Sukses

Murah dan Gampang, Kisah Umrah Backpacker 9 Mahasiswa Indonesia

Liputan6.com, Purwokerto - Musim haji 2022 telah usai. Kini Arab Saudi mulai banyak didatangi oleh jemaah umrah. Haji wajib, sedangkan umrah sunah.

Sepertinya, tiap muslim menginginkan beribadah umrah walau sekali saja. Namun, tak semuanya memiliki kemampuan untuk berumrah.

Ada yang terkendala biaya, waktu, ataupun kondisi fisik. Khusus bagi yang terkendala masalah keuangan, umrah backpacker bisa menjadi solusi.

Dalam umrah backpacker, jamaah mengerjakan umrah tanpa pembimbing. Tentu jamaah umrah harus mengetahui tata cara umrah dari awal sampai akhir dengan mempelajari sendiri.

Pihak travel hanya menyediakan tiket pesawat dan visa. Di luar itu, hotel, guide dan makan harus cari sendiri sesampainya di tanah suci.

Adalah Rif'an Ali Hafidz yang memiliki pengalaman umrah backpacker. Dia umrah bersama dengan delapan rekannya, yang sama-sama mahasiswa Indonesia di Sudan, pada Ramadan 2022 lalu.

Pemuda ini sejak November 2017 kuliah di Khartoum Internasional Institute for Arabic Language, Sudan. Rif'an pernah memanfaatkan jeda kuliah untuk mencari pengalaman baru dengan ibadah umrah.

Semula, pada bulan Maret 2022, ia menerima broadcast iklan biro paket perjalanan umrah bulan Ramadan melalui Grup WhatsApp warga Indonesia di Sudan. Ada yang memasang tarif 900 dolar dengan fasilitas visa umrah 30 hari, penginapan tiga hari di Mekkah tiga hari Madinah, makan enam hari.

Ada lagi yang memasang tarif biaya umrah 560 dollar dengan fasilitas hampir serupa dengan yang sebelumnya, namun tanpa tiket pesawat. Ada juga yang memasang tarif 700 dollar dengan fasilitas sama namun tanpa penginapan dan catering.

Ia memilih paket 700 dollar atau setara Rp10.500.000. Namun pada akhirnya Rif'an harus membayar 850 dollar atau Rp12.500.000 dari biaya awal yang tertera 700 dollar itu. Kala itu, biro perjalanan beralasan waktu pendaftarannya sudah mepet bulan Ramadan sehingga semua biaya naik.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

Persiapan Umrah Backpacker

Rif'an lantas menyiapkan, mulai dari paspor, surat pernyataan perjalanan, surat kuning perjalanan, dan kepengurusan visa kembali ke Sudan. Rif'an mengiestimasi butuh sekitar Rp300 ribu. Dokumen perjalanan itu penting agar lancar selama perjalanan umrah.

Ada delapan orang lainnya bersama Rif'an. Mereka semua juga berstatus pelajar Indonesia yang ada di Sudan. Tiket pesawat pulang-pergi sudah siap. Visa Umroh sudah siap. Namun, beberapa hari sebelum keberangkatan, mereka dipusingkan dengan persoalan PCR dan vaksin sebagai syarat perjalanan.

Jika harus ada tes PCR dan vaksin, maka artinya ada biaya tambahan. Sebab biaya untuk PCR dan vaksin di Sudan lumayan tinggi untuk ukuran mahasiswa seperti Rif'an.

Demi menjawab kegelisahan tentang hal tersebut, Rif'an dan temannya memutuskan untuk bertanya langsung ke kantor maskapai penerbangan Saudi Airlines di Jalan Ebid Khatim di samping Restauran Luxury. Ternyata Arab Saudi tidak mensyaratkan PCR dan Vaksin dalam perjalanannya.

Arab Saudi secara bertahap kembali menuju normal. Hal itu melegakan Rif'an dan jamaah umrah backpacker lainnya.

Tiket pesawat tercetak pada hari Selasa, 12 April 2022 pukul 04.15 CAT. Rif'an dan rombongan berangkat dari pos berkumpul di depan Restoran Syekh Mindi pukul 01.00 CAT dini hari. Dengan menggunakan mobil Hiace mereka berangkat menuju Bandara Khartoum, Sudan.

Sesampainya di sana terlihat bandara cukup lengang, tidak terlalu ramai. Tidak banyak orang yang menggunakan masker sebagai penerapan protokol kesehatan. Ternyata Sudan telah melonggarkan aturan pembatasan.

Pukul 04.30 CAT mereka terbang. Dua jam perjalanan yang mereka tempuh ke Jeddah. Sebuah perjalanan yang singkat mengingat Sudan dan Arab Saudi hanya dipisahkan oleh Laut Merah.

Pukul 07.00 WAS mereka mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah untuk transit sebelum melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Di hadapan mereka terbentang pemandangan megah dan mewah.

Mereka keluar dari pesawat lalu berjalan menyusuri terowongan penghubung untuk masuk ke dalam bandara. Berbagai kerajinan dan hiasan unik tersaji sepanjang perjalanan menuju gate selanjutnya.

3 dari 5 halaman

Perjalanan ke Madinah

Berbagai pemeriksaan mereka jalani. Mulai dari pemeriksaan visa masuk, barang bawaan, kelengkapan berkas perjalanan, dan berbagai hal yang memang biasa dilakukan sedang mengantri pengecekan surat menyurat.

Seusai menjalani pemeriksaan, mereka diarahkan menuju stasiun kereta bawah tanah. Hal serupa yang dulu pernah Rif'an dapatkan ketika berada di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia.

Kereta datang dengan sangat halus dan tanpa suara. Semuanya rapi, bersih dan tertata. Mereka masuk menuju salah satu gerbongnya.

"Saat kereta bergerak, saya merasakan seolah sedang berada di wahana taman bermain dengan kereta sebagai objek permainannya, sangat menyenangkan," ucapnya.

Sesampainya di tempat tujuan, mereka keluar dari kereta. Kemudian mereka langsung berjalan menuju gate 9 untuk menunggu pesawat yang akan membawa mereka menuju Kota Madinah.

Setelah menunggu selama kurang lebih enam jam, jadwal penerbangan menuju Madinah akhirnya datang juga. Setelah satu jam perjalanan udara mereka sampai di Kota Nabi dengan selamat.

Melihat tulisan selamat datang di Kota Madinah membuat Rif'an sangat senang. Tak percaya kalau Rif'an sekarang sudah menginjakan kaki di kota Rasul, kota impian Rif'an sejak kecil.

Hari-hari Rif'an selama berada di Kota Madinah Rif'an habiskan untuk berkeliling pada setiap sudut masjidnya. Mulai dari mengunjungi Raudah Nabi Muhammad, berkeliling di bawah payung khas Masjid Nabawi, shalat fardu dan tarawih di dalam masjidnya, dan pengalaman lainnya bersama teman maupun sendiri.

"Oh ya, catatan buat teman-teman yang ingin melakukan perjalanan umrah ke Arab Saudi, pastikan teman-teman ketika sudah sampai langsung saja membeli kartu (HP) lokal, karena Rif'an merasakan betapa susahnya berjalan tanpa alat komunikasi," ucapnya.

4 dari 5 halaman

Perjalanan ke Makkah

Di hari ke empat Rif'an dan rombongan putuskan pergi melanjutkan perjalanan menuju Mekkah Al-Mukarramah untuk menunaikan ibadah umrah.

Setelah memakai kain ihram dan mendapatkan pengarahan dari para senior di kampus Universitas Islam Madinah (UIM), mereka berangkat pada pukul 00.30 WAS dengan menggunakan mobil Hiace menuju Mekkah dengan biaya 480 real, atau 60 real setiap penumpangnya.

Tak disangka ternyata banyak sekali peraturan ketat yang berlaku di Arab Saudi. Sebagai informasi, mobil yang mereka sewa rupanya tidak memegang surat izin melewati Kota Mekkah.

Sebagaimana yang berlaku di Mekah, setiap pengendara yang hendak menuju Mekkah diwajibkan membawa surat izin melewati perbatasan kota. Hal ini dilakukan demi menertibkan arus perjalanan menuju dan dari Kota Mekkah.

"Walhasil, diputar-putarkanlah kami di Kota Madinah. Ketika ditanyakan kenapa, kata sang supir ingin meminjam surat izin melewati batas Kota Mekkah milik temannya," katanya.

Di tengah perjalanan ada pengecekan Tasrih Tawakalna (semacam aplikasi peduli lindungi) di perbatasan antar kota. Setiap orang yang hendak melaksanakan ibadah umrah diwajibkan untuk mendaftarkan dirinya di aplikasi tersebut.

Setelah 20 menit perjalanan dari Madinah sepanjang 11 kilometer, mereka berhenti di Masjid Biir Ali, Dzulkhulaifah untuk menunaikan salat sunnah dua rakaat dan mengambil miqot niat umroh.

Kemudian, Rif'an dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kota Mekkah yang berjarak sekitar 450 kilometer dari Masjid Bir Ali.Mereka sempat singgah untuk menyantap sahur dan menunaikan salat subuh.l sebelum sampai di Terminal Kudi bawah Masjidil Haram pada pukul 07.00 WAS.

"Pemandangan luar biasa dan tak terbayangkan sebelumnya terbentang di depan mata," ujarnya.

Mereka melihat zam-zam tower yang menjulang tinggi dan Masjidil Haram yang sangat megah. Pemandangan itu membuat Rif'an takjub tak ada habisnya.

Inilah pemandangan yang selalu Rif'an lihat di YouTube dan televisi selama ini. Perjalanan yang selalu Rif'an impikan dan panjatkan pada setiap doa akhirnya terkabul.

5 dari 5 halaman

Biaya Penginapan

Semua barang bawaan yang mereka bawa ditinggal di tempat penitipan barang sebelah toilet 3 Masjidil Haram. Mereka masuk ke dalam masjid dan berjumpa dengan Kabah untuk menunaikan thawaf, salah satu rukun ibadah Umrah.

"Melihat Kabah dari dekat dengan ribuan orang di dalamnya rasanya tak terlukiskan," ucapnya.

Setelah selesai menunaikan thawaf tujuh putaran, Rif'an salat dua rakaat di belakang Maqom Ibrahim. Tidak mudah memang untuk mencari tempat salat karena ribuan manusia berseliweran ke sana dan kemari.

Kemudian Rif'an lanjutkan menunaikan Sai antara Sofa dan Marwa sebanyak tujuh kali. Setelah usai Rif'an memotong rambut untuk menyempurnakan ibadah Umrah.

"Alhamdulillah, semua rangkain tadi saya tunaikan kurang lebih tiga jam," katanya.

Sekarang Rif'an dan rombongan tinggal di sebuah rumah sederhana di daerah Misfalah bagian Selatan Masjidil Haram. Mereka merogoh kantong 1.000 real untuk dua kamar dan satu kamar mandi selama 20 hari.

Rif'an sempat pergi ke Jabal Nur dengan biaya 10 real setiap orangnya.

"Ya karena dari awal kami sudah memutuskan “backpaker-an” untuk perjalanan ini. Jadi kami harus pintar-pintar mengatur pengeluaran untuk bisa berpergian kesana-kemari," tuturnya.

Demikian kisah perjalanan Rif'an selama umrah backpacker. Hingga hari Selasa 3 Mei 2022, Rif'an masih di Kota Makkah dan Rif'an menunaikan salat Idul Fitri di Masjidil Haram.

Rif'an dan rombongan akan bertolak menuju Kota Madinah untuk menghabiskan masa berlaku visa kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Sudan pada tanggal 8 Mei 2022.

Tim Rembulan

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS