8 Alasan Kamar Terasa Lebih Pengap saat Pagi Hari, Waspadai CO2 Menumpuk hingga Udara Lembap

Mengapa udara kamar terasa berat setelah bangun tidur? Simak alasan kamar terasa lebih pengap saat pagi hari menurut para peneliti dan pedoman kesehatan.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bangun tidur dengan hidung tersumbat dan udara kamar yang terasa berat sering dianggap hal biasa, padahal ada alasan kamar terasa lebih pengap saat pagi hari yang layak dipahami. Kondisi ini terjadi karena kamar tertutup berjam-jam, sementara udara di dalamnya terus dipakai dan tidak sempat berganti.

Melansir dari penelitian Peter Strøm-Tejsen, Daria Zukowska, Pawel Wargocki, dan David Wyon berjudul The Effects of Bedroom Air Quality on Sleep and Next-Day Performance (2016) di jurnal Indoor Air, kadar karbon dioksida yang lebih rendah di kamar membuat penghuni merasa udara lebih segar dan tidur lebih baik. Sementara itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077 Tahun 2011 menyebut kelembapan udara dalam ruang rumah yang sehat berada di kisaran 40 hingga 60 persen.

Selain soal napas dan kelembapan, ada sejumlah faktor lain yang ikut membuat udara kamar terasa lebih berat setelah semalaman. Berikut adalah alasan kamar terasa lebih pengap saat pagi hari dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (8/10/2026).

1. Karbon Dioksida Menumpuk Selama Anda Tidur

Setiap kali menghembuskan napas, tubuh melepaskan karbon dioksida (CO2) ke udara sekitar. Di kamar yang tertutup, gas ini terus bertambah selama berjam-jam karena tidak ada udara segar yang cukup untuk menggantikannya. Rui Wang dan rekan-rekan dalam studi berjudul The Influence of Bedroom CO2 Concentration on Sleep Quality (2023) di jurnal Buildings menyebut napas penghuni sebagai sumber utama CO2 di dalam ruangan.

Melansir dari ASHRAE Journal, terbitan perhimpunan insinyur pemanas, pendingin, dan tata udara di Amerika Serikat, pengukuran yang dipublikasikan menunjukkan kamar dengan pintu dan jendela tertutup rutin mencapai kadar CO2 sekitar 2.500 hingga 3.000 ppm (bagian per sejuta). Angka tersebut kira-kira tiga kali lipat dari kadar yang dianjurkan. Inilah yang membuat udara terasa berat dan tidak segar begitu Anda membuka mata.

Studi lain oleh Zhang dan rekan-rekan berjudul Associations of Bedroom Air Temperature and CO2 Concentration with Subjective Perceptions and Sleep Quality during Transition Seasons (2021) di jurnal Indoor Air melibatkan 104 peserta di Beijing. Kelompok dengan rata-rata CO2 sekitar 2.012 ppm merasa kurang puas dengan tidurnya dan mencium bau udara lebih kuat dibandingkan kelompok dengan rata-rata sekitar 672 ppm. Tinjauan Sekhar dan rekan-rekan berjudul Bedroom Ventilation: Review of Existing Evidence and Current Standards (2020) di jurnal Building and Environment bahkan menyebut kadar di atas 2.600 ppm dapat mengganggu durasi tidur.

Membuka jendela atau pintu selama beberapa menit setelah bangun tidur membantu menurunkan kadar gas ini dengan cepat.

2. Jendela dan Pintu yang Tertutup Rapat Menghambat Pertukaran Udara

Banyak orang menutup rapat jendela dan pintu kamar demi privasi, keamanan, atau agar terhindar dari nyamuk dan kebisingan. Akibatnya, udara di dalam kamar nyaris tidak bertukar dengan udara luar. Napas, bau badan, dan uap air pun bertahan di ruangan sepanjang malam.

Peneliti dari Eindhoven University of Technology di Belanda menguji lima malam tidur pada 17 orang dewasa muda, dan hasilnya terbit di jurnal Indoor Air. Kamar dengan jendela atau pintu dalam yang dibuka memiliki kadar CO2 lebih rendah, dengan tidur yang lebih dalam dan lebih efisien serta lebih sedikit terbangun.

Temuan serupa muncul pada penelitian Strøm-Tejsen dan rekan-rekan (2016) di kamar asrama tunggal dekat Kopenhagen, Denmark. Saat kamar mendapat ventilasi tambahan, peserta melaporkan udara lebih segar, merasa lebih bugar, dan lebih mudah berkonsentrasi keesokan harinya.

Dari sisi aturan, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829 Tahun 1999 menetapkan luas ventilasi rumah minimal 10 persen dari luas lantai. Kamar dengan ventilasi lebih kecil dari ukuran tersebut cenderung lebih cepat terasa pengap.

3. Kelembapan Udara Memang Paling Tinggi pada Dini Hari

Pagi hari sering diawali dengan udara yang paling lembap dalam sehari. Dalam sejumlah prakiraan cuaca BMKG untuk wilayah Jakarta, kelembapan udara dini hari tercatat berada di kisaran 78 hingga 92 persen, lebih tinggi daripada siang hari.

Saat suhu turun menjelang pagi, udara menampung lebih sedikit uap air sehingga kelembapan relatifnya naik. Udara lembap ini masuk lewat ventilasi, lalu menempel di kasur, dinding, dan kain di dalam kamar. Hasilnya, ruangan terasa gerah, lengket, dan sedikit apek. Inilah salah satu alasan kamar terasa lebih pengap saat pagi hari, terutama di kota tropis yang udaranya memang lembap.

Sebagai pembanding, Permenkes Nomor 1077 Tahun 2011 menyebut kelembapan ruang rumah yang sehat sebesar 40 hingga 60 persen. Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menganjurkan angka 30 hingga 50 persen untuk rumah pada umumnya.

4. Napas, Keringat, dan Jumlah Penghuni Menambah Beban Udara

Tubuh manusia terus melepaskan uap air lewat napas dan keringat, bahkan saat tidur. Di kamar tertutup, uap air ini tidak punya jalan keluar sehingga menambah kelembapan di dalam ruangan. Semakin banyak orang yang tidur di satu kamar, semakin besar pula beban udara yang harus ditanggung ruangan tersebut.

Wang dan rekan-rekan (2023) menguji tiga kondisi yang meniru kamar berisi satu, dua, dan tiga orang. Kadar CO2 rata-ratanya sekitar 800, 1.300, dan 2.200 ppm. Seiring naiknya CO2, peserta lebih banyak melaporkan tenggorokan kering, hidung tersumbat, dan bau udara yang tidak sedap. Porsi tidur dalam pun menurun dari sekitar 20,4 persen menjadi 14,4 persen.

Bila kamar dipakai bersama, memberi celah ventilasi tambahan menjadi semakin penting.

5. Udara Lembap Memicu Jamur dan Tungau Debu

Menurut EPA, tungau debu tumbuh di lingkungan yang lembap dan hangat. Jamur juga menyukai kondisi yang sama. Badan itu menegaskan bahwa kunci mengendalikan jamur adalah mengendalikan kelembapan, dengan menjaga kelembapan relatif di bawah 60 persen dan idealnya 30 hingga 50 persen.

Ketika kamar sering lembap, jamur dan tungau lebih mudah berkembang di kasur, tirai, dan sudut dinding. Bau apek yang tercium saat pagi bisa menjadi tanda bahwa kelembapan di kamar belum terkendali.

Jika bersin, hidung tersumbat, atau sesak muncul berulang setiap pagi, sebaiknya konsultasikan ke dokter karena penyebabnya bisa beragam. Informasi ini tidak menggantikan saran tenaga kesehatan.

6. Kasur, Bantal, Selimut, dan Karpet Menyimpan Debu serta Bau

EPA menyebut tirai, perlengkapan tidur, karpet, dan area lain tempat debu menumpuk dapat menjadi tempat berkumpulnya pencemar hayati. Benda-benda ini mudah menyimpan kelembapan dan bau, sehingga ikut memengaruhi udara kamar saat pagi hari.

Sebuah survei di hunian Denmark pada Januari hingga Februari 2020 mengaitkan keberadaan karpet di kamar dengan udara pengap yang mengganggu tidur. Kamar tanpa ventilasi mekanis juga lebih sering dikaitkan dengan keluhan serupa. Dalam survei itu, udara pengap menjadi faktor pengganggu tidur terbesar kedua, sehingga persoalan ini layak mendapat perhatian.

EPA mencatat bahwa debu, tungau, dan serpihan bulu hewan dapat dikurangi, meski tidak hilang sepenuhnya, lewat pembersihan rutin. Menjemur kasur, mencuci sarung bantal dan seprai secara teratur, serta mengurangi karpet tebal di kamar bisa membantu.

7. Perabot Baru dan Produk Pengharum Melepas Senyawa Organik Volatil

Senyawa organik volatil (VOC) adalah zat kimia yang mudah menguap ke udara dari benda padat atau cairan. Departemen Kesehatan Negara Bagian New York menyebut lemari, perabot, tempat tidur, karpet, dan lantai kayu baru sebagai contoh sumber VOC. Produk pembersih dan pengharum ruangan juga termasuk dalam daftar tersebut.

Zat-zat ini dilepaskan perlahan dari waktu ke waktu. Karena kamar tertutup semalaman, kadarnya bisa terasa menumpuk pada pagi hari dan menimbulkan bau yang kurang nyaman.

Peneliti yang dipimpin German Hernandez dalam artikel berjudul The Effect of Ventilation on Volatile Organic Compounds Produced by New Furnishings in Residential Buildings (2020) di jurnal Atmospheric Environment: X menguji rumah yang baru diisi perabot. Tanpa ventilasi mekanis, total konsentrasi VOC di ruangan yang lebih rapat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan ruangan yang kurang rapat.

Departemen yang sama menyarankan pembukaan jendela atau pintu untuk ventilasi, sambil mengingatkan bahwa kadar VOC bisa naik lagi setelah ventilasi dihentikan. Karena itu, udara di kamar berperabot baru perlu dipertukarkan secara rutin, tidak hanya sekali.

8. Kamar Ber-AC yang Tertutup Rapat Jarang Mendapat Udara Segar

Kamar ber-AC biasanya ditutup rapat agar udara dingin tidak keluar. Cara ini nyaman untuk suhu, tetapi membuat udara di dalam kamar nyaris tidak diganti dengan udara segar dari luar.

Sekhar dan Goh dalam penelitian berjudul Thermal Comfort and IAQ Characteristics of Naturally/Mechanically Ventilated and Air-Conditioned Bedrooms in a Hot and Humid Climate (2011) di jurnal Building and Environment membandingkan beberapa jenis kamar di iklim panas dan lembap. Berdasarkan rangkuman Wang dan rekan-rekan (2023), kadar CO2 rata-rata di kamar berventilasi alami lebih rendah sekitar 310 ppm daripada kamar ber-AC, dan durasi tidurnya lebih panjang sekitar 0,4 jam.

Untuk mengurangi pengap di pagi hari, buka jendela beberapa menit sebelum menyalakan AC atau segera setelah AC dimatikan. Pastikan pula ada celah ventilasi agar udara tetap bergerak.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kamar Terasa Lebih Pengap saat Pagi

1. Mengapa kamar terasa pengap saat pagi hari?

Kamar tertutup berjam-jam sehingga karbon dioksida dari napas dan uap air dari tubuh menumpuk. Kelembapan udara juga cenderung tinggi pada dini hari, sehingga ruangan terasa lebih berat dan apek.

2. Berapa kelembapan udara yang ideal untuk kamar tidur?

Permenkes Nomor 1077 Tahun 2011 menyebut kisaran 40 hingga 60 persen untuk ruang rumah. EPA menganjurkan 30 hingga 50 persen. Alat pengukur kelembapan (higrometer) dapat membantu memantaunya.

3. Apakah membuka jendela saat tidur membantu mengurangi pengap?

Penelitian dari Eindhoven University of Technology menunjukkan kamar dengan jendela atau pintu dalam yang dibuka punya kadar CO2 lebih rendah dan kualitas tidur lebih baik. Pertimbangkan keamanan, nyamuk, dan kebisingan, misalnya dengan membuka celah kecil atau pintu bagian dalam.

4. Apakah kamar pengap berbahaya bagi kesehatan?

Kamar pengap membuat tidur kurang nyenyak dan dapat memunculkan keluhan seperti tenggorokan kering serta hidung tersumbat. Jika keluhan sering muncul atau mengganggu, konsultasikan ke dokter.

5. Apa yang sebaiknya dilakukan begitu bangun tidur?

Buka jendela dan pintu selama beberapa menit agar udara bertukar. Sibakkan selimut dan buka tirai supaya uap air di kasur dan kain lebih cepat lepas.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6