Makna Kalimat Tahmid dalam Perayaan Idul Adha, Panduan Pengamalan dan Hikmahnya

Di antara zikir yang memiliki kedudukan agung dalam Islam adalah bacaan tahmid. Lantas, apa makna kalimat tahmid dalam perayaan Idul Adha?

Diterbitkan 28 Mei 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah gegap gempita takbir yang berkumandang menyambut Aidilqurban, seringkali kita luput merenungi makna mendalam dari kalimat-kalimat suci yang kita ucapkan, tahmid, padahal keduanya senantiasa beriringan. Untuk itu, umat Islam perlu mengetahui makna kalimat tahmid dalam perayaan Idul Adha.

Di antara zikir yang memiliki kedudukan agung adalah tahmid, ucapan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah). Petintah memuji Allah pada hari raya agung ini sangat ditekankan. Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur" (QS. Al-Baqarah: 185).

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa memperbanyak tahmid dan zikir pada hari-hari tersebut adalah sunnah yang amat dianjurkan. Tahmid merupakan bentuk pemurnian tauhid serta manifestasi rasa syukur bahwa segala karunia, termasuk kemampuan menyembelih kurban, mutlak merupakan pemberian Sang Maha Pencipta.

Merujuk berbagai literatur klasik dan modern, berikut ini adalah ulasan makna tahmid dalam konteks perayaan Idul Adha, bagaimana mengamalkannya, serta hikmah di baliknya.

Makna Tahmid dalam Konteks Idul Adha

Tahmid secara bahasa berarti pujian. Secara syariat, mengucapkan "Alhamdulillah" adalah bentuk pengakuan seorang hamba bahwa segala nikmat, karunia, dan keutamaan semata-mata berasal dari Allah SWT. Dalam konteks Idul Adha, makna tahmid menjadi semakin mendalam karena terkait langsung dengan esensi hari raya itu sendiri: pengorbanan, kepasrahan, dan ujian kesabaran.

1. Bentuk Rasa Syukur atas Nikmat Allah

Idul Adha mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan menyembelih putranya, Ismail AS. Dari ujian berat itu, Allah menggantinya dengan seekor domba sebagai bentuk rahmat-Nya. Ucapan Alhamdulillah pada hari raya ini merupakan manifestasi syukur atas:

  • Nikmat kesabaran yang dianugerahkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail.
  • Nikmat penggantian (fidya) dengan hewan kurban, sehingga umat Islam tidak perlu mengorbankan anak.
  • Nikmat kelapangan rezeki untuk dapat melaksanakan ibadah kurban.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menafsirkan bahwa Idul Adha dinamakan "Yaum an-Nahr" karena pada hari itu dilakukan penyembelihan, yang sekaligus menjadi momen bersyukur atas nikmat yang Allah limpahkan. Kalimat tahmid yang terucap dari lisan seorang muslim adalah wujud nyata dari rasa syukur ini.

2. Pengakuan bahwa Hanya Allah yang Maha Agung

Tahmid juga memiliki dimensi pengakuan akan keagungan Allah. Khatib dalam khutbah Idul Adha menjelaskan bahwa kalimat takbir sekaligus tahmid merupakan "pernyataan dan pengakuan atas keagungan Allah".

Ketika seorang muslim mengucapkan "Alhamdulillah", ia mengakui bahwa segala puncak kesempurnaan hanya milik Allah, dan segala aktivitas ibadah—termasuk kurban—hanya ditujukan kepada-Nya. Ini selaras dengan perintah dalam QS. Al-Kautsar: "Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!"

3. Cerminan Tawakal dan Ketaatan

Kisah Siti Hajar yang ditinggalkan di lembah tandus bersama putranya Ismail memberikan pelajaran berharga tentang tawakal. Ketika Nabi Ibrahim pergi meninggalkannya, Siti Hajar bertanya, "Apakah Allah yang memerintahkan ini?" Ibrahim menjawab, "Ya." Maka dengan penuh keyakinan ia berkata, "Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

Sikap inilah yang kemudian melahirkan tahmid. Keyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bertawakal adalah inti dari rasa syukur. Dalam konteks Idul Adha, Alhamdulillah menjadi penegas bahwa ketaatan kepada Allah pasti berbuah kebaikan, meski awalnya terasa berat.

4. Simbol Pergeseran Pengorbanan

Aspek lain dari makna tahmid di Idul Adha adalah simbolisasi bahwa Allah tidak menghendaki pengorbanan nyawa manusia (Ismail), tetapi cukup dengan hewan ternak. Dalam uraian khutbah dijelaskan: "Hikmahnya adalah Allah yang maha pengasih dan penyayang. Korban yang diperintahkan tidak usah anak kita, cukup binatang ternak." Ucapan tahmid di sini menjadi ungkapan syukur karena syariat kurban yang diturunkan lebih ringan dan membawa kemaslahatan sosial.

Anjuran Memperbanyak Tahmid di Hari Raya

Anjuran untuk memperbanyak tahmid pada hari raya tidak datang tanpa dasar. Beberapa dalil kuat dari hadis Nabi SAW menjadi landasan utama amalan ini.

1. Hadis Riwayat Ahmad

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ

“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai-Nya untuk beramal saleh daripada sepuluh hari (awal Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad, no. 6154, dinilai hasan oleh para ulama)

Hadis ini dengan tegas menyebutkan tahmid sebagai salah satu zikir yang sangat dianjurkan untuk diperbanyak, bersama tahlil dan takbir .

2. Memperbanyak Dzikir di Hari yang Telah Ditentukan

Allah SWT berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ

“...dan hendaklah mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)

Mayoritas ulama menafsirkan "hari-hari yang telah ditentukan" (ayyam ma'lumat) sebagai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dalam penafsiran ini, "menyebut nama Allah" mencakup seluruh bentuk zikir, termasuk tahmid .

3. Keutamaan Pahala Setara Kurban

Terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa pahala memperbanyak tahmid, tasbih, tahlil, dan takbir pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah dapat menyamai pahala orang yang berkurban.

“Barang siapa yang membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), tahlil (laa ilaha illallah), dan takbir (Allahu akbar) sebanyak 100 kali sebelum terbit matahari pada 10 hari pertama Dzulhijjah, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berkurban.” (HR. Ahmad dan al-Bazzar).

Ini menjadi kabar gembira bagi mereka yang secara finansial belum mampu berkurban: dengan memperbanyak zikir, termasuk tahmid, mereka tetap dapat meraih pahala agung di hari raya.

Cara Mengamalkan Takbir, Tahmid, dan Tahlil pada Momen Idul Adha

Terdapat dua jenis waktu pelaksanaan zikir pada Idul Adha, yaitu takbir dan tahmid mutlaq (tidak terikat waktu) dan muqayyad (terikat dengan waktu tertentu). Berikut panduan lengkapnya.

1. Takbir dan Tahmid Mutlaq (Tidak Terikat Waktu)

Dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga berakhirnya Hari Tasyrik pada tanggal 13 Dzulhijjah. Pada periode ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak zikir kapan saja dan di mana saja: di masjid, mushalla, pasar, rumah, maupun dalam perjalanan .

Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari: “Ibnu Umar dan Abu Hurairah pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar bertakbir dan manusia mengikuti takbir keduanya.” (HR. Bukhari)

Tradisi ini menunjukkan bahwa zikir di hari raya tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga menjadi syiar di tengah masyarakat .

2. Takbir dan Tahmid Muqayyad (Terikat Waktu)

Waktunya dimulai sejak Subuh hari Arafah (9 Dzulhijjah) hingga Ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Zikir jenis ini dilakukan setelah setiap shalat fardhu lima waktu, baik bagi yang melaksanakan shalat berjamaah maupun sendirian.

3. Bacaan Zikir yang Dianjurkan

Para ulama menganjurkan beberapa lafal zikir yang dapat dibaca. Berikut adalah bacaan takbir yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, dan para sahabat lainnya:

Lafal Pertama (Umum):

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

“Allahu akbar, Allahu akbar. Laa ilaha illallah, wallahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamdu.”

Artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.

Lafal Kedua (Lebih Panjang):

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Allahu akbar kabira, wal hamdulillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila.”

Artinya: Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang.

Untuk bacaan tahmid, cukup dengan "Alhamdulillah" atau "Alhamdulillahirabbil 'alamin".

4. Waktu Pelaksanaan yang Utama

Meskipun dapat dilakukan kapan saja selama periode yang ditentukan, waktu-waktu berikut sangat dianjurkan untuk memperbanyak tahmid dan takbir:

  • Setelah shalat fardhu (untuk takbir muqayyad).
  • Sepanjang malam takbiran (malam 10 Dzulhijjah), hingga shalat Id dimulai.
  • Saat berjalan menuju mushalla pada pagi hari raya .
  • Pada Hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah), terutama setelah shalat dan saat melontar jumrah bagi yang sedang berhaji.

Hikmah Memperbanyak Tahmid pada Momen Idul Adha

1. Mendapatkan Pahala Setara Kurban

Salah satu hikmah terbesar dari memperbanyak tahmid adalah peluang meraih pahala yang setara dengan ibadah kurban. Ini menjadi rahmat Allah bagi hamba-Nya yang tidak mampu secara finansial untuk berkurban .

2. Mendapatkan Kedudukan Mulia di Sisi Allah

Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah waktu yang paling agung dan paling dicintai Allah untuk beramal saleh. Dengan memperbanyak tahmid pada waktu-waktu utama ini, seorang muslim sedang memanfaatkan momen emas untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Amalan yang ringan ini dapat membawa ganjaran yang sangat besar.

3. Mengagungkan Syiar Allah

Takbir dan tahmid yang dikumandangkan dengan lantang adalah bentuk nyata dari mengagungkan syiar Allah. Ini sesuai dengan firman-Nya: "Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati" (QS. Al-Hajj: 32). Dengan mengumandangkan tahmid, seorang muslim turut menyebarkan syiar Islam dan mengingatkan masyarakat akan kebesaran Allah, terutama saat banyak orang tengah sibuk dengan persiapan hidangan dan aktivitas lainnya .

4. Memperkuat Ketakwaan dan Kesadaran Spiritual

Zikir yang dilantunkan dengan penghayatan hati akan menumbuhkan rasa syukur, khusyuk, ketenteraman, muraqabah (merasa diawasi Allah), hingga kepuasan spiritual . Dzikir yang berkualitas bukan sekadar gerakan bibir, tetapi merupakan pengakuan dalam hati yang "menyentuh dan menggetarkan relung-relung jiwa manusia yang beriman" . Efeknya adalah semakin kuatnya ketakwaan, yang pada akhirnya akan melahirkan perilaku-perilaku mulia dalam kehidupan sehari-hari.

5. Membangun Kebersamaan Umat (Ukhuwah Islamiyah)

Tradisi takbir dan tahmid yang dilakukan secara berjamaah atau serentak di berbagai masjid menciptakan rasa persatuan dan kebersamaan di antara umat Islam. Suara takbir yang berkumandang dari berbagai penjuru menjadi simbol bahwa seluruh umat Islam, dari berbagai latar belakang, tengah menyembah Tuhan yang sama dan merayakan hari raya yang sama . Ini memperkuat ikatan persaudaraan Islam.

Pertanyaan Seputar Makna Tahmid

Apa makna kalimat tahmid?

Tahmid (Arab: تَحْمِيد Taḥmudu) adalah istilah untuk frasa Arab Alhamdulillah (bahasa Arab: ٱلْحَمْدُ لِلَّٰهِ , translit. al-ḥamd lillāh) yang berarti "segala puji bagi Allah", merupakan ungkapan atas rasa syukur atas karunia Allah.

Apa makna yang terkandung dalam kalimat takbir?Takbiran memiliki makna membesarkan Allah, sekaligus meyakinkan manusia untuk tidak berlaku sombong. Sebab, hanya Allah-lah yang pantas merasa besar.

Makna dari hari raya Idul Adha?

Hari Raya Idul Adha adalah hari raya besar umat Islam yang memperingati ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS, demi menjalankan perintah Allah SWT. Momen ini dimaknai sebagai simbol pengorbanan, kepatuhan iman, dan kepedulian sosial melalui penyembelihan serta pembagian hewan kurban.

Apa makna di balik Hari Raya Idul Adha?

Idul Adha (' Hari Raya Kurban ') adalah salah satu hari raya terpenting dalam kalender Islam. Hari raya ini memperingati kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya ketika Allah memerintahkannya.

Apa arti tahmid dalam Islam?

Tahmid adalah tindakan memuji Allah, terutama dengan melafalkan "Alhamdulillah" (Segala puji bagi Allah) . Ini adalah komponen penting dari ibadah dan kehidupan sehari-hari dalam Islam, yang mewakili pengakuan seorang mukmin bahwa semua nikmat, baik besar maupun kecil, fisik maupun spiritual, berasal dari karunia Allah.