Niat Sholat Mutlak dan Tata Caranya yang Benar Sesuai Tuntutan Islam: Lengkap Doanya

Sholat mutlak adalah sholat sunnah yang tidak bersebab, bukan karena sedang masjid, bukan karena sholat qabilyyah, bukan sholat ba'diyyah dan bukan pula sholat fardhu

Diterbitkan 08 September 2025, 06:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sholat mutlaq (mutlak) merupakan salah satu sholat sunah yang dianjurkan. Banyak keutamaan sholat mutlak dan oleh sebab itu, umat Islam sebaiknya mengetahui niat sholat mutlak dan tata caranya yang benar sesuai sunnah.

Menurut Buku Risalah Tuntunan Sholat Dilengkapi Doa-Doa Mustajab karya Moh Rifai, pengertian sholat mutlak adalah sholat sunnah yang tidak bersebab, bukan karena sedang masjid, bukan karena sholat qabilyyah, bukan sholat ba'diyyah dan bukan pula sholat fardhu.

Dasar kesunnahan sholat mutlak berdasar Sabda Rasulullah, yang artinya: “Shalat adalah sebaik-baiknya apa yang yang disyariatkan. Barang siapa yang berkehendak maka perbanyaklah dan barang siapa yang berkehendak maka sedikitkanlah” (HR Ibnu Hibban).

Para ulama ahli fiqih menjadikan hadis di atas sebagai landasan untuk menghukumi bahwa sholat sunnah mutlak hukumnya sunnah. Artinya, jika dilakukan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak berdampak pada dosa.

Berikut ini adalah niat sholat mutlak, tata cara, keutamaan dan waktu terbaik pelaksanaannya.

Niat Sholat Mutlak

Imam Nawawi dalam Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab menjelaskan bahwa teknis shalat sunnah mutlak boleh dilakukan dengan satu kali salam dalam setiap satu rakaat, dua rakaat, tiga rakaat, atau lebih. Boleh juga dilakukan dengan satu kali salam dalam setiap dua rakaat. Juga boleh mengerjakan banyak rakaat dengan satu kali salam.

Berikut bacaannya untuk 2 rakaat, sebagaimana yang lazimnya diamalkan umat Islam.

 أُصَلِّيْ سُنَّةً رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Ushallî sunnatan rak’ataini lillâhi ta’âla

Artinya, “Saya niat shalat sunnah dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Tata Cara Sholat Mutlak

Berikut ini adalah tata cara sholat mutlak 2 rakaat:

Rakaat Pertama

  • Takbiratul Ihram sambil niat di dalam hati.
  • Doa Iftitah (bisa dibaca seperti pada sholat wajib).
  • Al-Fatihah.
  • Membaca surat Al-Qur'an (bebas, tidak ditentukan).
  • Ruku’ dengan tuma’ninah.
  • I’tidal.
  • Sujud pertama dengan tuma’ninah.
  • Duduk di antara dua sujud.
  • Sujud kedua.
  • Bangun untuk rakaat kedua.

Rakaat Kedua

  • Al-Fatihah
  • Membaca surat Al-Qur'an
  • Ruku’.
  • I’tidal.
  • Sujud pertama.
  • Duduk di antara dua sujud.
  • Sujud kedua.
  • Tasyahhud akhir.
  • Salam.

 

Doa setelah Sholat Mutlak

Setelah sholat mutlak umat Islam dianjurkan berdoa. Doa ini bisa dibaca setiap kali setelah salam, atau dibaca saat sholat mutlak berapapun rakaat yang dikendaki sudah selesai. Berikut ini adalah doa setelah Sholat Sunnah Mutlak

اللَّهُمَّ أَسْأَلُكَ تَوْفِيقَ أَهْلِ الهُدَى وَأَعْمَالَ أَهْلِ اليَقِينِ وَمُنَاصَحَةً أَهْلِ التَّوْبَةِ وَعَزْمَ أَهْلِ الصَّبْرِ وَجِدَّ أَهْلِ الخَشْيَةِ وَطَلَبَ أَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُدَ أَهْلِ الْوَرَعِ وَعِرْفَانَ أَهْلِ العِلْمِ حَتَّى أَخَافَكَ

Latin: Allâhumma as'alika taufiqa ahli-l-huda wa a'mâla ahli-l-yaqin wa munâshata ahli-t-taubah wa 'azma ahli-s-shabri wa jidda ahli-l- khasyati wa thalaba ahli-r-raghbati wa ta'abbuda ahli al-wara'l wa 'irfâna ahli-l-ilmi hatta akhâfaka

Artinya: "Ya Allah saya memohon kepada-Mu Taufik yang telah kau berikan pada orang-orang yang mendapat petunjuk, amalan-amalan orang yang mendapat keyakinan, keikhlasan orang-orang yang bertobat, keteguhan hati orang-orang yang bersabar, kesungguhan orang-orang yang takut pada-Mu, mencari cinta-Mu seperti orang-orang yang mencitai-Mu, ibadahnya orang-orang yang wara' dan pengetahuan orang-orang yang berilmu sehingga aku menjadi takut pada-Mu."

Kesunnahan dalam Sholat Mutlak

Berikut ini adalah kesunnahan yang perlu diperhatikan dalam sholat mutlak agar mendapat fadhilah lebih besar.

1. Durasi Berdiri Lebih Lama

Syekh Zakaria al-Anshari dalam kitab Hasiyah Jamal menyampaikan bahwa ada beberapa kesunnahan yang perlu diperhatikan, yaitu durasi waktu ketika berdiri lebih baik dipanjangkan daripada memperbanyak jumlah rakaatnya.

Misalnya, shalat sunnah mutlak yang dilakukan dua rakaat dengan durasi waktu yang panjang ketika berdiri, lebih baik dari shalat sunnah mutlak empat rakaat yang dilakukan dengan durasi waktu berdiri yang pendek.

2. Suara Bacaan Sedang

Dalam shalat tersebut, dianjurkan untuk tidak mengeraskan suaranya, tidak pula merendahkan. Hal ini berdasarkan Al-Qur’an surat al-Isra ayat 110. “Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!”.

Syekh Musthafa al-Bugha, dalam Fiqhul Manhaji ala Mazhabil Imam asy-Syafi’i, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shalat pada ayat di atas adalah shalat sunnah mutlak yang dilakukan pada malam hari.

Oleh karenanya, Allah memerintahkan umat Islam untuk menengahi bacaannya antara keras dan senyap. Batasannya, untuk bacaan yang keras (jahr) sekira bisa didengar oleh orang-orang yang ada di sekitarnya, dan bacaan yang senyap (israr) adalah bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Sementara itu, bacaan yang dianjurkan saat itu adalah bacaan yang sedang-sedang saja (tawasuth), yaitu dengan cara mengukur antara di dengar orang yang ada di sekitarnya dan sebatas didengar oleh dirinya.

3. Lebih Baik Dilaksanakan di Rumah

Imam Nawawi dalam Kitab Raudhatut Thalibin berpendapat, sholat sunnah yang dilakukan di rumah lebih baik dari yang dilakukan di masjid.

Waktu Pelaksanaan Sholat Mutlak

Merujuk pada buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah oleh Arif Rahman, sholat sunnah mutlak dapat dilakukan pada setiap saat, asal tidak dikerjakan pada waktu yang dilarang untuk mengerjakan sholat sunnah. Seperti sesudah sholat subuh dan sesudah sholat ashar.

"Sholat ini semata-mata mutlak (muthlaq), dapat dikerjakan di mana saja dan kapan saja, asal tidak dikerjakan pada waktu haram untuk sholat," menurut Moh Rifai dalam Buku Risalah Tuntunan Sholat Lengkap.

Imam Nawawi dalam Kitab Raudhatuth Thalibin menjelaskan, sholat sunnah yang satu ini boleh dilakukan pada malam hari, juga boleh pada siang harinya, yang penting tidak dilakukan bertepatan dengan waktu-waktu yang dilarang melakukan shalat sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan.

Hanya saja, sholat sunnah mutlak yang dilakukan pada malam hari lebih utama dari shalat sunnah mutlak yang dilakukan pada siang hari.

Hal ini berdasar hadis Nabi SAW, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: “Paling utamanya shalat (sunnah) setelah shalat wajib adalah shalat (yang dilakukan) di malam (hari).”

Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairami al-Mishri (1131-1221 H) dalam Hasiyatul Bujairami alal Khatib mengarahkan bahwa yang dimaksud shalat malam pada hadits di atas adalah shalat sunnah mutlak yang dilakukan pada malam hari, bukan pada siang harinya.

Keutamaan Sholat Mutlak

Berikut beberapa keutamaan sholat sunnah mutlak:

1. Memperoleh kemuliaan yang agung

Allah SWT menjanjikan kepada orang-orang yang memelihara sholatnya, yakni mereka yang mengerjakan sholat dengan benar. Sebagai ganjarannya, mereka akan mendapatkan surga yang dimuliakan oleh Allah SWT. Umat Islam yang menjaga sholatnya juga akan memiliki sifat yang tenang, tidak mudah emosional, dan diberikan kelancaran serta kemudahan dalam hidupnya.

Termaktub dalam surah Al Ma'aarij ayat 34-35 Allah SWT berfirman, yang artinya: "dan yang memelihara salatnya. Mereka itu (berada) di surga lagi dimuliakan."

2. Tercipta hubungan dekat dengan Allah SWT

Umat Islam yang mengerjakan sholat mutlak akan semakin memiliki kedekatan dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Saat yang paling dekat dengan seorang hamba dengan Tuhannya adalah pada ketika ia bersujud." (HR Muslim)

Berdasarkan hadits tersebut, jika umat Islam memperbanyak sholat sunnahnya, maka kedudukannya di sisi Allah SWT semakin dekat. Selain itu ia juga akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar.

3. Diangkat Derajatnya

Seseorang yang istiqamah melaksanakan sholat mutlak akan diangkat derajatnya. Hal ini termaktub dalam hadis, yang artinya: “Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah engkau sujud sekali saja melainkan Allah akan mengangkat derajatmu satu tingkat dan menghapus darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim, no. 488, dari Rabi‘ah bin Ka‘b.

Hadis ini juga menjadi dasar umum keutamaan sholat sunnah, termasuk sholat mutlak.

4. Pahala Besar dan Penghapus Dosa

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj mengungkapkan, sholat sunnah mutlak adalah ibadah yang sangat luas ruangnya, menjadi pintu memperbanyak pahala, menghapus dosa, serta melatih kekhusyukan.

People also Ask:

1. Bagaimana niat sholat sunnah mutlak?

Ushallii sunnatan rak'ataini lillaahi Ta'aalaa. Artinya: "Aku berniat melaksanakan sholat sunnah dua rakaat semata-mata karena Allah Ta'ala."

2. Apa kegunaan shalat mutlak?

Shalat mutlak bertujuan untuk menambah pahala, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta meningkatkan derajat di sisi-Nya, karena shalat ini dilakukan tanpa terikat waktu atau sebab tertentu. Melaksanakan shalat sunah mutlak adalah amalan kebaikan yang bisa dikerjakan kapan saja dan berapa kali pun, dengan keutamaan lebih jika dilakukan di malam hari atau di rumah.

3. Kapan waktu sholat sunah mutlak?

Waktu shalat sunnah mutlak bisa kapan saja, karena tidak terikat waktu atau sebab tertentu, kecuali pada waktu-waktu yang dilarang untuk shalat. Waktu-waktu terlarang tersebut adalah setelah shalat Subuh hingga matahari naik setinggi tombak, saat matahari tepat di atas kepala (waktu istiwa'), dan setelah shalat Asar hingga matahari terbenam.

4. 2 rakaat sebelum Dzuhur shalat apa?

Salat rawatib 2 rakaat sebelum salat zuhur disebut salat qobliyah zuhur atau salat sunah sebelum zuhur. Salat ini merupakan bagian dari shalat sunah rawatib, yang berarti salat sunah yang dikerjakan mengiringi salat fardu.

Sumber Referensi:

 

  • Buku Risalah Tuntunan Sholat Dilengkapi Doa-Doa Mustajab karya Moh Rifai
  • Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Imam Nawawi
  • Kitab Hasiyah Jamal, Syekh Zakaria al-Anshari
  • Kitab Fiqhul Manhaji ala Mazhabil Imam asy-Syafi’i, Syekh Musthafa al-Bugha
  • Buku Panduan Sholat Wajib & Sunnah Sepanjang Masa Rasulullah, Arif Rahman
  • Kitab Tuhfatul Muhtaj, Ibnu Hajar al-Haitami