Liputan6.com, Jakarta - Melihat buah hati mengalami rasa sakit secara fisik maupun emosional akibat perundungan (bullying) di sekolah adalah situasi yang sangat memilukan bagi setiap orang tua. Perundungan bukan sekadar insiden kenakalan biasa, melainkan sebuah pola perilaku agresif berulang yang didasari oleh ketimpangan kekuasaan serta niat untuk menyakiti. Berdasarkan panduan dari lembaga internasional seperti UNICEF dan National Bullying Prevention Center, dampak perundungan dapat berakibat fatal bagi kesehatan mental anak, mulai dari kecemasan ekstrem, penurunan prestasi akademik, hingga depresi jangka panjang. Oleh karena itu, peran aktif orang tua sangat krusial dalam menyelamatkan, mendampingi, dan memulihkan rasa percaya diri anak agar mereka kembali merasa aman di lingkungan sekolah.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak, artikel ini menyajikan panduan mendalam berbasis riset mengenai berbagai langkah efektif yang dapat dilakukan oleh orang tua. Jadi simak panduan lengkap pendampingan anak korban bullying selengkapnya, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026).
1. Dengarkan Secara Terbuka dan Tenang Tanpa Menghakimi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367607/original/090915900_1791357389-1.jpg)
Langkah paling awal dan mendasar saat anak mengaku atau menunjukkan tanda-tanda menjadi korban perundungan adalah dengan mendengarkan cerita mereka secara sabar dan penuh ketenangan. Orang tua harus menciptakan ruang yang aman dan suportif agar anak merasa didengar, dihargai, serta tidak merasa dihakimi atas apa yang sedang menimpa mereka. Seringkali anak merasa takut atau malu untuk berbicara karena khawatir disalahkan, sehingga respon pertama orang tua sangat menentukan apakah mereka akan terus terbuka atau justru menutup diri.
Selain mendengarkan secara aktif, orang tua perlu memberikan validasi emosional dan penegasan yang jelas bahwa situasi buruk tersebut sama sekali bukan kesalahan mereka. Menurut panduan dari PACER’s National Bullying Prevention Center, sangat penting bagi anak untuk mendengar secara langsung dari orang tua bahwa mereka tidak layak diperlakukan demikian, bahwa mereka berhak merasa aman, dan bahwa kehadiran orang tua adalah jaminan perlindungan penuh. Sikap tenang dan penuh penerimaan ini akan membantu meredakan kecemasan anak serta memulihkan rasa berharga diri mereka secara perlahan setelah mengalami tekanan psikologis yang hebat.
Advertisement
2. Berikan Validasi, Dukungan Emosional, dan Reassurance yang Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367608/original/001632000_1791357390-2.jpg)
Setelah mendengarkan kronologi kejadian, penguatan emosional berupa reassurance atau penenteraman hati wajib diberikan secara konsisten kepada anak. Katakan pada mereka bahwa orang tua bangga karena mereka sudah berani berbicara jujur, dan tegaskan bahwa keluarga akan selalu mendampingi serta membantu mencari jalan keluar terbaik. Dukungan emosional yang kuat dari rumah terbukti menjadi benteng pertahanan utama yang dapat meminimalkan dampak psikologis jangka panjang dari tindakan perundungan di sekolah.
Organisasi National Children’s Bureau (NCB) dalam panduan antiperundungannya menekankan pentingnya menjaga komunikasi yang jujur serta berjanji untuk tidak mengambil tindakan apa pun tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan anak. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan rasa kontrol diri anak yang sempat hilang akibat intimidasi pelaku. Dengan melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan selanjutnya, mereka akan merasa dihargai sebagai individu yang memiliki suara atas keselamatan dan masa depan mereka sendiri di lingkungan sosialnya.
3. Dokumentasikan Kejadian Secara Detail dan Pelajari Hak-Hak Hukum Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367609/original/012495900_1791357390-3.jpg)
Pencatatan yang sistematis merupakan strategi taktis yang sering kali diabaikan oleh orang tua padahal memiliki nilai bukti yang sangat kuat saat menghadap pihak sekolah. Orang tua dianjurkan untuk membuat catatan harian atau log kronologis yang memuat tanggal, waktu, bentuk perundungan, nama pihak yang terlibat, serta dampak fisik maupun psikologis yang dialami anak. Prinsip dasarnya sederhana namun krusial: jika sebuah kejadian tidak tertulis secara resmi, maka secara administratif hal tersebut akan sulit dibuktikan saat melakukan eskalasi penanganan.
Selain pencatatan data, orang tua juga perlu memahami regulasi perlindungan anak serta kebijakan resmi antiperundungan (anti-bullying policy) yang berlaku di sekolah maupun di tingkat nasional. Berdasarkan rekomendasi dari lembaga pemerintah dan pemerhati anak, mengetahui hak-hak hukum serta tata tertib sekolah akan memberikan posisi tawar dan dasar argumen yang kokoh ketika orang tua harus berdiskusi secara formal dengan guru, konselor, atau kepala sekolah guna menuntut tindakan tegas yang proporsional.
Â
Advertisement
4. Berkoordinasi dengan Guru, Konselor, dan Pihak Institusi Sekolah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367610/original/023022600_1791357390-4.jpg)
Menghadapi perundungan tidak boleh dilakukan secara sendirian oleh orang tua, melainkan harus melibatkan kerja sama yang erat dengan pihak sekolah tempat insiden tersebut terjadi. Orang tua perlu menjadwalkan pertemuan formal dengan guru kelas, wali kelas, atau konselor sekolah untuk memaparkan data dan catatan kejadian yang telah dikumpulkan. Tujuannya adalah membangun kesepahaman bersama bahwa keselamatan dan kesejahteraan psikologis siswa merupakan prioritas utama yang harus diselesaikan secara kolaboratif.
Dalam proses koordinasi ini, pastikan untuk meminta pihak sekolah mengambil langkah perlindungan tanpa membuat anak korban merasa terisolasi atau disinggung secara berlebihan. Sebagai contoh, usulkan penataan ulang denah tempat duduk di kelas atau rute pengawasan yang lebih ketat tanpa memaksa anak korban untuk pindah kelas atau jalur bus secara sepihak, karena hal tersebut justru dapat membuat mereka merasa seolah-olah dihukum atas kesalahan yang tidak mereka perbuat. Pemantauan dan evaluasi berkala juga harus terus dilakukan bersama pihak sekolah hingga perilaku perundungan tersebut benar-benar berhenti secara permanen.
Â
5. Bantu Anak Membangun Rasa Percaya Diri dan Keterampilan Sosial Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367611/original/034173700_1791357390-5.jpg)
Pemulihan jangka panjang bagi korban perundungan memerlukan penguatan kapasitas diri agar anak kembali memiliki ketahanan mental (resilience) yang tangguh. Orang tua dapat membantu anak mengenali kelebihan dan minat positif mereka dengan cara mendorong keterlibatan dalam kegiatan ekstrakurikuler, komunitas hobi, kursus seni, atau klub olahraga di luar jam sekolah. Aktivitas yang membangun ini tidak hanya mengalihkan fokus anak dari trauma masa lalu, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka untuk menemukan kelompok pertemanan baru yang sehat dan suportif.
Selain itu, hindari memberikan saran keliru seperti menyuruh anak untuk membalas perundungan secara fisik atau sekadar mengabaikan begitu saja tanpa solusi yang memadai. Sebaliknya, latih anak untuk merespons situasi secara asertif, berlatih cara berjalan dengan percaya diri, serta mengajarkan langkah-langkah konkret untuk segera mencari bantuan kepada orang dewasa terpercaya ketika tanda-tanda intimidasi mulai muncul kembali. Dengan fondasi kepercayaan diri yang kokoh, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan terlindungi dari dampak buruk perundungan di masa depan.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Pendampingan Anak Korban Bullying
Q:Â Apa tanda-tanda utama jika anak menjadi korban perundungan di sekolah?
A: Anak yang menjadi korban perundungan sering kali menunjukkan perubahan perilaku yang drastis, seperti ketakutan ekstrem saat hendak berangkat sekolah, penurunan prestasi akademik yang mencolok, hilangnya barang-barang pribadi secara misterius, keluhan fisik berulang tanpa sebab medis (seperti sakit kepala atau sakit perut), serta menjadi lebih tertutup dan mudah cemas.
Q:Â Apakah orang tua harus langsung mendatangi dan melabrak pelaku perundungan atau orang tuanya?
A: Para ahli dan lembaga pemerhati anak sangat tidak menyarankan orang tua untuk mendatangi langsung pelaku atau orang tuanya secara emosional. Tindakan konfrontatif semacam itu justru berisiko memperburuk situasi, memicu konflik antar-keluarga, dan membuat anak korban merasa semakin tertekan. Langkah terbaik adalah menyelesaikan masalah secara formal melalui jalur institusi sekolah dengan melibatkan guru atau konselor sebagai mediator.
Q:Â Bagaimana jika pihak sekolah terkesan mengabaikan laporan perundungan yang disampaikan?
A: Jika pihak sekolah tidak memberikan respon yang memadai, orang tua dapat menggunakan dokumentasi tertulis yang telah dikumpulkan untuk menaikkan aduan ke tingkat pengawas sekolah yang lebih tinggi, Dinas Pendidikan setempat, atau lembaga perlindungan anak resmi. Keberadaan bukti tertulis yang otentik akan sangat membantu memperkuat posisi hukum dan desakan agar pihak sekolah segera mengambil tindakan korektif yang tegas.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367418/original/016331900_1791348185-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-07T114242.118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5421569/original/046140800_1763950258-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-24T082534.482.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367606/original/080407700_1791357389-Gemini_Generated_Image_syjk8vsyjk8vsyjk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367454/original/065654900_1791349173-hl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367532/original/076720000_1791353020-SnapInsta-Ai_2499253408504246426_279948745.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4139339/original/003301900_1661759510-pexels-tom-fisk-2126395.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321737/original/060703300_1786501343-Kereta_Api_Pandanwangi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5416532/original/007912200_1763453860-unnamed__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367497/original/084355900_1791351439-HL_Tata_kota.jpg)