70 Quotes Ustadz Salim A Fillah, Inspiratif dan Menyejukkan

Quotes Ustadz Salim A Fillah tak hanya indah, namun memiliki makna mendalam, menyejukkan dan menjadi penguat ukhuwah

Diterbitkan 28 April 2026, 23:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Quotes Ustadz Salim A Fillah menjadi pilihan yang tepat bagi yang mendambakan kesejukan hati. Sebagai pendakwah dan penulis produktif, Salim Fillah dikenal luas melalui karyanya yang menyentuh nurani, khususnya buku Dalam Dekapan Ukhuwah.

Kalimatnya disusun indah, sarat makna kehidupan, cinta, dan juga persaudaraan. Di antara kekuatan dakwahnya adalah pilihan bahasanya.

Jurnal Strategi Komunikasi Dakwah Ustadz Salim A. Fillah karya Khairul Amal mengulas bahwa kekuatan pesan beliau terletak pada diksi sastra yang sangat memikat. Dia mampu memberikan nasihat agama tanpa menggurui, sehingga pembaca dan pendengarnya merasa direngkuh dalam kehangatan ukhuwah serta sarat dengan berbagai nilai-nilai luhur hikmah kebijaksanaan hidup.

Artikel ini menyajikan kompilasi 70 kutipan Ustadz Salim A Fillah yang dirangkum dari berbagai karya beliau serta sumber relevan lainnya. Simak selengkapnya.

Quotes Ustadz Salim A Fillah, I. Ukhuwah dan Persaudaraan

1. "Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi."

2. "Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah."

3. "Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji."

4. "Dalam dekapan ukhuwah, kelembutan nurani menuntun kita untuk menjadi anak Adam sejati; memiliki kesalahan, mengakuinya, memperbaikinya, dan memaafkan sesama."

5. "Semua orang yang ada dalam hidup kita, bahkan yang paling menyakiti kita, diminta untuk ada di sana agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka."

6. "Keputusan yang salah dari sebuah musyawarah, jauh lebih baik daripada pendapat pribadi betapapun benarnya."

7. "Bersabarlah, dalam syuraa, juga dalam dekapan ukhuwah."

8. "Alangkah syahdu menjadi kepompong; berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan."

9. "Tetapi bila tiba waktu untuk jadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari; melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia."

10. "Mutiara yang bersatu di kalung perhiasan, harus rela ditusuk jarum agar benang menyatukan. Berjama'ah mungkin melukai, tapi ia memberi arti."

11. "Aku mencintai kalian karena Allah."

12. "Tiap hubungan yang tak didasari iman akan jadi sia-sia."

13. "Baik iman maupun ukhuwah, memerlukan upaya untuk meneguhkan dan menyuburkannya."

14. "Persaudaraan tak perlu dirisaukan, karena ia hanyalah akibat dari iman."

15. "Saat ikatan melemah, saat keakraban merapuh, aku tahu yang rombeng bukan ukhuwah kita, hanya iman kita yang sedang sakit." 

II. Cinta dan Pengorbanan

16. "Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai."

17. "Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan."

18. "Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan."

19. "Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan."

20. "Lakukanlah kerja jiwa dan raga untuk mencintainya."

21. "Kerjakan cinta yang kumaksud agar kau temukan cinta yang kau maksudkan. Karena cinta adalah kata kerja."

22. "Cinta, mata airnya adalah niat baik dari hati yang tulus."

23. "Aku bukan tak sabar, hanya tak ingin menanti. Karena berani memutuskan adalah juga kesabaran."

24. "Terkadang penantian membuka pintu-pintu syaithan."

25. "Kecintaan pada diri harus berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta.

III. Kehidupan, Sabar, dan Syukur

26. "Jalan surga sering sederhana."

27. "Di antara nikmat terindah, kepekaan hati untuk mengenali kunci-kunci surga yang sering tersempil pada hal-hal sederhana, lalu bertindak mulia."

28. "Setiap hari adalah baru, sekaligus fana."

29. "Seyogianya bagi yang dilimpahkan karunia, ikatlah dengan syukur."

30. "Jagalah nikmat dengan taat, rawatlah dengan kerendahan hati, agar tumbuh dan lestari."

31. "Mari belajar bersyukur hingga syukur itu lebih nikmat daripada nikmat yang disyukuri."

32. "Sebab 'mampu bersyukur' memang karunia yang jauh lebih tinggi."

33. "Jika sedikit tidak tersyukuri, banyak pun tak mencukupi."

34. "Jika dalam sempit tak terlatih memberi, dalam lapang pun akan susah berbagi."

35. "Saat terindah adalah ketika mampu memberi manfaat."

36. "Yang berharga ialah bersyukur pada Allah atas itu, yang termulia adalah mengikhlaskannya."

37. "Kekhawatiran tak menjadikan bahayanya membesar. Hanya dirimu yang mengerdil."

38. "Tenanglah, semata karena Allah bersamamu. Maka tugasmu hanya berikhtiar."

39. "Batas insani: Jika tak memberi manfaat, jangan membahayakan."

40. "Jika tak memperbaiki, jangan merusak; jika tak membangun, jangan menghancurkan."

41. "Kita yang menjalani hidup dengan mengalir seperti air, mungkin lupa bahwa air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah."

42. "Tak ada yang terlalu baik untuk boleh berhenti dari berkebaikan."

43. "Dan angin pun memeluknya, dalam sejuk wangi surga."

44. "Ya Allah, dalam dekapan ukhuwah kami memohon lisan yang shiddiq dan hati yang tulus."

45. "Berkilaulah, dalam dekapan ukhuwah."

IV. Muhasabah dan Penyucian Jiwa

46. "Kita kadang merasa lebih benar, lebih baik, lebih tinggi, dan lebih suci dibanding mereka yang kita nasehati."

47. "Jika kau merasa besar, periksa hatimu. Mungkin ia sedang bengkak."

48. "Jika kau merasa suci, periksa jiwamu. Mungkin itu putihnya nanah dari luka nurani."

49. "Jika kau merasa tinggi, periksa batinmu. Mungkin ia sedang melayang kehilangan pijakan."

50. "Jika kau merasa wangi, periksa ikhlasmu, mungkin itu asap dari amal shalihmu yang hangus dibakar riya'."

51. "Yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca."

52. "Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya."

53. "Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya."

54. "Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat."

55. "Apakah surga dan ridha-Nya tak lagi menarik bagi hati, hingga fadhilah dunia yang kita kejar dan perbesar-besar?"

56. "Di antara tanda kebaikan adalah kebahagiaan dalam ketaatan dan berduka menyesali kemaksiatan."

57. "Menjadikan hobinya sebagai wasilah manfaat bagi sesama adalah tanda kebaikan."

58. "Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura."

59. "Maka Allah dan Rasul-Nya meletakkan ukuran iman dalam kualitas hubungan dengan sesama."

60. "Sebaik-baik amal adalah yang paling tulus meski tersembunyi dari pandangan manusia."

V. Iman, Ketaatan, dan Strategi Dakwah

61. "Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang mampu menimbulkan perubahan sikap pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses komunikasi."

62. "Komunikasi ala nabi adalah komunikasi yang disampaikan selama nabi berinteraksi dengan umatnya dalam rangka menyampaikan dan menyebarkan dakwah Islam."

63. "Ada tiga indikator penting yang harus dimiliki oleh seorang komunikator, yaitu kredibilitas, daya tarik dan kekuatan."

64. "Penyampaian pesan yang mengandung hikmah, membangkitkan semangat juang, dibalut dengan diksi-diksi sastra dan juga diksi yang bersifat humoris."

65. "Dalam berdakwah, seorang da'i tentu akan menghadapi banyak tantangan. Di setiap zaman, tantangan yang dihadapi juga berbeda-beda."

66. "Di era revolusi industri 4.0 ini, seorang da'i dituntut untuk melek terhadap perkembangan teknologi, serta kecepatan dan kemudahan dalam mengakses informasi."

67. "Sebab Al-Qur'an turun dari langit, menyimak keindahan dan maknanya akan membuatmu memiliki pandangan dari ufuk tinggi."

68. "Jika memang belum hadir ilmu, tak perlu kita malu tuk berkata, 'Aku tak tahu'."

69. "Dengan mengakui ketidaktahuan, Allah-lah nan jadi guru, membimbing kita selalu."

70. "Hanya yang mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati."

People also Ask:

1. Apa makna dari kutipan, "Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi"?

Kutipan ini bermakna bahwa persaudaraan (ukhuwah) sejati bersumber dari keimanan dan cinta kepada Allah (langit), yang kemudian diwujudkan melalui kasih sayang dan kebaikan kepada sesama manusia (bumi).

2. Bagaimana Ustadz Salim A. Fillah mendefinisikan makna cinta dan pengorbanan?

Beliau menegaskan bahwa mencintai tidak selalu berarti harus memiliki, melainkan tentang kerelaan berkorban untuk kebahagiaan orang yang dicintai, karena cinta pada hakikatnya adalah "kata kerja" yang butuh tindakan nyata.

3. Apa pesan beliau mengenai pentingnya introspeksi diri (muhasabah) saat melihat kesalahan orang lain?

Beliau mengingatkan bahwa ketika kita menemukan cela pada sesama, yang sebenarnya paling butuh diperbaiki adalah diri kita sendiri yang sedang "bercermin" pada kesalahan orang tersebut, bukan justru merasa lebih suci.

4. Menurut kutipan Ustadz Salim A. Fillah, apa hakikat tertinggi dari sebuah rasa syukur?

Hakikat tertinggi dari syukur adalah ketika kita bisa belajar bersyukur hingga tindakan "syukur" itu sendiri terasa jauh lebih nikmat dibandingkan dengan nikmat atau materi yang sedang kita syukuri.

5. Mengapa Ustadz Salim A. Fillah memandang bahwa sebuah persaudaraan (ukhuwah) yang melemah sebenarnya adalah masalah iman?

Karena ukhuwah hanyalah akibat atau buah dari keimanan. Jika ikatan persaudaraan merapuh atau penuh prasangka, itu menandakan bahwa iman di dalam hati sedang sakit dan perlu disembuhkan.