Liputan6.com, Jakarta - Memahami rukun khutbah Idul Adha sangat penting bagi para khatib dan jamaah. Khutbah Idul Adha, sama halnya dengan khutbah Jumat, memiliki rukun yang harus dipenuhi agar khutbah tersebut sah dan bermakna. Rukun ini meliputi pujian kepada Allah SWT, shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, nasihat tentang ketakwaan, dan doa.
Pemahaman yang baik tentang rukun khutbah ini memastikan pesan-pesan penting Idul Adha tersampaikan dengan efektif kepada seluruh jamaah.Â
Siapa yang perlu memahami? Tentu saja para khatib yang akan menyampaikan khutbah, agar khutbah yang disampaikan sesuai syariat Islam. Selain itu, jamaah juga perlu memahami rukun khutbah agar dapat mengikuti dan mengambil hikmah dari khutbah tersebut.
Advertisement
Khutbah Idul Adha merupakan bagian penting dari perayaan Hari Raya Idul Adha. Khutbah ini disampaikan setelah salat Id dan berisi pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan tema kurban dan ketakwaan. Khutbah yang baik akan mampu menggugah hati para jamaah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Selain itu, memahami rukun khutbah Idul Adha juga membantu jamaah untuk lebih fokus dan khusyuk dalam mendengarkan khutbah. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya, Rabu (14/5/2025).
Penjelasan Rukun Khutbah Idul Adha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210967/original/042065000_1746521381-WhatsApp_Image_2025-05-06_at_15.40.48.jpeg)
Melansir buku Fikih Puasa karya Ali Musthafa Siregar dan Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab karya Dr. Thariq Muhammad Suwaidan, rukun khutbah Idul Adha pada dasarnya sama dengan khutbah Jumat. Berikut enam rukun khutbah Idul Adha yang perlu dipahami:
-
Memuji Allah SWT (pada kedua khutbah): Rukun ini merupakan bentuk pengagungan dan penghormatan kepada Allah SWT sebagai pencipta dan penguasa alam semesta.
Contoh praktiknya, khatib dapat memulai khutbah dengan kalimat tahmid, seperti "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua." Pujian ini bisa dipanjangkan dengan berbagai ungkapan syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah.
Pujian kepada Allah SWT harus disampaikan dengan penuh khusyuk dan rasa syukur yang mendalam. Hal ini menunjukkan keikhlasan dan ketundukan khatib kepada Allah SWT. Dengan demikian, jamaah akan terinspirasi untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan.
-
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW: Shalawat merupakan bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT.
Contoh praktiknya, khatib dapat membaca shalawat dengan kalimat "Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad." Shalawat ini dapat dipanjangkan dengan berbagai ungkapan pujian dan doa untuk Nabi Muhammad SAW.
Membaca shalawat juga meneladani akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Dengan membaca shalawat, khatib dan jamaah menunjukkan kecintaan dan kesetiaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan.
-
Berwasiat tentang ketakwaan (wasiat taqwa): Wasiat taqwa merupakan nasihat dan ajakan untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Contoh praktiknya, khatib dapat menyampaikan nasihat tentang pentingnya menjaga ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari, seperti jujur, amanah, dan bertanggung jawab.
Wasiat taqwa ini bertujuan untuk mengingatkan jamaah akan pentingnya ketakwaan dalam kehidupan. Dengan bertakwa, manusia akan selalu berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Hal ini akan membawa kebaikan dan keberkahan dalam kehidupan.
-
Membaca ayat Al-Quran (pada salah satu khutbah): Membaca ayat Al-Quran merupakan bentuk pengagungan terhadap kitab suci Al-Quran sebagai pedoman hidup umat Islam. Contoh praktiknya, khatib dapat membaca ayat-ayat Al-Quran yang relevan dengan tema Idul Adha, seperti ayat tentang kurban atau ketakwaan.
Ayat Al-Quran yang dibaca harus dipilih dengan cermat dan relevan dengan tema khutbah. Ayat-ayat tersebut akan memberikan penekanan dan penguatan terhadap pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah.
-
Berdoa untuk kaum muslimin (khususnya pada khutbah kedua): Doa ini merupakan bentuk kepedulian dan harapan bagi kebaikan seluruh umat Islam. Contoh praktiknya, khatib dapat memanjatkan doa untuk keselamatan, kesejahteraan, dan ampunan dosa bagi seluruh kaum muslimin di dunia.
Doa ini menunjukkan rasa persaudaraan dan kepedulian antar sesama muslim. Doa ini juga diharapkan dapat membawa keberkahan dan keselamatan bagi seluruh umat Islam.
-
Zikir dan penyampaian pesan tentang ancaman neraka bagi yang melanggar perintah Allah serta kabar gembira surga bagi yang taat: Hal ini bertujuan untuk mengingatkan jamaah akan konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk. Contoh praktiknya, khatib dapat menyampaikan ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang surga dan neraka, serta memberikan nasihat agar senantiasa taat kepada Allah SWT.
Zikir dan penyampaian pesan tentang surga dan neraka ini bertujuan untuk memotivasi jamaah agar senantiasa berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Dengan demikian, jamaah akan terdorong untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kepada Allah SWT.
Advertisement
Syarat-Syarat Khutbah Idul Adha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4780649/original/094862900_1711077046-masjid-pogung-raya-9nkMRXMvZiI-unsplash.jpg)
Selain rukun, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi agar khutbah Idul Adha sah. Melansir buku Rahasia Puasa Menurut 4 Mazhab karya Dr. Thariq Muhammad Suwaidan, berikut lima syarat khutbah Idul Adha:
-
Khatib harus laki-laki: Khutbah Idul Adha hanya boleh disampaikan oleh laki-laki yang memenuhi syarat-syarat lainnya. Contoh praktiknya, panitia Idul Adha harus memilih khatib laki-laki yang memiliki pemahaman agama yang baik dan mampu menyampaikan khutbah dengan baik.
Ketentuan ini berdasarkan pada sunnah Nabi Muhammad SAW yang selalu menunjuk laki-laki sebagai khatib. Dengan demikian, pemilihan khatib laki-laki merupakan bagian dari upaya untuk mengikuti sunnah Nabi SAW.
-
Khatib harus suci dari hadas besar dan kecil: Khatib harus dalam keadaan suci dari hadas besar dan kecil sebelum menyampaikan khutbah. Contoh praktiknya, khatib harus memastikan dirinya telah bersuci dari hadas besar dan kecil sebelum naik mimbar.
Kesucian dari hadas merupakan syarat sahnya ibadah, termasuk khutbah. Dengan demikian, khatib harus memastikan dirinya dalam keadaan suci agar khutbah yang disampaikan sah dan diterima oleh Allah SWT.
-
Khatib wajib menutup aurat: Khatib wajib menutup aurat sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Contoh praktiknya, khatib harus mengenakan pakaian yang menutup aurat dan sopan.
Menutup aurat merupakan kewajiban bagi setiap muslim, termasuk khatib. Dengan menutup aurat, khatib menunjukkan kesopanan dan keseriusannya dalam menyampaikan khutbah.
-
Khatib harus berdiri jika mampu: Khatib harus berdiri saat menyampaikan khutbah jika mampu. Contoh praktiknya, khatib harus berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan khutbah.
Berdiri saat menyampaikan khutbah merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW. Dengan berdiri, khatib menunjukkan kesungguhan dan keseriusannya dalam menyampaikan khutbah.
-
Isi khutbah (rukun khutbah) harus didengar oleh minimal 40 orang jamaah: Khutbah Idul Adha harus didengar oleh minimal 40 orang jamaah. Contoh praktiknya, panitia Idul Adha harus memastikan kehadiran minimal 40 orang jamaah saat khutbah disampaikan.
Ketentuan ini bertujuan untuk menjaga kesakralan dan kemuliaan khutbah Idul Adha. Dengan demikian, khutbah akan lebih bermakna dan bermanfaat bagi jamaah.
Tata Cara Khutbah Idul Adha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4999850/original/046898900_1731302747-pantun-pembukaan-ceramah-lucu.jpg)
Melansir laman Laznas PPPA Daarul Qur'an, berikut tata cara pelaksanaan khutbah Idul Adha:
-
Khutbah Pertama: Khatib menghadap jamaah, mengucapkan salam, mengumandangkan takbir sebanyak sembilan kali, membaca tahmid/hamdalah, shalawat Nabi ('Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammad wa 'alaa aali sayyidina Muhammad'), wasiat taqwa, menyampaikan nasihat tentang ketakwaan (khususnya terkait ibadah haji dan qurban), dan menutup khutbah pertama.
-
Khutbah Kedua: Khatib mengumandangkan takbir sebanyak tujuh kali, membaca tahmid/hamdalah, shalawat Nabi, wasiat taqwa, membaca ayat Al-Quran, berdoa ampunan untuk umat Islam (doa sapu jagat), menutup khutbah, dan mengucapkan salam.
-
Khatib harus berpakaian rapi dan bersih: Menunjukkan kesopanan dan keseriusan dalam beribadah.
-
Khatib harus menjaga suara agar jelas dan lantang: Memudahkan jamaah untuk mendengar dan memahami isi khutbah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan bahasa yang mudah dipahami: Menghindari penggunaan bahasa yang terlalu rumit atau asing bagi jamaah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan penuh khusyuk dan keikhlasan: Menunjukkan kesungguhan dan keseriusan dalam beribadah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan singkat, padat, dan jelas: Memudahkan jamaah untuk mengikuti dan memahami isi khutbah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan lugas dan mudah dipahami: Memudahkan jamaah untuk memahami dan merenungkan isi khutbah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan penuh hikmah dan nasihat: Memberikan manfaat dan pelajaran bagi jamaah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan penuh semangat dan antusias: Membuat jamaah lebih tertarik dan fokus dalam mendengarkan khutbah.
-
Khatib harus menjaga adab dan etika saat menyampaikan khutbah: Menunjukkan kesopanan dan keseriusan dalam beribadah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan: Menghindari keterlambatan atau kepanjangan dalam menyampaikan khutbah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan memperhatikan situasi dan kondisi jamaah: Menyesuaikan isi khutbah dengan kebutuhan dan pemahaman jamaah.
-
Khatib harus menyampaikan khutbah dengan memperhatikan situasi dan kondisi jamaah: Menyesuaikan isi khutbah dengan kebutuhan dan pemahaman jamaah.
-
Khatib hendaknya duduk sejenak di antara khutbah pertama dan kedua: Memberikan kesempatan jamaah untuk beristirahat sejenak.
Advertisement
2 Contoh Khutbah Idul Adha dan Dalilnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4294483/original/066961300_1674016966-7877853.jpg)
Berikut dua contoh khutbah Idul Adha 2025:
Contoh Khutbah Idul Adha 2025 – Tema: 'Kurban sebagai Wujud Ketakwaan dan Kepedulian Sosial'
Khutbah Pertama: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Jamaah yang dirahmati Allah, Pada hari yang mulia ini, kita memperingati Idul Adha, hari raya kurban yang penuh makna. Ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi merupakan simbol ketakwaan dan kepedulian sosial.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37: 'Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.' Mari kita jadikan ibadah kurban sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membantu sesama yang membutuhkan.
Khutbah Kedua: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Jamaah yang berbahagia, Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Marilah kita berdoa:
'Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang ikhlas dalam beribadah, kuat dalam menghadapi ujian, dan peduli terhadap sesama. Ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.' Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Contoh Khutbah Idul Adha 2025 – Tema: 'Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam Ketaatan'
Khutbah Pertama: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman. Jamaah yang dirahmati Allah, Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah contoh nyata ketaatan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah. Ketika diperintahkan untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim dengan ikhlas melaksanakan perintah tersebut, dan Nabi Ismail pun menerima dengan penuh keimanan.
Allah SWT berfirman dalam Surah As-Saffat ayat 102: 'Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.' Mari kita teladani ketaatan dan keikhlasan mereka dalam menjalankan perintah Allah.
Khutbah Kedua: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd. Jamaah yang berbahagia, Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam ketaatan dan keikhlasan. Marilah kita berdoa:
'Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang taat dan ikhlas dalam menjalankan perintah-Mu. Berikanlah kekuatan kepada kami untuk menghadapi segala ujian dengan sabar dan tawakal. Ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, serta seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.' Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4368955/original/037603300_1679558776-pexels-alena-darmel-8164720.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028216/original/059069000_1732870090-logo_piala_dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471172/original/087617600_1782374206-IMG-20260625-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5533582/original/000661600_1773744865-IMG_2841.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8275221/original/010217800_1782128767-WhatsApp_Image_2026-06-22_at_18.04.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8272432/original/081955200_1782124261-Mbah_Marsiyah__jemaah_Indonesia_tertua__bergeser_ke_Madinah__21_Juni_2026.__dok._Media_Center_Haji_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263750/original/076293500_1781998662-Kubah_hijau_penanda_Raudhah_di_Masjid_Nabawi__Madinah.__Asnida_Riani_Liputan6.com_Media_Center_Haji_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263683/original/_Disabilitas__Landis__PPIH_Arab_Saudi__Rika_Novianti_mengatakan__tim_Landis_memiliki_tugas_memantau_terhadap_jemaah_haji_kategori_risiko_tinggi_yang_membutuhkan_bantuan_dalam_aktivitas_sehari-hari.jpg)