Kumpulan Doa dan Dzikir Pendek yang Cocok Dibaca Selama Perjalanan Haji

Doa dan dzikir pendek yang cocok dibaca selama perjalanan haji menjadi penenang hati sekaligus ikhtiar batin agar senantiasa dekat dengan-Nya

Diterbitkan 28 Mei 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan haji adalah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan fisik, mental, dan spiritual. Di tengah hiruk-pikuk bandara, deru mesin pesawat, serta perjalanan darat yang melelahkan, doa dan dzikir doa dan dzikir pendek yang cocok dibaca selama perjalanan haji menenangkan hati dan mengingatkan jamaah pada tujuan utama: menghamba dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Doa dan dzikir merupakan bagian pokok dari ibadah haji karena keduanya adalah inti penghambaan dan puncak ketundukan kepada Allah SWT. Memadukan ikhtiar fisik dan kekuatan doa, setiap jamaah yang berangkat diharapkan pulang kembali ke tanah air dengan meraih predikat haji yang mabrur.

Merangkum buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, ebook Koleksi Doa & Zikir karya Ustaz Salehuddin bin Abu Samah, buku Kumpulan Doa Sehari-hari dari Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag) RI, serta sumber-sumber kredibel lainnya berikut adalah panduan lengkap doa dan dzikir pendek yang dapat diamalkan selama perjalanan haji.

1. Doa Sebelum Keluar Rumah (Langkah Awal yang Penuh Berkah)

Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan rumah menuju Tanah Suci, jamaah haji dianjurkan untuk melaksanakan salat sunnah safar dua rakaat terlebih dahulu. Setelah selesai, bacalah doa berikut sebagai bentuk permohonan kebaikan dan perlindungan bagi perjalanan .

Bacaan Arab:

الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانِي بِالْإِسْلَامِ وَأَرْشَدَنِي إِلَى أَدَاءِ مَنَاسِكِيْ حَاجًا بِبَيْتِهِ وَمُعْتَمِرًا بِمَشَاعِرِهِ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى النَّبِيِّ الْأُمِّي وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ بِكَ انْتَشَرْتُ وَإِلَيْكَ تَوَكَّمْتُ وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِي وَرَجَائِي

اللَّهُمَّ فَاكْفِنِي مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ لَهُ

اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ

Latin: Alḥamdu lillāhillażī hadānī bil-islāmi wa arsyadanī ilā adā'i manāsikī ḥājjan bibaitihī wa mu'tamiran bimasya'īrih. Allāhumma ṣalli 'alan-nabiyyil-ummiyyi wa 'alā ālihī wa aṣḥābihī ajma'īn. Allāhumma bika-ntasyartu wa ilaika tawakkaltu wa bika'taṣamtu. Allāhumma anta tsiqatī wa rajā'ī. Allāhumma fakfinī mā hammanī wa mā lā ahtammu lah. Allāhumma zawwidnit-taqwā, waghfir lī dzanbī wa wajjihnī lil-khairi ainamā tawajjahtu.

Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepadaku dengan Islam dan memberi bimbingan kepadaku untuk menunaikan manasik hajiku di rumah-Nya. Ya Allah, berilah salawat atas Nabi yang ummi beserta keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, bersama-Mu aku bertebaran, kepada-Mu aku menghadap dan dengan-Mu aku berpegang teguh. Engkau kepercayaanku dan harapanku. Maka lindungilah aku dari sesuatu yang menyusahkan. Bekalilah aku dengan takwa, ampunilah dosaku, dan hadapkanlah wajahku pada hal-hal yang baik ke mana pun aku menghadap."

Dalam kitab Al-Adzkar, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa doa ini mencakup tiga permohonan sekaligus: petunjuk spiritual (hidayah), perlindungan dari bahaya, dan kelancaran dalam setiap langkah. Beliau menekankan bahwa membaca doa ini sebelum berangkat haji adalah bentuk ikhtiar batin yang melengkapi persiapan fisik.

2. Doa Keluar Rumah (Memulai Perjalanan)

Ketika kaki hendak melangkah keluar dari pintu rumah, bacalah doa singkat namun penuh makna ini :

Bacaan Arab: بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Latin: Bismillāhi tawakkaltu 'alallāh, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh

Artinya: "Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Doa ini diriwayatkan oleh HR. Abu Daud dan Imam at-Tirmidzi. Rasulullah SAW bersabda bahwa barangsiapa membacanya saat keluar rumah, maka akan dikatakan kepadanya, "Engkau telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dijaga. Setan pun akan menjauh darimu."

3. Doa Setelah Duduk di Kendaraan/Pesawat

Saat jamaah sudah duduk di pesawat atau kendaraan, sebelum perjalanan dimulai, bacalah doa berikut :

Bacaan Arab:

بِسْمِ اللهِ الْمَالِكِ الرَّحْمَنِ

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Latin: Bismillāhil-mālikir-raḥmān. Wa mā qadarullāha ḥaqqa qadrihī wal-arḍu jamī'an qabḍatuhū yaumal-qiyāmah, was-samāwātu maṭwiyyātun biyamīnih, subḥānahū wa ta'ālā 'ammā yusyrikūn. Bismillāhi majrāhā wa mursāhā, inna rabbī laghafūrur-raḥīm.

Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Menguasai lagi Maha Pengasih. Tiada yang mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan kekuasaan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. Dengan nama Allah di waktu berangkat dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." 

4. Doa Ketika Pesawat/Kendaraan Mulai Berjalan

Setelah kendaraan mulai bergerak, bacalah doa ini sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan kemudahan serta perlindungan sepanjang perjalanan :

Bacaan Arab:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ وَالْوَلَدِ

Latin: Subḥānal-ladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas'aluka fī safarinā hādzal-birra wat-taqwā wa minal-'amali mā tarḍā. Allāhumma hawwin 'alainā safaranā hādzā waṭwi 'annā bu'dah. Allāhumma antas-ṣāḥibu fis-safari wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma innī a'ūdzu bika min wa'tsā'is-safari, wa kā'abatil-manẓari, wa sū'il-munqalabi fil-māli wal-ahli wal-walad.

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini dan dekatkanlah kejauhannya. Ya Allah, Engkaulah teman dalam bepergian dan pelindung bagi keluarga yang ditinggalkan. Aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan, dan kepulangan yang menyusahkan dalam harta, keluarga, dan anak."

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam kitab Fiqih Do'a dan Dzikir menjelaskan bahwa doa ini mengandung nilai tauhid yang sangat tinggi. Dengan mengakui bahwa kendaraan dan kemampuan mengendarainya adalah karunia Allah, seorang hamba dilatih untuk senantiasa rendah hati dan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. 

5. Zikir Utama Sepanjang Perjalanan Haji: Talbiyah

Talbiyah adalah "pakaian spiritual" sekaligus "syi'ar haji" yang paling utama . Bacaan ini dilantunkan sejak jamaah berniat ihram hingga tiba di Masjidil Haram untuk memulai tawaf. Suara talbiyah yang bergema dari jutaan jamaah adalah pemandangan spiritual yang paling mengharukan di Tanah Suci .

Bacaan Arab: لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ

Latin: Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni'mata laka wal mulka la syarika lak

Artinya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu."

Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar RA bahwa Rasulullah SAW melafalkan talbiyah ini saat memulai ibadah haji dan umrah.

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa talbiyah adalah inti dari panggilan hati seorang Muslim. Setiap kata dalam talbiyah mengandung makna ketundukan total (istikamah), pengakuan akan keesaan Allah (tauhid), dan pelepasan diri dari segala bentuk kesombongan duniawi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahkan menyebut talbiyah sebagai "doanya para nabi" yang diwariskan dari Nabi Ibrahim AS. 

6. Doa Kendaraan Darat (Antar-Kota di Tanah Suci)

Selama di Tanah Suci, jamaah akan sering berpindah tempat antara Makkah, Mina, Arafah, Muzdalifah, dan Madinah. Perjalanan antar kota ini bisa memakan waktu berjam-jam. Doa pendek ini dapat dibaca saat berada di dalam bus :

Bacaan Arab: سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Latin: Subḥānal-ladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn.

Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali."

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa ini mengajarkan manusia untuk tidak pernah merasa "berkuasa" atas apa pun, termasuk kendaraan yang ditumpangi. Kesadaran ini akan membuat hati seorang jamaah haji tetap rendah hati (tawadhu') meskipun sedang menikmati fasilitas perjalanan yang nyaman. 

Doa Memasuki Kota Makkah dan Masjidil Haram

Setibanya di Kota Makkah dan saat hendak memasuki Masjidil Haram untuk pertama kalinya, bacalah doa berikut:

Bacaan Arab (Masuk Kota Makkah):

اللَّهُمَّ هَذَا حَرَمُكَ وَأَمْنُكَ فَحَرِّمْ لَحْمِي وَدَمِي وَشَعْرِي وَبَشَرِي عَلَى النَّارِ

Latin: Allāhumma hādzā ḥaramuka wa amnuka faḥarrim laḥmī wa damī wa sya'rī wa basyarī 'alan-nār.

Artinya: "Ya Allah, ini adalah tanah haram-Mu dan tempat yang aman. Maka haramkanlah dagingku, darahku, rambutku, dan kulitku dari sentuhan api neraka."

Bacaan Arab (Masuk Masjidil Haram):

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ

Latin: Allāhumma antas-salām wa minkas-salām, fahayyinā rabbanā bis-salām.

Artinya: "Ya Allah, Engkaulah sumber keselamatan, dari-Mulah datangnya keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan dengan keselamatan."

Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin menjelaskan bahwa doa memasuki Masjidil Haram ini menumbuhkan rasa haru, aman, dan kedamaian sekaligus mengingatkan bahwa hanya Allah-lah Zat yang memberi keselamatan sejati. Saat melangkahkan kaki ke masjid suci ini, seorang jamaah dianjurkan untuk merasakan seakan-akan ia sedang masuk ke "istana rahmat" Allah SWT.

Doa di Arafah, Muzdalifah, dan Mina

Tiga tempat ini—Arafah, Muzdalifah, dan Mina—adalah lokasi puncak ibadah haji yang penuh dengan keutamaan. Sepanjang berada di tempat-tempat ini, jamaah dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, talbiyah, membaca Al-Qur'an, dan berdoa dengan khusyuk karena tempat-tempat ini termasuk lokasi yang mustajab untuk berdoa .

Zikir yang Dianjurkan:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Latin: Subḥānallāh, wal-ḥamdulillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar

Artinya: "Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar."

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' al-Fatawa menyatakan bahwa waktu wukuf di Arafah adalah waktu di mana Allah SWT mendekat kepada hamba-hamba-Nya dan membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Tidak ada waktu yang lebih utama untuk berdoa selain di hari Arafah ini.

Dalam buku panduan haji Kemenag RI (2024), disebutkan bahwa selama di Muzdalifah dan Mina, jamaah disunahkan untuk memperbanyak takbir, tahlil, dan dzikir karena kedua tempat ini juga termasuk lokasi yang mustajab untuk berdoa . Di Mina, setelah melontar jumrah, jamaah dianjurkan untuk berhenti sejenak dan memanjatkan doa dengan penuh harap.

Hikmah Berdzikir Selama Perjalanan Haji

Berikut adalah lima mutiara hikmah yang dapat dipetik jika seorang jamaah haji membiasakan diri berdzikir sepanjang perjalanan:

1. Mendapatkan Keistimewaan Doa Musafir yang Mustajab

Rasulullah SAW menyebutkan dalam sebuah hadis bahwa doa seorang musafir (orang yang bepergian) termasuk salah satu doa yang mustajab. Kesulitan, kepenatan, dan keterasingan perjalanan menjadi faktor yang meluluhkan hati, sehingga doa lebih mudah terangkat dan dikabulkan oleh Allah SWT. Inilah mengapa jamaah haji yang sedang dalam perjalanan dianjurkan untuk memperbanyak doa, karena setiap untaian doanya memiliki peluang besar untuk diijabah.

2. Mewujudkan Haji Mabrur Melalui Ketundukan Hati

Setiap dzikir yang dilantunkan, terutama talbiyah yang diucapkan berulang kali, adalah bentuk deklarasi ketundukan total seorang hamba kepada Allah SWT. Haji mabrur adalah haji yang di dalamnya tidak ada riya' (pamer) dan sum'ah (ingin didengar orang). Dzikir yang terus-menerus melatih hati untuk tetap fokus hanya kepada Allah, membersihkan niat, dan pada akhirnya mengantarkan jamaah meraih predikat haji mabrur yang diterima di sisi Allah SWT .

3. Meluluhkan Hati dan Menumbuhkan Rasa Rendah Hati (Tawadhu')

Berdoa dan berdzikir dengan suara yang lembut dan penuh harap—seperti saat melantunkan talbiyah di padang Arafah—dapat membuat fisik yang lelah menjadi terasa ringan. Ini adalah latihan ruhani untuk menumbuhkan kerendahan hati (tawadhu') dan menyadari betapa kecilnya kita di hadapan kebesaran Allah. Hati yang luluh karena dzikir akan membuat seorang jamaah lebih mudah memaafkan, lebih sabar menghadapi kepadatan jamaah, dan lebih peka terhadap sesama .

4. Membentengi Diri dari Bahaya dan Gangguan Setan

Perjalanan haji yang panjang sarat dengan berbagai risiko, baik fisik maupun spiritual. Membaca doa keluar rumah dan doa kendaraan secara istikamah adalah perisai spiritual yang menyelamatkan jamaah dari kecelakaan, musibah, serta godaan setan yang selalu berusaha menghalangi manusia dari kebaikan. Dzikir juga berfungsi sebagai "benteng iman" yang menjaga hati dari bisikan-bisikan negatif yang dapat merusak kekhusyukan ibadah .

5. Mengokohkan Niat, Ikhlas, dan Istiqamah setelah Haji

Membaca talbiyah secara berulang dengan lantang sepanjang perjalanan mengokohkan niat di dalam hati bahwa kita datang semata-mata karena panggilan Allah. Ini membersihkan hati dari sifat riya' (pamer) dan sum'ah. Lebih dari itu, dzikir yang terus dilatih selama perjalanan haji akan menjadi kebiasaan yang terbawa setelah kembali ke tanah air. MUI mengingatkan bahwa seorang yang telah haji harus senantiasa bermuhasabah, tidak sombong, dan mampu mempertahankan spirit haji dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan menjaga kebiasaan berdzikir.