Liputan6.com, Jakarta - Ada dua momen yang begitu penting dalam aktivitas berpuasa Ramadan, sahur dan berbuka puasa. Namun, keduanya kerap kehilangan makna lantaran berbagai penyebab. Untuk itu, ada baiknya kita mulai mengenal konsep mindful eating saat sahur dan berbuka sesuai adab Islami.
Dalam Islam, kedua aktivitas ini memiliki makna ibadah yang begitu mendalam. Namun, seringkali dilakukan terburu-buru yang akhirnya kehilangan esensi dan keberkahannya. Di sinilah konsep mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh menemukan relevansinya, mengajak umat Islam hadir dalam setiap suapan dan menyadari bahwa makanan adalah anugerah yang patut disyukuri.
Merujuk Jurnal Mindful Eating Berbasis Al-Qur'an untuk Menurunkan Kecemasan Antenatal: Pendekatan Participatory Action Research, oleh Lely Arwani, dkk, mindful eating adalah praktik yang telah lama diajarkan dalam Islam melalui konsep halalan thayyiban, kesederhanaan, dan kehadiran hati saat makan. Berikut ini ulasan selengkapnya.
Advertisement
Mindful Eating dalam Bingkai Sejarah Islam
Yang menarik, ketika kita membuka kembali sumber-sumber Islam, kita menemukan bahwa praktik makan dengan kesadaran (mindful eating) penuh telah diajarkan sejak 14 abad lalu. Hafizi dkk. dalam penelitiannya menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad SAW tidak serta-merta menghapus budaya Arab pra-Islam, melainkan melakukan transformasi bertahap dengan menyuntikkan nilai-nilai tauhid ke dalam tradisi yang ada.
Budaya Arab pra-Islam memiliki kebiasaan berkumpul dan berbagi makanan saat petang. Ketika Islam datang, Nabi mengarahkan praktik ini menjadi tradisi iftar, berbuka puasa di bulan Ramadan, yang diisi dengan doa, kebersamaan, dan kepedulian sosial.
Beliau juga mengajarkan adab-adab makan yang sarat dengan nilai kesadaran: membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, mengambil makanan yang terdekat, tidak mencela makanan, dan berhenti sebelum kenyang.
Mengutip teori Ali Sodikin tentang tiga bentuk interaksi Al-Qur'an dengan budaya Arab: tahmil (mengadopsi), taghyir (mengubah), dan tahrim (mengharamkan). Dalam konteks makan, Islam mengadopsi kebiasaan makan kurma dan air sebagai makanan berbuka, tetapi mengubah cara pandang terhadapnya, dari sekadar konsumsi menjadi ibadah yang penuh kesadaran dan syukur.
Advertisement
Prinsip Halalan Thayyiban, Fondasi Mindful Eating Islami
Konsep halalan thayyiban dalam Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 168) menjadi fondasi utama mindful eating dalam perspektif Islam. "Halal" berarti diperbolehkan secara syariat, sementara "thayyib" berarti baik, berkualitas, dan bermanfaat bagi tubuh.
Firrahmawati dkk dalam Jurnal Mindful Eating Berbasis Al-Qur'an untuk Menurunkan Kecemasan Antenatal: Pendekatan Participatory Action Research, mengintegrasikan prinsip ini ke dalam modul edukasi mindful eating bagi ibu hamil.
Prinsip thayyiban mencakup beberapa aspek:
- Baik secara zat: makanan bergizi dan tidak membahayakan tubuh
- Baik secara cara perolehan: diperoleh dengan cara yang halal dan etis
- Baik secara cara konsumsi: tidak berlebihan dan sesuai adab
Inilah mindful eating versi Islam: makan tidak sekadar memenuhi perut, tetapi proses sakral yang melibatkan kesadaran penuh akan hubungan kita dengan Allah (sumber rezeki), dengan tubuh (amanah yang harus dijaga), dan dengan sesama (melalui berbagi).
Panduan Praktis Mindful Eating Saat Sahur
Rasulullah SAW bersabda, "Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur terdapat keberkahan" (HR. Bukhari dan Muslim). Keberkahan ini tidak hanya bermakna spiritual, tetapi juga medis.
Penelitian modern membuktikan bahwa sahur yang sehat membantu menjaga stabilitas gula darah, mencegah dehidrasi, dan memberikan energi berkelanjutan selama puasa. Namun, keberkahan sahur hanya akan diperoleh jika dilakukan dengan kesadaran penuh, bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau mengisi perut asal kenyang.
Berdasarkan integrasi nilai-nilai Islam dan prinsip mindful eating, berikut panduan praktis yang dapat diterapkan:
1. Niat dan Kesadaran Awal
Bangunlah dengan kesadaran bahwa sahur adalah ibadah. Sebelum menyentuh makanan, duduklah sejenak, hadirkan niat dalam hati: "Aku makan sahur untuk mendapatkan keberkahan dan kekuatan menjalankan puasa karena Allah." Kesadaran ini mengubah aktivitas makan dari rutinitas biologis menjadi ritual spiritual.
2. Memilih Makanan yang Thayyib
Pilihlah makanan yang bergizi dan bermanfaat bagi tubuh. Dalam penelitian Firrahmawati dkk., peserta diajarkan menyusun menu sehat sesuai prinsip halalan thayyiban. Untuk sahur, kombinasikan:
- Karbohidrat kompleks (nasi merah, oat, roti gandum) untuk energi tahan lama
- Protein (telur, ikan, ayam, kacang-kacangan) untuk menjaga rasa kenyang
- Serat (sayur dan buah) untuk kesehatan pencernaan
- Air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi
3. Membaca Basmalah dengan Hadir Hati
Rasulullah mengajarkan untuk membaca basmalah sebelum makan. Lebih dari sekadar ucapan lisan, basmalah seharusnya diresapi maknanya: bahwa makanan ini adalah rezeki dari Allah, dan kita memohon keberkahan di dalamnya.
4. Makan dengan Perlahan dan Penuh Perhatian
Mindful eating mengajarkan makan perlahan, mengunyah dengan baik, dan menikmati setiap suapan. Ini selaras dengan sunnah yang melarang tergesa-gesa saat makan. Dengan makan perlahan, sistem pencernaan bekerja optimal, sinyal kenyang lebih mudah dikenali, dan kita lebih mudah merasa puas dengan porsi yang cukup.
5. Mengenali Sinyal Kenyang
Rasulullah bersabda, "Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus makan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafasnya" (HR. Tirmidzi). Prinsip ini sejalan dengan mindful eating: berhentilah sebelum kenyang, bukan saat kekenyangan.
6. Menghindari Distraksi
Hindari makan sambil menonton televisi, bermain ponsel, atau membaca berita. Distraksi membuat kita kehilangan kesadaran, cenderung makan lebih banyak, dan kehilangan momen spiritual. Fokuskan perhatian pada makanan dan kebersamaan dengan keluarga.
7. Menutup dengan Doa dan Syukur
Setelah selesai, bacalah doa: "Alhamdulillahilladzi ath'amana wa saqana wa ja'alana minal muslimin" (Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami termasuk muslimin). Syukur ini mengokohkan kesadaran bahwa makanan adalah nikmat, bukan hak.
Advertisement
Panduan Praktis Mindful Eating Saat Berbuka
1. Menyegerakan Berbuka dengan Kesadaran
Rasulullah menganjurkan menyegerakan berbuka. Namun, "menyegerakan" tidak berarti "tergesa-gesa". Begitu adzan maghrib berkumandang, hentikan aktivitas, ambil kurma atau air, dan bacalah doa berbuka dengan hadir hati:
"Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu, dzahaba alzhama wabtallat al-'uruq wa tsabata al-ajru in sya Allah"(Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dengan rezeki-Mu aku berbuka, telah hilang dahaga, basah urat-urat, dan tetap pahala insya Allah).
Doa ini bukan sekadar ritual. Ia adalah pernyataan kesadaran bahwa puasa dilakukan karena Allah, berbuka juga dengan rezeki-Nya, dan semua ini adalah ibadah yang berpahala.
2. Berbuka dengan Ringan
Ikuti sunnah: mulailah dengan kurma (3-7 butir) atau air putih. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi cara paling bijak untuk "membangunkan" sistem pencernaan secara bertahap. Tunggu beberapa saat sebelum melanjutkan makan berat—beri waktu tubuh untuk mengirim sinyal kenyang.
3. Makan Bertahap, Bukan Sekaligus
Setelah shalat maghrib, barulah lanjutkan dengan makan besar. Namun, tetaplah makan dengan porsi wajar. Ingat hadits tentang sepertiga perut: sepertiga untuk makanan, sepertiga minuman, sepertiga udara. Mindful eating mengajarkan untuk makan sampai 80% kenyang, bukan 100%.
4. Hadirkan Rasa Syukur
Saat menikmati hidangan berbuka, resapi nikmatnya: setelah seharian lapar dan haus, betapa lezatnya seteguk air dan sesendok makanan. Kesadaran ini menumbuhkan syukur yang mendalam—sesuatu yang sering hilang ketika kita selalu dalam keadaan kenyang.
5. Berbagi dengan Sesama
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun" (HR. Tirmidzi). Mindful eating juga berarti menyadari bahwa tidak semua orang seberuntung kita. Berbagi makanan berbuka, baik dengan tetangga, kerabat, atau mereka yang membutuhkan, memperluas kesadaran dari diri sendiri ke komunitas.
6. Nikmati Kebersamaan
Tradisi iftar jama'i mengajarkan bahwa makan bersama keluarga dan komunitas memiliki nilai tersendiri. Saat berbuka bersama, kita tidak hanya berbagi makanan, tetapi juga kehangatan, cerita, dan doa. Ini adalah mindful eating dalam dimensi sosial.
Manfaat Mindful Eating saat Sahur dan Berbuka
Manfaat minful eating saat sahur dan berbuka puasa meliputi berbagai perspektif.
Perspektif Kesehatan Fisik
Penelitian modern telah membuktikan beragam manfaat mindful eating yang relevan dengan konteks puasa:
- Pencernaan lebih optimal: Makan perlahan memberi waktu enzim pencernaan bekerja, mengurangi risiko gangguan pencernaan seperti kembung dan asam lambung.
- Kontrol berat badan: Dengan mengenali sinyal kenyang, kita terhindar dari makan berlebihan yang sering terjadi saat berbuka.
- Stabilisasi gula darah: Makan bertahap dan memilih makanan yang tepat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah lonjakan drastis setelah berbuka.
- Hidrasi lebih baik: Kesadaran akan kebutuhan air membantu mencegah dehidrasi selama puasa.
- Kualitas tidur lebih baik: Makan tidak berlebihan saat sahur dan berbuka membuat tidur lebih nyenyak, terutama karena terhadap gangguan pencernaan.
Perspektif Kesehatan Mental
Penelitian Firrahmawati dkk. membuktikan bahwa intervensi mindful eating berbasis Al-Qur'an mampu menurunkan kecemasan secara signifikan pada ibu hamil (skor EPDS-3A turun dari 4,1 menjadi 2,7). Dalam konteks puasa, mindful eating membantu:
- Mengurangi stres: Makan dengan kesadaran menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan meningkatkan relaksasi.
- Meningkatkan regulasi emosi: Dengan menyadari hubungan antara emosi dan makan, kita terhindar dari emotional eating—kebiasaan makan saat stres, sedih, atau bosan.
- Meningkatkan fokus dan konsentrasi: Praktik mindfulness saat makan melatih otak untuk lebih fokus, yang bermanfaat dalam aktivitas sehari-hari.
- Membangun hubungan sehat dengan makanan: Tidak lagi memandang makanan sebagai musuh atau pelarian, tetapi sebagai nikmat dan sumber energi.
Perspektif Spiritual
Inilah dimensi yang membedakan mindful eating versi Islam dari versi sekuler:
- Meningkatkan ketakwaan: Kesadaran bahwa makan adalah ibadah menguatkan hubungan vertikal dengan Allah.
- Menumbuhkan syukur: Menikmati setiap suapan dengan hadir hati membuat kita lebih mudah bersyukur atas nikmat yang sering dianggap remeh.
- Melatih disiplin diri: Mengendalikan nafsa makan adalah bagian dari pengendalian diri yang merupakan inti puasa.
- Memperkuat empati: Kesadaran akan nikmat makanan mendorong kepedulian kepada mereka yang kekurangan.
- Keberkahan dalam rezeki: Dengan makan secukupnya dan penuh kesadaran, kita merasakan keberkahan yang dijanjikan dalam sahur dan berbuka.
Advertisement
Tantangan Penerapan Mindful Eating saat Sahur dan Berbuka serta Solusinya
Dalam praktiknya, menerapkan mindful eating saat sahur dan berbuka tidak selalu mudah. Beberapa tantangan umum dan solusinya:
1. Keterbatasan Waktu Saat Sahur
Banyak orang bangun mepet imsak sehingga sahur dilakukan terburu-buru.
Solusi: Niatkan untuk bangun lebih awal meski hanya 15-20 menit. Waktu ekstra ini cukup untuk makan dengan tenang dan khusyuk. Ingatlah bahwa pahala sahur bukan terletak pada banyaknya makanan, tetapi pada keberkahannya.
2. Godaan Makan Berlebihan Saat Berbuka
Setelah seharian lapar, wajar jika ingin "membalas" dengan berbagai hidangan lezat.
Solusi: Ingat hadits tentang sepertiga perut. Mulailah dengan kurma dan air, lalu shalat maghrib. Setelah shalat, rasa lapar biasanya sudah berkurang sehingga kita bisa makan dengan lebih terkontrol.
3. Distraksi Teknologi
Kebiasaan makan sambil menonton TV atau scrolling media sosial sangat mengganggu kesadaran.
Solusi: Ciptakan aturan keluarga: saat sahur dan berbuka, jauhkan ponsel dan matikan televisi. Jadikan momen makan sebagai waktu berkualitas bersama keluarga.
4. Tekanan Sosial
Acara buka bersama dengan teman atau kerabat seringkali mendorong makan berlebihan karena sungkan atau ikut-ikutan.
Solusi: Ingat bahwa mindful eating bukan berarti tidak bisa bersosialisasi. Nikmati kebersamaan, tetapi tetap kendalikan porsi. Fokus pada interaksi, bukan hanya pada makanan.
5. Kurangnya Dukungan Lingkungan
Mindful eating akan sulit dilakukan jika anggota keluarga lain tidak melakukannya.
Solusi: Ajak keluarga untuk bersama-sama mempraktikkan mindful eating. Penelitian Firrahmawati dkk. menunjukkan bahwa pembentukan komunitas (Mindful Mom Community) sangat efektif dalam mempertahankan perubahan perilaku.
People also Ask:
Mengapa umat Islam dianjurkan untuk mengonsumsi makanan sehat saat sahur dan berbuka?
Pentingnya Menu Sehat Saat Sahur Ramadan
Menu sahur Ramadan yang sehat berfungsi sebagai “bahan bakar” utama tubuh selama berpuasa. Asupan gizi yang tepat akan membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil, mencegah dehidrasi, serta mengurangi rasa lapar berlebihan di siang hari.
Sebaiknya makan apa saat berbuka puasa?
Awali dengan buka puasa dengan air, kurma, atau buah. Anda juga boleh mengonsumsi takjil yang tidak mengandung gula terlalu banyak. Setelah shalat Maghrib, konsumsi makanan utama yang seimbang, terdiri dari karbohidrat, protein, lemak sehat, dan sayuran.
Bagaimana adab makan dan minum menurut syariat Islam?
Rasulullah SAW menganjurkan untuk menggunakan tangan kanan saat makan dan minum. Ini tidak hanya mencerminkan adab, tetapi juga mengikuti sunnah Nabi. Makan dengan tangan kanan juga menghindarkan diri dari perilaku yang kurang baik. Mengonsumsi makanan secukupnya menunjukkan rasa syukur dan menjaga kesehatan.
Mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka puasa termasuk?
Salah satu sunnah yang sering dilupakan adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ "Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka." (HR Bukhari: 1957 dan Muslim: 1098).
Apa saja manfaat mengonsumsi makanan bergizi saat sahur dan berbuka bagi kebugaran tubuh selama berpuasa?
Membantu tubuh terhidrasi
Mengonsumsi buah dan sayur jenis ini saat berbuka dan sahur dapat membantu tubuh tetap terhidrasi selama berpuasa. Dengan begitu, kamu pun akan terhindar dari risiko dehidrasi serta tetap kuat untuk menjalani aktivitas sehari-hari meski sedang berpuasa.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5371798/original/091008600_1759721976-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__84_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4147880/original/044633900_1662436165-WhatsApp_Image_2022-09-06_at_10.36.26_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4775811/original/052863100_1710738724-Ilustrasi_anak__ibu__sahur__buka_puasa__Islami.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1257019/original/078121000_1465289908-sahur.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1607368/original/074451200_1496028031-LIP6_LOGO2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3428249/original/078718400_1618374148-053339400_1559536727-iStock-1134972492.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1619105/original/061499300_1496997418-ramadan-main.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3977835/original/066021800_1648524608-pexels-ahmed-aqtai-2233416_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2810105/original/026483700_1558322699-cdn2.tstaticdotnet_masjid-al-akbar-surabaya_20150616_182916.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2220482/original/035724700_1526813013-The_Blue_Mosque_at_night.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5450038/original/011940800_1766126206-Gemini_Generated_Image_n0zy6on0zy6on0zy.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2240141/original/037485200_1528257613-20180606-Bandung-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5529807/original/042591200_1773381736-unnamed__9_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528779/original/012654500_1773295183-2148501558.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5147850/original/001895800_1740973989-arti-imsak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528637/original/086410900_1773290364-davie.jpeg)