5 Cara Menyambut Ramadhan Sesuai Ajaran Rasulullah, Simak Penjelasannya

Menyambut Ramadhan dengan suka cita dan persiapan yang matang sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW adalah ibadah yang membuka pintu rahmat dan perlindungan ilahi

Diterbitkan 08 Januari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengetahui cara menyambut Ramadhan sesuai ajaran Rasulullah SAW adalah kunci untuk mengoptimalkan keberkahan bulan suci ini. Rasulullah tidak hanya mengajarkan puasa sebagai kewajiban, tetapi juga mencontohkan bagaimana mempersiapkan diri dan amalan-amalan di dalamnya.

Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa bergembira dengan datangnya bulan Ramadhan, Allah haramkan tubuhnya dari neraka” (HR. Al-Hakim).

Menyambut Ramadhan dengan suka cita dan persiapan yang matang adalah ibadah yang membuka pintu rahmat dan perlindungan ilahi. Imam Nawawi dalam kitab Riyadhush-Shalihin menjelaskan bahwa kegembiraan menyambut Ramadan harus diwujudkan dalam bentuk peningkatan amal ibadah, kedermawanan, dan persiapan ilmu.

Merujuk Jurnal The Momentum of the Holy Month of Ramadan in Increasing Social and Spiritual Piety for Muslim Society oleh Murni Parembai, dalam perspektif teologi Islam, Ramadhan bukan sekadar bulan puasa, melainkan madrasah ruhaniyah, sekolah pembinaan jiwa yang dirancang oleh Allah SWT untuk melahirkan manusia bertakwa. Berikut ini ulasannya.

 

1. Persiapan Ruhiyah & Spiritual

Dalam ebook Persiapan Menghadapi Bulan Ramadhan, Ustadz Abdul Hasib, LC menyebutkan sejumlah hal penting dalam persiapan Ramadhan, meliputi sebelum, pada bulan Ramadhan hingga setelah Ramadhan. Berikut ini penjelasannya.

a. Memperbanyak Puasa Sunnah

Pada bulan Sya'ban umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa Sunnah. Rasulullah SAW membiasakan puasa sunnah di bulan Sya‘ban sebagai pemanasan menuju Ramadan.

Hal termaktub dalam hadis riwayat Aisyah RA, berkata: ‘Rasulullah SAW berpuasa (di Sya‘ban) sampai kami mengira beliau tidak pernah berbuka.’” (HR. Bukhari & Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Beliau berpuasa hampir seluruh bulan Sya‘ban, menyambungkannya dengan Ramadan.” (HR. Tirmidzi, disebutkan dalam Riyadhush-Shalihin dan Fathul Bari).

Ustadz Abdul Hasib menjelaskan bahwa puasa Sya‘ban melatih kondisi ruhiyah dan fisik agar saat Ramadan tiba, tubuh sudah terbiasa berpuasa, sehingga ibadah dapat dijalankan dengan optimal.

b. Meningkatkan Amalan & Muhasabah

Bulan Sya‘ban dikenal sebagai bulan pengangkatan amal. Rasulullah SAW bersabda:“Itulah bulan yang sering dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadan, bulan diangkatnya amal kepada Allah. Aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i).

 

2. Persiapan Fisik dan Materi

Selain ruhiyah dan spiritual, umat Islam juga perlu mempersiapkan diri secara fisik dan materi untuk mengarungi bulan Ramadhan.

a. Menyiapkan Bekal (Harta)

Ramadhan adalah bulan santunan (muwaasah). Rasulullah SAW menjadi lebih dermawan di bulan ini.

Dalil:Ibnu Abbas RA berkata: “Rasulullah SAW adalah orang paling dermawan, terlebih di Ramadan saat bertemu Jibril.” (HR. Bukhari & Muslim).

Menyiapkan materi sebelum Ramadan bertujuan agar dapat leluasa bersedekah, memberi ifthar, dan berbagi kebahagiaan, baik kepada keluarga, sanak hingga orang yang membutuhkan.

b. Menjaga Kesehatan

Makan sahur dengan menu bergizi dan tidak berlebihan saat berbuka adalah sunnah yang mendukung stamina ibadah. Selain itu, penyesuaian aktivitas fisik juga perlu dilakukan dalam adaptasi di bulan Ramadhan.

 

3. Tarhib Ramadhan, Gembira Sambut Ramadhan

Di antara yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah Tarhib Ramadhan, yakni menyambut dengan kegembiraan. Masyarakat muslim Indonesia mengenal Tarhib Ramadhan, selayaknya tamu agung.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa bergembira dengan datangnya Ramadhan, Allah haramkan tubuhnya dari neraka.” (HR. Al-Hakim).

Istilah ini berasal dari kata bahasa Arab rahaba–yurahhibu yang berarti menyambut dengan luapan kebahagiaan lahir dan batin. Dalam kitab Riyadhush-Shalihin, Imam Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat senantiasa menyambut Ramadan dengan meningkatkan ibadah, doa, dan persiapan spiritual sejak bulan Sya‘ban, sebagai bentuk targhib (motivasi) untuk mencintai ketaatan.

Bentuk nyata Tarhib Ramadhan di masyarakat meliputi beragam aktivitas spiritual dan sosial, seperti pemantauan hilal (rukyatul hilal), sidang itsbat penentuan awal Ramadan, kirab obor, pawai shalawat, serta tradisi munggahan atau makan bersama keluarga sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi ini tidak hanya mempererat tali silaturahmi antarumat Muslim, tetapi juga menjadi wahana toleransi, misalnya melalui kegiatan berbagi takjil yang melibatkan berbagai kalangan, mencerminkan semangat Ramadan sebagai bulan penguatan sosial dan spiritual.

4. Memperdalam Ilmu dan Prioritas Ibadah

Taik kalah penting adalah persiapan ilmu, terutama ibadah dan muamalah di bulan Ramadhan. Hal ini bertujuan agar segala amal yang dilakukan memiliki landasan kuat dalam beribadah.

Sebab, Ramadan adalah momentum peningkatan kesalehan sosial dan spiritual, bukan sekadar ritual individual. Ilmu tersebut akan menjadi panduan saat menjalani ibadah pada bulan Ramadhan. 

Allah SWT berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Rasulullah SAW mengajarkan untuk membuat skala prioritas amal, seperti:

  • Tadarus Al-Qur’an (khatam 30 juz)
  • Shalat malam (tarawih & tahajud)
  • I‘tikaf di 10 hari terakhir
  • Memperbanyak zikir, doa, dan istighfar

5. Menjaga Lisan dan Memperbanyak Amalan

Menjaga Lisan dan Hati

Menjaga lisan dan hati merupakan inti dari ibadah puasa yang diajarkan Rasulullah SAW. Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari perkataan kotor, dusta, serta perbuatan yang dapat menyakiti orang lain.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang mencacimu atau mengajak bertengkar, katakanlah: ‘Aku sedang berpuasa’.”

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menekankan bahwa puasa yang hakiki adalah puasanya seluruh anggota tubuh, di mana lisan dijaga dari keburukan, hati dari prasangka buruk, dan mata dari hal-hal yang haram.

Memperbanyak Sedekah dan Santunan

Memperbanyak sedekah dan santunan di bulan Ramadan merupakan amalan yang sangat dianjurkan, karena pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadan.” (HR. Tirmidzi).

Bahkan, memberikan ifthar (makanan berbuka) meski hanya seteguk air atau sebutir kurma bernilai pahala yang besar. Ulama seperti Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni menjelaskan bahwa sedekah di bulan Ramadan tidak hanya membantu kaum dhuafa, tetapi juga membersihkan harta, mensucikan jiwa, dan mempererat hubungan sosial, sesuai dengan semangat Ramadan sebagai bulan kepedulian.

Menjaga Konsistensi Pasca-Ramadhan

Rasulullah mencontohkan dampak Ramadhan harus berlanjut walau sudah tidak berada di bulan suci tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam sejumlah parameter:

1. Ibadah Sunnah yang Konsisten

Rasulullah SAW mencontohkan bahwa amalan yang sedikit tetapi kontinu lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang terputus. Puasa Senin-Kamis dan shalat malam (tahajud) yang dilakukan secara rutin di luar Ramadan merupakan bentuk disiplin spiritual yang menjaga kesucian hati dan kedekatan dengan Allah.

Ibadah-ibadah sunnah ini berfungsi sebagai “penguat” iman yang mencegah kekeringan spiritual pasca-Ramadan, sekaligus melatih konsistensi sebagai cerminan ketakwaan sejati.

2. Kesalehan Sosial yang Terjaga

Kesalehan sosial adalah bukti nyata dari keimanan yang hidup. Menjaga silaturahmi, rutin bersedekah, dan mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari adalah manifestasi dari nilai-nilai Ramadan yang universal. Nabi SAW mengajarkan bahwa berbuat baik kepada sesama adalah bagian dari kesempurnaan iman.

Dengan menjaga kesalehan sosial, seorang Muslim tidak hanya memperkuat ikatan kemanusiaan, tetapi juga menebarkan rahmat dan kedamaian di tengah masyarakat.

3. Disiplin Spiritual yang Berkelanjutan

Disiplin spiritual adalah kemampuan untuk mempertahankan ritme ibadah, muhasabah (introspeksi diri), dan kontrol diri dalam segala kondisi, tidak hanya saat Ramadan. Ini mencakup kebiasaan membaca Al-Qur'an, berdzikir, menjaga niat ikhlas, serta mengelola waktu dengan orientasi akhirat.

Sebagaimana sabda Nabi SAW tentang amalan yang kontinu, disiplin spiritual yang berkelanjutan inilah yang mengubah Ramadan dari sekadar event tahunan menjadi madrasah sepanjang hidup untuk membentuk pribadi yang bertakwa.

People Also Ask:

Cara Rasulullah Menyambut Ramadhan?

Rasulullah ﷺ selalu menyambut bulan Ramadhan dengan penuh persiapan, baik secara spiritual maupun fisik. Salah satu bentuk persiapan beliau adalah dengan memperbanyak puasa di bulan Sya'ban.

5 Langkah Menyambut Ramadhan? 5 Persiapan Menyambut Ramadhan yang Bisa Dikerjakan Muslim

  • Membayar Utang Puasa.
  • Puasa Ramadhan adalah amalan wajib bagi setiap muslim. ...
  • Perbanyak Puasa Sunnah Syaban. ...
  • Membaca Al-Qur'an dan Mempelajarinya. ...
  • Membekali Diri dengan Ilmu tentang Puasa Ramadhan. ...
  • Berdoa dan Mempersiapkan Niat serta Kondisi Hati yang Gembira.

Apa yang dilakukan Rasulullah ketika Ramadhan?

Beliau selalu mengawali dan mengakhiri puasanya dengan cara yang khas, yaitu berbuka puasa menggunakan kurma dan air. Ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, berbukalah dengan kurma karena ada keberkahan di dalamnya.

Bagaimana cara Rasulullah berbuka puasa?

“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR Abu Dawud: 2356)