Sukses

Hakikat Jadi Kiai Menurut Gus Baha: Bukan Gagah-gagahan, Adanya Beban

Jadi kiai, jangan berpikir bisa gagah-gagahan, Justru banyak bebean seperti yang dikatakan Gus Baha berikut ini

Liputan6.com, Jakarta - Gus Baha, seorang tokoh agama yang dikenal dengan wawasannya yang luas, mengajukan pemahaman mendalam tentang hakikat menjadi seorang kiai, yang jauh melampaui sekadar kesan luar atau kegagahan belaka.

Dalam pandangannya, menjadi seorang kiai bukanlah sekadar tentang memiliki wibawa atau status sosial yang tinggi, melainkan lebih kepada tanggung jawab yang besar terhadap umat dan keberlangsungan agama.

Menurut Gus Baha, menyoroti bahwa menjadi seorang kiai membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keuletan yang tinggi.

Tugas seorang kiai tidaklah mudah, karena harus melibatkan diri dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari urusan agama hingga kebutuhan sosial dan ekonomi umat.

 

Simak Video Pilihan Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Pengalaman Gus Baha di Korea

Dalam pemahamannya, menjadi seorang kiai juga berarti memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah umat dan mampu memberikan solusi yang sesuai dengan ajaran agama.

Seorang kiai haruslah menjadi pilar yang kokoh dalam membangun masyarakat yang beriman dan bertakwa.

Gus Baha menekankan bahwa menjadi seorang kiai bukanlah sekadar jabatan atau gelar, melainkan panggilan jiwa yang memerlukan pengorbanan dan pengabdian yang besar.

Dari kanal YouTube @pendekarperadaban1926, dalam ceramahnya, Gus Baha berkisah pernah pengajian di Korea memberinya pengalaman yang berharga.

"Saya pernah di Korea itu asyik karena itu yang orang-orang katanya teman-teman saya ini di rumah itu enggak jadi kiai. Saat di Indonesia sering di sawah, sering di tegalan, gara-gara di Korea jadi mufti karena enggak ada kiainya gitu," ungkapnya.

3 dari 3 halaman

Jadi Kiai yang Penting Ini

Dalam konteks tersebut, Gus Baha menyampaikan bahwa di luar Jawa atau di luar Indonesia, seseorang yang tidak menjadi kiai di Jawa mungkin malah menjadi kiai di luar negeri seperti yang ia ceritakan.

Hal ini menurutnya menunjukkan bahwa menjadi kiai tidak hanya tentang status atau kegagahan, tetapi lebih pada tanggung jawab atas keberlangsungan proses keagamaan masyarakat.

"Pentingnya menjadi kiai bukanlah tentang gagah-gagahan atau status sosial semata, tetapi tentang tanggung jawab terhadap proses yang berjalan," tegasnya.

Menurutnya, menjadi kiai membawa tanggung jawab yang besar dalam mengelola masjid, mencari imam, serta menjaga keberlangsungan jamaah.

Ia juga menyoroti bahwa menjadi kiai juga membawa beban tanggung jawab terhadap kebutuhan dan keluhan umat.

"Dulu bawaannya rakyat itu kan kalau ke masjid komplain, ada masjid bocor, ada keran yang kurang baik. Kalau sudah jadi kiai, itu tahu rasanya betapa sulitnya mengelola masjid, mencari imam, dan melanggengkan jamaah," paparnya.

Melalui ceramahnya, ia mengingatkan bahwa menjadi kiai bukanlah sekadar mengemban status atau kehormatan, melainkan sebuah amanah besar yang memerlukan komitmen dan dedikasi yang tinggi.

Penulis: Nugroho Purbo/Madrasah Diniyah Miftahul Huda 1 Cingebul

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.