Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah, Ketahui Keutamaannya

Puasa Tarwiyah dan Arafah termasuk amalan yang waktunya dikerjakan pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Umat Islam jangan sampai melewatkan dua puasa sunnah ini karena keutamaannya luar biasa.

Diperbarui 05 Juni 2025, 17:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bogor - Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan melaksanakan puasa sunnah, yaitu puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Kedua hari tersebut memiliki nilai ibadah yang tinggi dalam Islam, karena tidak hanya meneladani amalan para jamaah haji, tetapi juga sarat keutamaan bagi umat Muslim secara umum. Untuk melaksanakannya dengan benar, penting bagi setiap Muslim memahami dan mengucapkan niat puasa Tarwiyah dan Arafah, karena niat menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah puasa tersebut.

Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah telah dijelaskan dalam banyak literatur Islam klasik maupun kontemporer. Dalam buku Fiqih Puasa Lengkap karya Gus Arifin, disebutkan bahwa puasa Arafah memiliki keutamaan besar, yaitu diampuninya dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits shahih riwayat Muslim. Sementara itu, puasa Tarwiyah juga disebut sebagai amalan sunnah yang mampu menyucikan jiwa menjelang hari besar Iduladha. Dengan membaca niat puasa Tarwiyah dan Arafah dan menjalankannya dengan sungguh-sungguh, seorang Muslim dapat meraih keutamaan spiritual yang luar biasa.

Dukungan ilmiah terhadap manfaat puasa ini juga disampaikan dalam Jurnal Penelitian Agama Islam, yang menyatakan bahwa puasa sunnah seperti Tarwiyah dan Arafah berperan signifikan dalam membentuk ketakwaan dan pengendalian diri. Hal ini menunjukkan bahwa puasa tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga psikologis dan sosial. Melalui niat puasa Tarwiyah dan Arafah menjadi langkah awal menuju ibadah yang penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT.

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Kamis (5/6/2025).

Niat Puasa Tarwiyah dan Arafah

1. Niat Puasa Tarwiyah 

Berikut ini terdapat bacaan niat puasa Tarwiyah beserta artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillâhi ta‘âlâ.   

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta’âlâ.”   

2. Niat Puasa Arafah  

Berikut ini terdapat bacaan niat puasa Arafah beserta artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى 

Nawaitu shauma arafata sunnatan lillâhi ta’âlâ.   

Artinya: “Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’âlâ.”

Bagi orang yang lupa niat pada malam hari, niat boleh dibaca siang harinya, yakni dari pagi hari sampai sebelum tergelincirnya matahari (waktu zuhur), selagi ia belum melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Berikut adalah niat puasa Tarwiyah dan Arafah ketika siang hari:

1. Niat Puasa Tarwiyah Siang Hari

Berikut ini terdapat bacaan niat puasa Tarwiyah yang dilafalkan siang hari beserta artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i tarwiyata sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah Tarwiyah hari ini karena Allah ta'âlâ."

2. Niat puasa Arafah Siang Hari

Berikut ini terdapat bacaan niat puasa Arafah yang dilafalkan siang hari beserta artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ هٰذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِعَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i arafata sunnatan lillâhi ta'âlâ.

Artinya: "Saya niat puasa sunnah Arafah hari ini karena Allah ta'âlâ."

 

Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah

1. Dilipatgandakan Pahala

Melaksanakan puasa pada 9 hari pertama Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah akan dilipatgandakan pahalanya. Keutamaan ini berdasarkan pahala ibadah pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda,

مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللّٰهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيْهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ يَعْدِلُ صِيَامُ كُلِّ يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ وَقِيَامُ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ 

Artinya: “Tidak ada hari-hari yang lebih Allah sukai untuk beribadah selain sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, satu hari berpuasa di dalamnya setara dengan satu tahun berpuasa, satu malam mendirikan salat malam setara dengan salat pada malam Lailatul Qadar.” (HR At-Trmidzi).   

Mula al-Qari’ dalam Mirqâh al-Mafâtîh menjelaskan, maksud dari sebanding dengan satu tahun puasa pada hadis di atas adalah satu tahun puasa sunnah, bukan puasa Ramadhan.

2. Dihapuskan Dosa dan Dibebaskan dari Siksa Neraka

Secara khusus terdapat keutamaan bagi orang yang melaksanakan puasa Arafah. Ada dua keutamaan yang akan diperoleh bagi yang puasa Arafah. Pertama, siapa yang berpuasa pada hari Arafah akan dihapuskan dua tahun dosa-dosanya, yakni dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Hal tersebut sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW. 

Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim). 

Mayoritas ulama berpendapat, bahwa dosa-dosa yang dihapus sebab puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil, sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah Muslim juz 3 (h. 113). Kedua, orang yang berpuasa pada hari Arafah juga dibebaskan dari segala macam siksa neraka. Sebab, sebagaimana disebutkan Rasulullah saw dalam sebuah hadisnya, bahwa Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka pada hari Arafah dibanding hari-hari lainnya.  

"Tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada Hari Arafah, dan sungguh Dia mendekat lalu membanggakan mereka di depan para Malaikat dan berkata: ‘Apa yang mereka inginkan?" (HR Muslim).

 

Bolehkah Puasa Arafah Tanpa Puasa Tarwiyah

Dikutip dari buku Koleksi Doa & Dzikir Sepanjang Masa (2018) karya Ali Amrin Al Qurawy, puasa sunnah pada bulan Dzulhijah sangat dianjurkan, termasuk di antaranya puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijah. Namun, dalam praktiknya, tidak ditemukan dalil yang secara eksplisit menyebut bahwa puasa Arafah dan puasa Tarwiyah harus dilakukan secara bersamaan atau beriringan. Hal ini menunjukkan bahwa menjalankan puasa Arafah tanpa mendahuluinya dengan puasa Tarwiyah tetap diperbolehkan dan sah menurut syariat.

Puasa Arafah sendiri memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih, seperti menghapus dosa selama dua tahun—setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Sementara itu, meskipun puasa Tarwiyah juga dianjurkan dalam tradisi keagamaan, tidak ada kewajiban untuk menjalankannya agar bisa memperoleh keutamaan puasa Arafah. Artinya, umat Islam tetap bisa mendapatkan pahala dan manfaat dari puasa Arafah meskipun tidak berpuasa pada hari sebelumnya.

Lebih lanjut, penting dipahami bahwa puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan ibadah sunnah, bukan fardu. Dalam hukum Islam, ibadah sunnah bersifat fleksibel, sehingga umat Muslim diberi kebebasan untuk memilih mengamalkannya atau tidak, sesuai dengan kemampuan dan kesiapan diri. Tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya, namun tentu akan lebih baik jika mampu melaksanakannya sebagai bentuk cinta kepada sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, melaksanakan puasa Arafah tanpa terlebih dahulu menjalankan puasa Tarwiyah tetap dinilai sebagai amalan yang bernilai tinggi di sisi Allah SWT. Setiap ibadah sunnah tetap memberikan dampak positif secara spiritual, selama dilakukan dengan niat yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Pertanyaan Umum untuk Puasa Tarwiyah dan Arafah

1. Apakah puasa Tarwiyah dan Arafah wajib dilaksanakan?

Tidak. Kedua puasa ini bersifat sunnah muakkadah, yaitu sangat dianjurkan, tetapi tidak wajib. Meninggalkannya tidak berdosa, namun melaksanakannya berpahala besar.

2. Apa keutamaan puasa Arafah?

Puasa Arafah memiliki keutamaan menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang, sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Muslim.

3. Apakah harus puasa Tarwiyah dulu baru boleh puasa Arafah?

Tidak. Puasa Arafah bisa dilakukan meski tidak menjalankan puasa Tarwiyah sebelumnya, karena tidak ada dalil yang mewajibkan kedua puasa dilakukan secara berurutan.

4. Siapa saja yang dianjurkan menjalankan puasa Arafah?

Puasa Arafah dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Bagi jamaah haji, puasa Arafah justru makruh karena dapat melemahkan fisik saat wukuf.

5. Apakah perlu niat khusus saat puasa Tarwiyah dan Arafah?

Ya, setiap puasa sunnah tetap memerlukan niat. Niat dapat dilakukan sejak malam hari atau sebelum masuk waktu Dzuhur, selama belum makan dan minum sejak subuh.

6. Bolehkah perempuan haid ikut puasa Tarwiyah dan Arafah?

Tidak boleh. Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak diperbolehkan berpuasa hingga suci.