperti tetesan air yang mengalir dari mulut bejana.
Sebaliknya kepada kafir dan pendosa, malaikat maut membentak dengan murka, "Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan Allah." Nyawa tersebut menyebar ketakutan ke seluruh urat nadi, lalu ditarik dengan paksa dan sangat menyakitkan, layaknya mencabut besi berduri dari gulungan bulu domba yang basah, hingga merobek urat-urat sarafnya.
2. Fase Mi'raj (Perjalanan Menembus Lapisan Langit)
Setelah dicabut, ruh tidak dibiarkan begitu saja. Malaikat pendamping akan membawanya terbang melintasi dimensi langit menuju hadirat Allah SWT untuk dicatatkan status abadinya.
Sepanjang perjalanan naik, rombongan ini akan berpapasan dengan para penjaga langit yang bertanya, "Ruh siapakah ini?".
Bagi ruh mukmin, malaikat pembawa akan menjawab dengan menyebutkan nama panggilan paling indah yang pernah dimiliki ruh tersebut di dunia. Pintu-pintu langit dibukakan seraya menebarkan aroma yang lebih wangi dari misik.
Allah SWT berfirman: "Tuliskan kitab catatan hamba-Ku di 'Illiyyin (tempat tertinggi di surga)." Setelah itu, ruh dikembalikan ke bumi dengan penuh kelembutan.
Ruh dibawa dengan memancarkan bau yang lebih busuk dari bangkai. Para penjaga langit menolaknya dan pintu langit tertutup rapat (sebagaimana penegasan QS. Al-A'raf: 40). Allah berfirman: "Tuliskanlah kitabnya berada di Sijjin, di lapisan bumi yang paling bawah."
Ruh tersebut kemudian dilemparkan (dihempaskan) dengan kasar dari langit hingga membentur jasadnya di dalam kubur.
3. Fase Pengembalian ke Jasad dan Eksekusi Fitnah Kubur
Ruang liang lahat yang sempit kini berubah menjadi ruang pengadilan pertama. Ruh dikembalikan ke dalam jasad (dalam dimensi barzakh yang tidak bisa ditangkap panca indra manusia hidup).
Sesaat setelah suara langkah kaki pengantar jenazah mereda, datanglah Malaikat Munkar dan Nakir. Wujud mereka sangat menggentarkan jiwa—berwarna hitam kebiru-biruan (azraqan), bersuara seperti petir yang menyambar, dan pandangannya kilat yang menyilaukan. Mereka mendudukkan mayit dengan kasar untuk memulai Fitnah Kubur (ujian).
Proses Interogasi
Pertanyaan "Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?" tidak menuntut kecerdasan otak atau hafalan lisan, melainkan digerakkan langsung oleh manifestasi tauhid.
Mukmin: Allah meneguhkan lisannya (QS. Ibrahim: 27). Ia menjawab dengan mantap bahwa Tuhannya Allah, agamanya Islam, dan Nabinya Muhammad SAW.
Munafik/Kafir: Meskipun di dunia ia hafal jawabannya, di alam barzakh ia akan dilanda kegagapan dan kepanikan luar biasa. Ia hanya bisa meracau, "Hah, hah, aku tidak tahu. Aku hanya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku ikut mengatakannya."
4. Fase Penentuan, Kelapangan Nikmat atau Azab
Hasil dari interogasi tersebut langsung dieksekusi tanpa penundaan. Alam barzakh merespons dengan memanifestasikan amal perbuatan sang mayit.
Bagi yang Lulus (Nikmat Kubur):
Terdengar seruan dari langit, "Benarlah hamba-Ku." Kuburannya diluaskan sejauh 70x70 hasta dan diterangi cahaya. Amal shalihnya (shalat, puasa, zakat) berwujud menjadi seorang pemuda tampan, berpakaian indah, dan berbau harum yang memeluk dan menemaninya.
Di momen inilah, sebagaimana dijelaskan Sutejo Ibnu Pakar, amal sosial dari kerabat di dunia (seperti sedekah jariyah, doa Tahlil, dan Hadiyuwan) terus masuk ke alam kuburnya ibarat bingkisan cahaya yang semakin melapangkan dan membahagiakan sang ahli kubur.
Bagi yang Gagal (Azab Kubur):
Bumi diperintahkan, "Himpitlah dia!" maka bumi menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya remuk bersilang. Amal buruknya menjelma menjadi sosok yang sangat mengerikan dan berbau busuk yang terus menerornya.
Ustadz Abu Ubaidah Yusuf mencatat bahwa malaikat buta dan tuli akan memukulnya dengan godam besi (agar malaikat tidak mendengar jeritannya dan tidak merasa kasihan), serta 99 ular berbisa (tinnin) akan terus mencabik-cabiknya.
5. Fase Penantian Panjang dan Visualisasi Tempat Kembali
Barzakh adalah ruang tunggu yang sangat lama hingga terompet kiamat ditiup. Untuk menambah kualitas nikmat atau azab, Allah memberikan siksaan atau kebahagiaan psikologis setiap hari. Setiap pagi dan sore hari, tirai gaib disingkapkan.
Ruh mukmin diperlihatkan istana dan keindahan tempatnya di surga kelak. Hal ini membuatnya merasakan kedamaian yang luar biasa hingga ia terus berdoa: "Wahai Rabb-ku, segerakanlah hari kiamat, sehingga aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku yang hakiki."
Sebaliknya, ruh kafir/munafik diperlihatkan kobaran api neraka Jahanam yang akan menjadi tempat tinggal abadinya (sebagaimana azab kaum Firaun dalam QS. Ghafir: 46). Visualisasi harian ini memunculkan teror batin, rasa penyesalan, dan keputusasaan yang tiada tara, sehingga ia menjerit: "Wahai Tuhanku, janganlah Engkau tegakkan hari kiamat," karena ia tahu siksaan setelah kiamat jauh melebihi apa yang sedang ia derita di alam kubur.
Â
Pertanyaan Seputar Perjalanan Ruh Setelah Meninggal
1. Ke mana perginya ruh sesaat setelah meninggal?
Ruh yang dicabut Malaikat Maut akan langsung dibawa terbang naik menembus langit untuk dicatatkan status amalnya di 'Illiyyin (surga) atau Sijjin (neraka), sebelum akhirnya dikembalikan ke jasad di alam kubur.
2. Apakah ruh orang mati bisa mendengar langkah kaki di pemakaman?
Ya. Hadits sahih menyebutkan bahwa sesaat sesudah jenazah dikebumikan, ruh yang baru dikembalikan ke jasad dapat mendengar derap langkah alas kaki sanak keluarganya yang beranjak pulang meninggalkannya.
3. Apa wujud malaikat yang membawa ruh ke langit?
Bagi ruh mukmin, malaikat pendamping turun dengan wajah bercahaya putih layaknya matahari sambil membawa kain dan wangi-wangian surga. Bagi ruh kafir, malaikat turun dengan wajah hitam kelam membawa kain kasar dan hawa panas neraka.
4. Apakah ruh orang beriman saling bertemu di alam barzakh?
Ya. Ruh-ruh orang beriman yang dirahmati Allah memiliki kebebasan untuk saling berkunjung dan akan menyambut dengan gembira ruh sanak saudaranya yang baru wafat untuk saling bertukar kabar.
5. Bisakah orang yang masih hidup menolong ruh yang sedang diazab?
Sangat bisa. Doa tulus permohonan ampun (istighfar), sedekah atas nama mayit, melunasi utangnya, dan mengirimkan bacaan Al-Qur'an dari kerabat akan menjadi rahmat yang dapat meringankan atau melepaskan ruh dari siksaan.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306125/original/027820500_1784862750-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-24T101123.644.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305798/original/030195100_1784803071-sri_mulyani_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294353/original/011938600_1783830677-cek_fakta_-_bansos_pkh_juli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3292250/original/093623800_1604992396-suzy-turbenson-zpIsUwrIRtY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306113/original/029197800_1784861666-IMG_20260723_184108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306111/original/047210300_1784860114-IMG_9611.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306100/original/021409100_1784860004-908978.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5018343/original/061776200_1732336344-apa-itu-alam-kubur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306061/original/019106700_1784856233-403503.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306058/original/007260600_1784855925-403291.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5066926/original/050970300_1735272788-1735270009668_100-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306045/original/057827700_1784848693-20260723_170042.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306025/original/092003100_1784830178-IMG-20260723-WA0127.jpg)