7 Contoh Kultum tentang Waktu yang Tidak akan Kembali, Pengingat sebelum Terlambat

Referensi contoh kultum tentang waktu yang tidak akan kembali relevan di zaman sekarang, di mana umat manusia banyak terlena urusan duniawi

Diterbitkan 29 Mei 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Referensi contoh kultum tentang waktu yang tidak akan kembali sangat penting bagi setiap pendakwah. Waktu merupakan sebuah nikmat berharga yang sering melenakan umat manusia. Padahal, seringkali penyesalan datang belakangan, ketika sudah terlambat.

Allah SWT memperingatkan manusia mengenai kerugian bersikap lalai. Dalam surah Al-Ashr disebutkan, 'Demi masa, sesungguhnya manusia itu pasti berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal saleh'.

Imam Syafii dinukil dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa seandainya Allah hanya menurunkan surah pendek ini, niscaya hal tersebut sudah mencukupi. Pernyataan tegas ulama besar tersebut sungguh membuktikan betapa mendesaknya pemanfaatan sisa umur secara maksimal untuk fokus beribadah.

Melalui penyampaian pesan spiritual agama, setiap muslim selalu diharapkan dapat menyadari arti berharganya setiap detik kehidupan fana. Merangkum berbagai sumber, berikut ini adalah tujuh contoh kultum tentang waktu yang tidak akan kembali.

Kultum 1: Kerugian Manusia Terhadap Waktu (Surah Al-'Asr)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil'alamin, washalatu wassalamu 'ala asyrofil anbiyaa-i wal mursalin, wa'ala alihi wa ashabihi ajma'in. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, serta selawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Hadirin jamaah yang dirahmati Allah, waktu adalah ciptaan Allah yang sangat misterius. Ia terus berjalan maju, tak pernah berhenti sedetik pun, dan yang pasti, ia tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu. Banyak dari kita yang tanpa sadar menyia-nyiakan waktu berharga ini untuk hal-hal yang tidak membawa manfaat bagi kehidupan dunia maupun akhirat.

Berkaitan dengan hal ini, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-'Asr ayat 1-3:

وَالْعَصْرِ ۙ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۙ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ٣

Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Penjelasan dari dalil ini sangat tegas; Allah sampai bersumpah demi masa atau waktu. Ayat ini memperingatkan bahwa pada dasarnya semua manusia berada dalam kerugian akibat waktu yang terus menggerus umurnya menuju kematian. Satu-satunya jalan agar terhindar dari kerugian adalah dengan mengisi waktu yang tak akan kembali tersebut untuk beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Dalam kehidupan sehari-hari, betapa seringnya kita lalai dan menunda-nunda kebaikan karena mengira esok masih ada. Padahal waktu yang terlewat hari ini tidak bisa dibeli dengan harta seisi bumi sekalipun. Sebuah pepatah Arab bahkan mengatakan bahwa waktu itu bagaikan pedang, jika kita tidak memotongnya, maka waktu itulah yang akan menebas kita.

Oleh karena itu, mari kita ubah pola pikir kita mulai detik ini. Jangan pernah meremehkan waktu luang yang kita miliki sekecil apa pun itu. Gunakanlah setiap hela napas untuk berzikir, belajar, dan menebar manfaat bagi sesama, karena waktu yang hilang adalah bagian dari umur kita yang perlahan mati.

Ya Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati, bimbinglah kami agar senantiasa mampu memanfaatkan waktu sebaik-baiknya di jalan-Mu. Jadikanlah setiap detik umur yang Engkau titipkan ini penuh dengan keberkahan, dan ampunilah waktu-waktu kami yang terbuang sia-sia di masa lalu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Demikian kultum singkat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Kultum 2: Manfaatkan 5 Perkara Sebelum 5 Perkara

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah SWT Tuhan semesta alam. Selawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istikamah hingga akhir zaman.

 Jamaah sekalian yang saya hormati, tidak ada hal yang lebih cepat berlalu dari kehidupan kita melainkan waktu. Saat kita bekerja maupun bersantai, waktu terus memotong jatah hidup kita secara diam-diam. Sifat waktu yang mustahil untuk diulang ini seharusnya menjadi alarm kuat bagi kita semua agar tidak bermalas-malasan.

 Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai manajemen waktu melalui sabdanya:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Artinya: "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang matimu." (HR. Al-Hakim).

Penjelasan dari hadis mulia ini mengajarkan prinsip antisipasi dan menghargai kesempatan dalam Islam. Rasulullah merinci lima fase keemasan dalam hidup yang terikat oleh waktu dan tidak akan pernah berulang. Sebelum masa-masa sulit (tua, sakit, miskin, sibuk, dan mati) itu datang secara tiba-tiba, manusia dituntut untuk memaksimalkan masa jayanya untuk mengumpulkan pundi-pundi pahala.

Seringkali kita melihat anak muda menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaat, atau orang sehat yang merasa malas sekadar melangkah ke masjid. Ketika penyakit parah melanda atau raga telah menua renta, barulah muncul penyesalan mengapa masa muda dan sehatnya dulu tidak digunakan untuk bersujud kepada Allah.

Janganlah kita menjadi golongan orang yang baru menyesal ketika lima perkara buruk itu telah datang menimpa. Selagi raga masih kuat, jadikanlah ibadah sebagai prioritas utama, dan selagi harta maupun waktu luang masih ada, jadikanlah ketaatan sebagai investasi masa depan kita di akhirat.

Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur dan cerdas dalam menggunakan waktu. Lindungilah kami dari kelalaian masa muda dan masa luang, serta jadikanlah sisa umur kami lebih baik dari hari-hari yang telah berlalu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Semoga nasihat singkat ini bermanfaat bagi saya pribadi dan jamaah sekalian. Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 3: Dua Kenikmatan yang Melenakan

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya tanpa henti. Selawat serta salam mari kita haturkan kepada Baginda Rasulullah SAW yang telah membawa umat manusia dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam.

 Saudaraku seiman, manusia di dunia ini sangat sering tertipu oleh indahnya kefanaan. Banyak yang mengejar harta dunia mati-matian, padahal ada dua modal hidup yang jauh lebih berharga namun paling sering disia-siakan. Ketika kedua modal ini berlalu dari genggaman dan tak akan kembali, barulah air mata penyesalan menetes deras.

 Rasulullah SAW bersabda dengan sangat gamblang mengenai hal ini:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ.

Artinya: "Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu (rugi) di dalamnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari).

Penjelasan dari hadis ini sangatlah mendalam untuk kita renungi. Kata "maghbun" (tertipu/rugi) menggambarkan seorang pedagang yang memiliki modal amat besar, tetapi malah menjual barangnya dengan harga yang sangat murah dan merugikan. Allah memberikan nikmat kesehatan dan waktu luang secara gratis, namun mayoritas manusia justru membuangnya untuk perbuatan sia-sia, bukan ditukar dengan tiket menuju surga.

Waktu luang ibarat pedang bermata dua; jika tidak segera diisi dengan ketaatan, pasti akan otomatis terisi dengan kelalaian atau bahkan kemaksiatan. Orang yang sedang bersantai menghabiskan waktu berjam-jam tanpa arah sering lupa bahwa detak jantungnya sedang berdetak menghitung mundur menuju ajalnya yang pasti.

Mari kita isi waktu luang kita mulai hari ini dengan memperbanyak bacaan Al-Qur'an, menuntut ilmu agama, dan mempererat tali silaturahmi. Jangan biarkan matahari terbenam tanpa ada tambahan amal saleh sedikit pun di catatan buku malaikat Raqib.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesadaran untuk menjaga nikmat sehat dan waktu luang yang Engkau berikan ini. Hindarkanlah kami dari tipu daya dunia yang melalaikan, dan bimbinglah langkah kami selalu menuju rida-Mu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Demikianlah pesan singkat tentang waktu yang dapat saya bagikan dalam majelis ini. Akhirul kalam, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perhatian jamaah.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 4: Muhasabah Diri Untuk Hari Esok

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah wa syukrulillah 'ala ni'matillah. Mari kita sampaikan puji syukur sedalam-dalamnya kepada Allah SWT, dan selawat yang tiada henti kepada teladan agung kita, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Hadirin rahimakumullah, waktu bagaikan arus sungai yang mengalir deras dan hanya bermuara ke satu arah. Air yang telah melewati kita tidak akan pernah memutar balik ke asalnya. Demikian pula hari-hari yang baru saja kita lewati, ia telah tertutup buku catatannya rapat-rapat dan tidak akan pernah kita jumpai lagi di dunia ini.

Allah SWT mengingatkan kita pentingnya memikirkan waktu yang akan datang berbekal waktu yang ada, dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Penjelasan ayat ini menuntut setiap mukmin untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara berkesinambungan. Allah menyandingkan perintah takwa dengan kewajiban memperhatikan bekal untuk hari esok (akhirat). Maknanya, waktu yang telah terbuang percuma di masa lalu tidak bisa diulang, tetapi hal itu wajib menjadi pelajaran agar sisa waktu kita dipenuhi dengan takwa sebelum datangnya kematian.

Ironisnya, manusia masa kini sangat sibuk merencanakan masa depan dunianya—seperti rencana liburan keluarga, investasi harta, atau asuransi masa tua—namun acuh tak acuh berinvestasi untuk hari akhir. Padahal bekal terbaik yang akan menemani kita di alam kubur bukanlah harta benda, melainkan amal kebaikan yang dikerjakan saat waktu masih berpihak pada kita.

Mulai detik ini, mari kita renungkan apa yang sungguh-sungguh telah kita siapkan untuk di bawa menghadap Allah. Jadikan masa lalu sebagai guru terbaik, dan manfaatkan hari ini sebagai satu-satunya waktu yang pasti kita miliki untuk memperbanyak istigfar dan melipatgandakan ketaatan.

Ya Allah Yang Maha Mengetahui segalanya, ampunilah masa lalu kami yang banyak dilumuri dosa dan kesia-siaan. Berilah kami taufik agar mampu mempersiapkan bekal terbaik untuk hari esok yang kekal, dan masukkanlah kami kelak ke dalam surga-Mu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Cukup sekian kultum yang bisa saya bawakan pada waktu yang berharga ini. Semoga kita semua terhindar dari kerugian abadi karena menyia-nyiakan umur.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 5: Penyesalan Tak Berujung di Akhir Hayat

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Selawat serta salam kita sanjungkan kepada nabi akhir zaman, Nabi Muhammad SAW, yang syafaatnya selalu kita damba-dambakan kelak di hari kiamat.

 Jamaah yang dimuliakan Allah, penyesalan selalu datang terlambat dan berada di akhir cerita. Di dunia ini, barang berharga yang hilang mungkin masih bisa dicari gantinya, namun waktu yang telah pergi takkan pernah kembali berputar. Saat sakaratul maut tiba, barulah manusia menyadari betapa tak ternilainya waktu sekecil apa pun itu.

 Al-Qur'an merekam jeritan penyesalan manusia yang menelantarkan waktunya, dalam Surah Al-Mu'minun ayat 99-100:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ﴿٩٩﴾ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ... ١٠٠

Artinya: "(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan...'".

Penjelasan dalil ini merupakan teguran lisan yang sangat keras bagi kita yang masih hidup dan sehat. Ayat ini mengisahkan bahwa orang yang menghadapi ajal akan memohon, menangis, dan merengek kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia walaupun hanya satu jam saja. Tujuan mereka minta hidup lagi bukanlah untuk mengecek saldo tabungan atau berkumpul dengan kerabat, melainkan semata-mata untuk bersujud dan beramal saleh yang dulu mereka abaikan.

Sungguh menyedihkan jika kita merenungi bahwa kita saat ini memiliki apa yang paling diinginkan oleh para penghuni alam kubur, yaitu "waktu dan kesempatan". Mereka yang telah mati pasti rela menukar dunia dan seluruh isinya hanya demi dihidupkan kembali agar bisa mengucapkan satu kali lafaz Subhanallah di dunia ini.

Mumpung malaikat maut belum berdiri di depan pintu kita, mari kita hentikan segala kebiasaan buruk menunda-nunda kebaikan. Kerjakanlah salat tepat waktu, bersedekahlah walau dengan nominal kecil, dan selesaikanlah urusan ibadah kita selagi kesempatan waktu itu masih digenggam tangan kita sendiri.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, janganlah Engkau cabut nyawa kami dalam keadaan lalai beribadah. Bangunkanlah jiwa kami untuk terus memanfaatkan sisa waktu ini, dan selamatkan kami dari jerit penyesalan orang-orang yang merugi di akhirat. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Demikianlah untaian nasihat tentang penyesalan atas waktu yang tak kembali ini. Semoga dapat menjadi pengingat yang melembutkan hati kita yang sering lupa diri.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 6: Audit Ketat Umur di Hari Kiamat

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb semesta alam yang telah mengatur setiap detik perputaran siang dan malam. Mari kita berselawat kepada sebaik-baik teladan umat manusia, Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan segenap sahabat-sahabatnya.

 Hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah, umur yang kita lalui hakekatnya bukanlah sekadar deretan angka, melainkan rangkaian waktu yang akan dimintai pertanggungjawaban sangat ketat. Tidak ada satu detik pun yang luput dari catatan malaikat. Waktu yang dibiarkan berlalu untuk kemaksiatan kelak akan menjelma menjadi saksi yang memberatkan di pengadilan Allah yang Maha Adil.

Rasulullah SAW telah jauh-jauh hari mengingatkan kita tentang hisab waktu ini dalam sebuah hadis:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلَاهُ.

Artinya: "Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa diamalkan, tentang hartanya dari mana didapatkan dan ke mana diinfakkan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan." (HR. Tirmidzi).

Penjelasan hadis ini secara gamblang menegaskan betapa mendetailnya audit Allah di akhirat kelak. Pertanyaan pertama yang akan mengunci langkah semua manusia di padang mahsyar adalah perihal "umurnya dihabiskan untuk apa". Umur adalah total waktu yang diamanahkan Allah sejak kita balig hingga ajal menjemput, sehingga menyia-nyiakan waktu berarti sengaja merusak jawaban atas pertanyaan penentu keselamatan ini.

Jika kita mau membedah 24 jam waktu kita setiap harinya, mari sejenak jujur pada nurani sendiri; lebih banyak manakah waktu yang dipakai untuk sujud ketaatan dibandingkan waktu untuk menonton, menggulir media sosial, atau sekadar bergosip ria? Semua aktivitas nirmanfaat yang menghabiskan ribuan jam itu kelak akan sangat berat kita pertanggungjawabkan di hadapan Yang Maha Menatap.

Oleh karena itu, mari mulai sekarang kita mengelola waktu seefektif mungkin semata-mata untuk membangun bekal di akhirat. Niatkanlah setiap aktivitas harian kita, mulai dari bekerja mencari nafkah hingga mengurus keluarga di rumah, sebagai bentuk ibadah ikhlas kepada Allah agar waktu yang tak akan kembali tersebut tetap bernilai pahala.

Ya Allah Yang Maha Kuasa, jadikanlah setiap embusan napas kami, setiap langkah kaki kami, dan setiap detik waktu kami murni sebagai ibadah kepada-Mu. Mudahkanlah lisan kami kelak saat menjawab pertanyaan berat-Mu tentang kemana umur ini kami habiskan. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Itulah sedikit pesan spiritual yang bisa saya sampaikan mengenai pertanggungjawaban waktu umur kita. Mohon dimaafkan atas segala kekurangan dan kekhilafan tutur kata.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 7: Umur Panjang Sebagai Bukti Penegur

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin, puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih menitipkan nikmat umur hingga hari yang mulia ini. Selawat dan salam semoga abadi tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah kebenaran.

Jamaah sekalian, di saat merayakan hari kelahiran atau ulang tahun sering kali kita bersukacita penuh perayaan, padahal sejatinya jatah waktu kita di dunia justru semakin menyusut. Bertambahnya angka usia berarti jatah bernapas kita yang tersisa semakin habis dan tidak akan mungkin diputar kembali. Ini adalah realitas mutlak kehidupan duniawi yang tak bisa ditolak oleh siapa pun.

Allah SWT memberikan peringatan tajam bagi mereka yang diberi waktu panjang di dunia namun tetap lalai, melalui firman-Nya dalam Surah Fatir ayat 37:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ.

Artinya: "...Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?..."

Penjelasan ayat suci ini kelak akan menjadi celaan dari Allah kepada para penghuni neraka yang membuang percuma masa hidupnya. Allah menyinggung bahwa setiap manusia sebenarnya telah diberikan durasi waktu yang teramat cukup di dunia untuk mencari kebenaran agama, membedakan yang haq dan batil, serta merenung. Datangnya uban di kepala, wafatnya teman-teman seumuran kita, hingga hadirnya dakwah para ulama adalah pengingat ("nadzir") bahwa waktu kita di bumi ini hampir paripurna.

Betapa meruginya diri kita jika bertahun-tahun hidup menghirup udara Allah namun tidak memiliki progres ketakwaan yang berarti. Masa lalu yang bergelimang dosa tidak bisa dihapus dengan mesin waktu mana pun, namun sisa hari ini masih sanggup diselamatkan dengan tobat nasuha. Jangan sampai teguran Allah dalam ayat ini benar-benar menjadi vonis akhir yang kita dengar di dalam neraka Jahanam.

Wahai saudaraku, mari jadikan teguran ini sebagai cambuk yang memacu semangat ibadah tanpa henti. Selagi matahari masih terbit dari timur dan nyawa belum sampai di kerongkongan, pintu tobat masih terbuka sangat lebar. Hiasilah sisa umur yang tak tergantikan ini dengan sujud dan ruku' sebanyak-banyaknya.

Ya Allah Yang Maha Bijaksana, jadikanlah sebaik-baik umur kami berada pada pengujungnya, dan sebaik-baik amal kami pada penutup usianya. Karuniakanlah kami semua akhir hayat yang husnul khotimah dan masukkanlah kami kelak ke dalam rida surga-Mu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Kiranya sekian saja nasihat yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kultum kali ini. Atas segenap perhatian jamaah sekalian, saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Pertanyaan Seputar Topik

Apa kata Imam Syafi'i tentang waktu?

Nasihat paling populer dari Imam Syafi'i tentang waktu adalah: "Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya (untuk memotong), maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebenaran, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia".

Ayat alquran yang menjelaskan tentang waktu?

Al-Qur'an sangat menekankan pentingnya waktu. Waktu adalah nikmat, amanah, dan modal utama manusia. Setiap detiknya akan dipertanggungjawabkan. Allah ﷻ bahkan bersumpah menggunakan waktu.

Kata kata ulama tentang waktu?

Para ulama memandang waktu sebagai nikmat dan modal paling berharga dalam hidup. Waktu adalah kehidupan itu sendiri yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Kesadaran ini mendorong para cendekiawan muslim terdahulu untuk menyusun mutiara nasihat agar setiap detiknya tidak terbuang sia-sia.

Mengapa Islam menganjurkan manusia untuk memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya?

Memanfaatkan waktu dengan bijak memungkinkan kita untuk menyeimbangkan antara pekerjaan, keluarga, dan waktu pribadi. Ini penting untuk menjaga kesejahteraan emosional dan mental.

Kata pepatah tentang waktu?

Waktu adalah aset paling berharga karena sifatnya yang tidak bisa diputar ulang. Pepatah klasik mengingatkan: "Jika kamu menyia-nyiakan waktu, maka nanti waktulah yang menyia-nyiakan kamu." Hargai setiap detiknya sekarang.