Liputan6.com, Jakarta - Bottom watering tanaman hias menjadi salah satu cara menyiram yang menarik dicoba ketika air sering hanya mengalir di permukaan atau sisi pot. Metode ini dilakukan dengan membiarkan media tanam menyerap air melalui lubang drainase di bagian bawah pot, sehingga kelembapan bergerak perlahan dari bawah ke atas.
Bagi tanaman dalam pot kecil, cara ini juga dapat membantu mengurangi risiko daun terkena cipratan air. Hal tersebut berguna terutama pada tanaman yang memiliki daun berbulu, tajuk rapat, atau bagian daun dan mahkota yang sensitif terhadap kelembapan berlebih.
Namun, bottom watering bukan berarti tanaman harus terus-menerus diletakkan di dalam air. Ada tahapan, durasi, dan kondisi media tanam yang perlu diperhatikan agar akar mendapatkan kelembapan tanpa membuat pot terlalu lama tergenang. Berikut ulasan Liputan6.com, Jumat (25/9/2026).
Advertisement
Apa Itu Bottom Watering Tanaman Hias?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358018/original/071190500_1790319501-bottom_watering_1.jpeg)
Bottom watering atau penyiraman dari bawah adalah teknik memberikan air dengan menempatkan pot di dalam wadah berisi air. Air kemudian masuk melalui lubang drainase dan perlahan diserap oleh media tanam melalui proses kapilaritas.
National Parks Board (NParks) Singapura menjelaskan bahwa pada metode ini pot dapat direndam sebagian dalam air hingga media tanam menyerap kelembapan. Air bergerak ke bagian media yang lebih kering sampai kelembapannya meningkat. Teknik tersebut terutama sesuai untuk tanaman dalam pot berukuran kecil yang mudah dipindahkan.
The Spruce juga menjelaskan bottom watering sebagai reverse watering, yaitu pemberian air melalui tatakan atau dengan menempatkan pot di dalam wadah berisi air. Berbeda dari penyiraman dari atas, air tidak langsung dituangkan ke permukaan media, melainkan masuk melalui lubang di dasar pot.
Prinsip utamanya adalah kapilaritas. Media tanam yang kering akan menyerap air dari bagian bawah dan membawa kelembapan ke bagian yang lebih tinggi. Karena itu, bottom watering tanaman hias dapat menjadi pilihan ketika media terlalu kering sehingga air yang dituangkan dari atas justru cepat mengalir ke sisi pot atau keluar melalui lubang drainase.
Mengapa Penyiraman dari Bawah Bisa Bermanfaat?
Salah satu keuntungan bottom watering adalah air dapat terserap secara perlahan. Pada media yang sangat kering, penyiraman dari atas terkadang membuat air langsung melewati bagian tertentu tanpa membasahi seluruh media secara merata.
Dengan menempatkan bagian bawah pot di dalam air, media memiliki kesempatan untuk menyerap kelembapan dari bawah. NParks menyebut proses kapilaritas ini dapat membantu membuat pembasahan media lebih konsisten dibandingkan kondisi ketika air hanya mengalir di sepanjang sisi pot.
Metode ini juga membuat daun tetap kering. Hal tersebut penting bagi tanaman dengan daun berbulu atau tanaman yang sensitif terhadap air pada permukaannya. The Spruce, misalnya, menyebut African violet sebagai salah satu tanaman yang cocok disiram dari bawah karena daunnya tidak perlu terkena air.
Keuntungan lain adalah prosesnya relatif terkontrol. Air diberikan dari bawah dalam jumlah yang dapat diserap media, kemudian pot diangkat dan dibiarkan mengeluarkan kelebihan air.
Meski begitu, bottom watering bukan berarti tanaman otomatis terbebas dari risiko kelebihan air. Jika pot terlalu lama berada di dalam air atau penyiraman dilakukan terlalu sering, media tetap dapat terlalu basah. Karena itu, kondisi media dan kebutuhan tanaman tetap menjadi dasar utama.
Advertisement
Tanaman Apa yang Cocok Menggunakan Bottom Watering?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304814/original/016166600_1784773821-0a3eaa3e-8a39-4f74-b9ab-3c2d9060cc4a.jpg)
Pada dasarnya, banyak tanaman dalam pot dapat menggunakan metode ini selama pot memiliki lubang drainase yang cukup dan media tanam mampu menyerap air. Namun, beberapa jenis tanaman memiliki alasan khusus untuk mendapatkan manfaat dari penyiraman dari bawah.
Tanaman dengan daun sensitif terhadap air
Tanaman yang memiliki daun berbulu atau permukaan daun yang mudah rusak dapat menjadi kandidat yang baik. African violet merupakan contoh yang disebut oleh NParks dan The Spruce.
Tanaman seperti begonia dan cyclamen juga dapat dipertimbangkan karena bagian daun atau mahkotanya dapat mengalami masalah jika terlalu sering terkena air. Penyiraman dari bawah memungkinkan air mencapai media tanpa harus membasahi bagian atas tanaman.
Tanaman dengan media yang sangat kering
Bottom watering tanaman hias juga berguna ketika media sudah sangat kering. Dalam kondisi tersebut, air yang dituangkan dari atas dapat langsung mengalir keluar melalui celah di antara media dan dinding pot.
Penyiraman perlahan dari bawah memberi waktu bagi media untuk menarik air melalui lubang drainase. Setelah bagian atas media mulai terasa lembap, pot dapat diangkat dan ditiriskan.
Tanaman dalam pot berukuran kecil
Ukuran pot juga penting. NParks menyarankan metode ini terutama untuk tanaman yang cukup kecil dan ringan untuk dipindahkan.
Media yang sudah menyerap banyak air akan menjadi jauh lebih berat. Karena itu, pot besar yang sulit diangkat sebaiknya tidak dipaksakan menggunakan metode ini.
The Spruce juga mengingatkan bahwa wadah yang sangat besar lebih praktis disiram dari atas, terutama jika berat pot akan bertambah setelah media menyerap air.
Cara Melakukan Bottom Watering dengan Benar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358019/original/077443200_1790319501-bottom_watering_2.jpeg)
Melakukan bottom watering tanaman hias sebenarnya cukup sederhana, tetapi ada beberapa tahapan yang sebaiknya tidak dilewati.
1. Periksa kondisi media terlebih dahulu.
Jangan menyiram hanya karena sudah beberapa hari sejak penyiraman terakhir. Periksa kelembapan media dengan jari atau perhatikan apakah pot terasa lebih ringan. NParks menyarankan media yang digunakan untuk bottom watering berada dalam kondisi cukup kering, termasuk bagian permukaan hingga beberapa sentimeter ke bawah.
2. Siapkan wadah yang cukup besar.
Gunakan baskom, ember, bak, atau wastafel yang dapat menampung pot. Masukkan air bersuhu ruang ke dalam wadah.
3. Atur ketinggian air.
Menurut NParks, air dapat diisi hingga sekitar setengah sampai tiga perempat tinggi pot. The Spruce memberikan panduan agar air setidaknya mencapai bagian bawah pot sehingga air dapat masuk melalui lubang drainase.
4. Masukkan pot dengan hati-hati.
Letakkan pot di dalam wadah tanpa membuat air mengenai bagian daun. Pastikan lubang drainase berada di dalam jangkauan air.
5. Tunggu sampai media mulai lembap.
Waktunya tidak selalu sama. NParks menyebut prosesnya dapat berlangsung sekitar 20 menit hingga satu jam, tergantung ukuran pot dan jenis media. The Spruce menyebut pot kecil dapat membutuhkan sekitar 15 menit sebagai patokan awal.
Jangan menjadikan durasi tersebut sebagai aturan mutlak. Media yang sangat kering atau pot yang lebih besar mungkin membutuhkan waktu lebih lama.
6. Angkat dan tiriskan.
Setelah bagian atas media terasa lembap, angkat pot dari wadah. Biarkan air berlebih keluar melalui lubang drainase sebelum pot dikembalikan ke tempatnya.
Langkah terakhir ini penting. Pot sebaiknya tidak dibiarkan berdiri di dalam genangan air setelah proses selesai.
Advertisement
Jangan Mengandalkan Bottom Watering Sepenuhnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358020/original/083930500_1790319501-bottom_watering_4.jpeg)
Meskipun bottom watering tanaman hias memiliki beberapa kelebihan, metode ini bukan pengganti permanen penyiraman dari atas untuk semua tanaman.
The Spruce menjelaskan bahwa penyiraman dari atas tetap diperlukan secara berkala untuk membantu membilas garam terlarut yang dapat menumpuk di media akibat penggunaan pupuk. Air diberikan sampai keluar melalui lubang drainase, kemudian air yang menggenang di tatakan harus dibuang.
Hal tersebut menunjukkan bahwa metode penyiraman sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Bottom watering dapat digunakan sebagai bagian dari rutinitas, bukan aturan tunggal yang berlaku untuk setiap tanaman.
Perhatikan pula jenis media. Media yang terlalu padat atau memiliki kemampuan menyerap air yang buruk mungkin tidak memberikan hasil yang sama seperti media dengan struktur yang mampu menarik dan mendistribusikan air.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Kesalahan paling umum adalah membiarkan pot terlalu lama berada di dalam air. Bottom watering seharusnya dilakukan sampai media cukup lembap, bukan sampai tanaman terus-menerus tergenang.
Kesalahan berikutnya adalah mengabaikan lubang drainase. Tanpa lubang di dasar pot, air tidak dapat masuk ke media melalui mekanisme yang diharapkan. Pot juga berisiko menyimpan air secara berlebihan.
Jangan pula menggunakan jadwal penyiraman yang kaku. Kebutuhan air berbeda-beda berdasarkan jenis tanaman, ukuran pot, media, suhu, cahaya, dan kondisi lingkungan. Lebih aman memeriksa kondisi media sebelum menentukan apakah tanaman memang perlu disiram.
The Spruce juga mencatat bahwa tanaman yang cocok disiram dari bawah tetap perlu mendapatkan penyiraman dari atas secara berkala untuk membantu mengeluarkan akumulasi garam pupuk dari media.
Seberapa Sering Bottom Watering Dilakukan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5484770/original/059422400_1769484473-unnamed__1_.jpg)
Tidak ada satu jadwal yang cocok untuk semua tanaman. Tanaman yang menyukai media lebih lembap tentu memiliki kebutuhan berbeda dari sukulen atau tanaman yang lebih tahan kering.
Alih-alih menetapkan jadwal seperti dua atau tiga hari sekali, periksa kondisi media. Jika bagian media masih lembap, penyiraman dapat ditunda. Sebaliknya, jika media sudah cukup kering dan karakter tanaman memang membutuhkan air, bottom watering dapat dilakukan.
Untuk sukulen dan tanaman yang toleran terhadap kondisi kering, frekuensi penyiraman biasanya tidak perlu sesering tanaman yang membutuhkan kelembapan konsisten. Yang terpenting adalah menghindari kondisi media yang terus-menerus basah.
Dengan demikian, keberhasilan bottom watering tanaman hias bukan hanya ditentukan oleh cara memasukkan pot ke dalam air, tetapi juga oleh kemampuan mengenali kapan tanaman benar-benar membutuhkan air.
Pertanyaan Seputar Bottom Watering
1. Apa yang dimaksud dengan bottom watering?
Bottom watering adalah teknik menyiram tanaman dengan meletakkan pot di dalam wadah berisi air. Air kemudian diserap melalui lubang drainase dan bergerak naik ke media tanam melalui kapilaritas.
2. Berapa lama tanaman direndam saat bottom watering?
Durasi bergantung pada ukuran pot, jenis media, dan tingkat kekeringan. NParks menyebut sekitar 20 menit hingga satu jam, sedangkan The Spruce mencatat pot kecil dapat membutuhkan sekitar 15 menit. Gunakan kelembapan media sebagai indikator utama, bukan hanya waktu.
3. Apakah bottom watering bisa menyebabkan akar busuk?
Bisa jika dilakukan terlalu sering atau pot dibiarkan berada di dalam air terlalu lama. Setelah media cukup lembap, pot perlu diangkat dan ditiriskan. Tanaman tidak seharusnya dibiarkan duduk di dalam genangan air selama berjam-jam atau semalaman.
4. Apakah semua tanaman hias bisa disiram dari bawah?
Banyak tanaman pot dapat menggunakan metode ini jika memiliki lubang drainase dan media yang dapat menyerap air. Namun, tanaman besar dan berat mungkin kurang praktis karena pot menjadi semakin berat setelah media basah.
5. Apakah tetap perlu menyiram tanaman dari atas?
Ya, penyiraman dari atas tetap dapat diperlukan secara berkala. Menurut The Spruce, penyiraman dari atas sampai air keluar melalui lubang drainase membantu membilas garam terlarut yang dapat menumpuk akibat pemupukan. Air yang terkumpul di tatakan kemudian perlu dibuang.
Â
Â
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322276/original/052969300_1786524029-IMG_2901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264387/original/067811000_1782109347-PLN_-_cek_fakta_lip6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259429/original/010721900_1781500706-cek_fakta_cpns_PUPR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357854/original/064380600_1790310156-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-25T112030.995.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358017/original/064603500_1790319501-bottom_watering_3.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358022/original/001180800_1790319616-Gemini_Generated_Image_9u7cvf9u7cvf9u7c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4823411/original/015105800_1714990585-IMG_2377.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358060/original/084470200_1790321176-Ombudsman.jpeg)