Liputan6.com, Jakarta - Mengajak anak bermain di laut atau kolam renang memang menyenangkan, tetapi air juga memiliki risiko yang tidak boleh diremehkan. Anak-anak, terutama yang masih kecil, belum selalu mampu mengenali bahaya atau menilai kemampuan dirinya sendiri di dalam air.
Bahkan anak yang sudah bisa berenang tetap dapat mengalami keadaan darurat ketika menghadapi kedalaman yang berbeda, kelelahan, arus, ombak, atau situasi tidak terduga. WHO menekankan bahwa anak termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap tenggelam dan pengawasan orang dewasa menjadi salah satu lapisan penting pencegahan.
Karena itu, kemampuan berenang sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya jaminan keselamatan. American Academy of Pediatrics (AAP) juga menekankan pendekatan berlapis, yang mencakup pengawasan orang dewasa, keterampilan berenang dan keselamatan di air, penggunaan perlengkapan keselamatan yang tepat, serta lingkungan perairan yang lebih aman.
Advertisement
Lantas bagaimana saja cara menjaga keselamatan anak di laut dan kolam renang yang bukan sekadar bisa berenang? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (14/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Awasi Anak Secara Aktif dan Terus-Menerus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6192835/original/038779700_1779072628-cropped-95552d1c-cf9d-4fe8-9e6c-bcf67404b759.jpg)
Pengawasan merupakan salah satu langkah paling penting ketika anak berada di dalam atau di sekitar air. Jangan menganggap anak aman hanya karena berada di kolam yang dangkal, menggunakan pelampung, atau sudah mengikuti les berenang. Orang dewasa yang bertugas mengawasi sebaiknya benar-benar memperhatikan anak dan berada dalam posisi yang memungkinkan untuk memberikan pertolongan dengan cepat. WHO menyarankan agar anak tidak dibiarkan tanpa pengawasan di dekat air, bahkan untuk waktu yang singkat.
Untuk bayi, balita, dan anak yang kemampuan berenangnya masih terbatas, pengawasan perlu dilakukan dari jarak sangat dekat. AAP dalam rekomendasi terbarunya menyebut bahwa untuk bayi, balita, atau perenang yang lemah, orang dewasa yang mampu berenang sebaiknya berada dalam jangkauan lengan dan memberikan touch supervision, sehingga dapat segera memegang anak jika terjadi masalah.
Pengawasan juga berarti tidak terdistraksi oleh ponsel, percakapan, membaca, atau aktivitas lain. Sebaiknya tentukan satu orang dewasa yang memang bertanggung jawab mengawasi anak, terutama ketika berada bersama rombongan keluarga. Jika pengawas perlu meninggalkan area air, tanggung jawab tersebut harus dialihkan secara jelas kepada orang dewasa lain, bukan berasumsi bahwa orang lain akan otomatis memperhatikan.
Advertisement
2. Ajarkan Anak Berenang dan Keterampilan Keselamatan di Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379035/original/002185700_1760332848-pexels-franco-monsalvo-252430633-30111566.jpg)
Les berenang dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan penting bagi anak. Anak bukan hanya perlu belajar menggerakkan tubuh di air, tetapi secara bertahap juga dapat diajarkan keterampilan keselamatan seperti mengenali batas kemampuan, mengapung, masuk dan keluar dari air dengan aman, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan. WHO merekomendasikan pengajaran keterampilan dasar berenang dan keselamatan di air sebagai salah satu pendekatan pencegahan tenggelam.
Namun, kemampuan berenang tidak boleh dianggap membuat anak “kebal tenggelam”. AAP secara tegas menyatakan bahwa pelajaran berenang sekalipun tidak dapat membuat anak sepenuhnya bebas dari risiko tenggelam. Kemampuan anak juga dapat berbeda berdasarkan kondisi air, jarak, kedalaman, kelelahan, dan situasi yang dihadapi. Karena itu, anak yang sudah pandai berenang tetap membutuhkan pengawasan ketika berada di sekitar air.
Pilih program berenang yang sesuai dengan usia, kemampuan, kondisi fisik, dan kesiapan anak. Jangan memaksa anak mengikuti latihan yang membuatnya panik atau takut terhadap air. Selain teknik berenang, biasakan anak memahami aturan sederhana, seperti tidak berlari di sekitar kolam, tidak mendorong teman ke air, tidak berenang sendirian, serta selalu mengikuti instruksi orang dewasa atau petugas keselamatan.
3. Pilih Kolam Renang yang Memiliki Pengamanan dan Pengawas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1331311/original/041134300_1472458626-rumah_dengan_kolam_renang_anak.jpeg)
Tidak semua kolam renang memiliki tingkat keamanan yang sama. Sebelum membawa anak, perhatikan apakah area tersebut memiliki petugas penyelamat atau lifeguard, batas kedalaman yang jelas, permukaan sekitar kolam yang tidak terlalu licin, akses keluar yang mudah, serta aturan keselamatan yang diterapkan dengan baik. Kehadiran lifeguard dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan, tetapi bukan pengganti pengawasan orang tua.
AAP memasukkan lingkungan yang lebih aman, pengawasan ketat, serta keberadaan lifeguard sebagai bagian dari pendekatan berlapis untuk mencegah tenggelam. Orang tua tetap perlu mengetahui posisi anak dan tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada petugas kolam.
Jika kolam memiliki area dengan kedalaman berbeda, pilih bagian yang sesuai dengan kemampuan anak. Jangan membiarkan anak yang belum mampu berenang masuk ke area dalam hanya karena terlihat tenang atau karena ada anak lain yang berenang di sana. Sebelum bermain, jelaskan pula batas area yang boleh digunakan agar anak tidak berpindah ke tempat yang lebih berisiko tanpa sepengetahuan orang tua.
Advertisement
4. Gunakan Jaket Pelampung yang Tepat Saat Beraktivitas di Laut
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243758/original/087008600_1749112861-boy-pool-with-float.jpg)
Ketika anak berada di atas perahu, kapal kecil, atau melakukan aktivitas lain di perairan terbuka, penggunaan jaket pelampung yang sesuai sangat penting. Kemampuan berenang saja tidak cukup untuk menghadapi keadaan darurat di laut karena kondisi air dapat berubah, termasuk adanya gelombang, arus, jarak dari daratan, atau anak terjatuh secara tiba-tiba. WHO juga menekankan pentingnya penggunaan jaket pelampung ketika melakukan perjalanan di atas air.
Pilih jaket pelampung yang memang dirancang untuk anak dan sesuai dengan ukuran serta berat badannya. Jangan menganggap pelampung mainan tiup, ban renang, atau alat bantu apung rekreasi sebagai pengganti jaket pelampung keselamatan. Perlengkapan tersebut dapat memiliki fungsi berbeda dan tidak selalu dirancang untuk menyelamatkan seseorang dalam kondisi darurat.
Sebelum berangkat, pastikan jaket terpasang dengan benar dan tidak terlalu longgar. Ajarkan anak bahwa jaket pelampung bukan sesuatu yang hanya dipakai ketika sudah berada dalam bahaya, melainkan perlengkapan keselamatan yang digunakan sejak aktivitas di atas air dimulai. AAP juga merekomendasikan jaket pelampung yang sesuai untuk anak kecil, non-perenang, dan anak yang berada di atas perahu.
5. Periksa Kondisi Ombak, Arus, Cuaca, dan Area Pantai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573003/original/033789500_1777878258-2150944545.jpg)
Laut berbeda dengan kolam renang karena kondisi airnya dapat berubah. Ombak, arus, pasang-surut, angin, dan cuaca dapat memengaruhi keamanan dalam waktu relatif singkat. Karena itu, jangan hanya melihat apakah permukaan laut tampak tenang ketika tiba di pantai. Perhatikan informasi cuaca dan kondisi perairan serta ikuti peringatan atau larangan yang diberikan oleh petugas setempat. WHO juga menyarankan masyarakat memeriksa kondisi cuaca dan air sebelum berenang atau melakukan aktivitas di atas air.
Pilih pantai yang memiliki area berenang resmi dan, jika memungkinkan, berada dalam jangkauan pengawasan lifeguard. Hindari membawa anak ke area yang memiliki tanda peringatan, arus kuat, ombak besar, tebing, bebatuan berbahaya, atau lokasi yang memang tidak diperuntukkan bagi aktivitas berenang. Jangan membiarkan anak menentukan sendiri batas aman hanya karena melihat orang lain berenang di tempat tersebut.
Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan cuaca selama berada di pantai. Jika muncul petir, angin kencang, gelombang meningkat, atau petugas meminta pengunjung keluar dari air, segera ajak anak meninggalkan area perairan. Lebih baik mengakhiri aktivitas lebih awal daripada mempertahankan rencana bermain ketika kondisi sudah tidak mendukung keselamatan.
Advertisement
6. Ajarkan Aturan Dasar Sebelum Anak Masuk ke Air
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5573004/original/072282500_1777878258-2150903845.jpg)
Anak perlu mengetahui aturan sederhana sebelum bermain air, bukan baru diberi tahu ketika sudah berada di dalam kolam. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami mengenai area yang boleh digunakan, kapan harus meminta izin, larangan berlari di sekitar kolam, serta pentingnya mengikuti instruksi orang dewasa. Anak yang memahami aturan sejak awal cenderung lebih siap mengenali situasi yang tidak aman.
Beberapa aturan dapat dibuat sebagai kebiasaan keluarga, misalnya tidak masuk ke air sendirian, tidak mendorong teman, tidak bercanda dengan cara menenggelamkan orang lain, dan tidak masuk ke area yang lebih dalam tanpa izin. Untuk anak yang lebih kecil, orang tua dapat menggunakan kalimat pendek dan mengulanginya setiap kali beraktivitas di air. Pengulangan membantu aturan menjadi lebih familiar.
Anak juga perlu memahami bahwa jika merasa lelah, kedinginan, panik, atau tidak nyaman, ia harus segera memberi tahu orang dewasa. Jangan mengajarkan anak untuk menyembunyikan rasa takut atau memaksakan diri agar terlihat berani. Kemampuan mengenali batas tubuh sendiri merupakan bagian dari keselamatan di air yang tidak kalah penting dibandingkan kemampuan berenang.
7. Jangan Mengandalkan Ban atau Pelampung Mainan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4954891/original/027512300_1727436013-pexels-higarcia-17257977.jpg)
Ban renang, matras, atau mainan air memang dapat membuat aktivitas di kolam lebih menyenangkan, tetapi benda tersebut tidak boleh dianggap sebagai pengganti pengawasan atau perlengkapan keselamatan. Alat bantu apung rekreasi dapat bergerak, terbalik, atau terlepas dari posisi anak. Karena itu, jangan membiarkan anak berada sendirian di air hanya karena ia sedang menggunakan alat apung.
Orang tua sebaiknya membedakan antara mainan air, alat bantu belajar berenang, dan perangkat keselamatan. Masing-masing memiliki tujuan berbeda. Untuk aktivitas tertentu di perairan terbuka, gunakan jaket pelampung yang sesuai dan memenuhi standar keselamatan yang berlaku, bukan sekadar benda yang membuat tubuh terasa mengapung. AAP secara khusus merekomendasikan penggunaan jaket pelampung untuk anak kecil, non-perenang, dan anak yang berada di atas perahu.
Jika anak menggunakan alat bantu saat belajar berenang, tetap berada di dekatnya dan jangan menganggap alat tersebut menjamin keselamatan. Ajarkan pula bahwa benda tersebut bukan alasan untuk pergi ke bagian kolam yang lebih dalam. Dengan demikian, anak dapat memahami bahwa perlengkapan apung hanyalah salah satu bagian dari keselamatan, bukan pengganti keterampilan dan pengawasan.
Advertisement
8. Pastikan Area Kolam dan Akses Menuju Air Aman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309482/original/011730800_1785229458-3.jpg)
Jika memiliki kolam renang di rumah, langkah pencegahan sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika anak sedang berenang. Area kolam perlu dibuat sedemikian rupa sehingga anak kecil tidak dapat dengan mudah masuk tanpa sepengetahuan orang dewasa. WHO merekomendasikan penggunaan penghalang untuk membatasi akses anak ke sumber air berbahaya, termasuk pagar kolam renang.
AAP juga menekankan pentingnya pagar empat sisi yang benar-benar mengelilingi kolam dan memisahkannya dari rumah. Tujuannya adalah mencegah anak mengakses kolam tanpa pengawasan. Selain pagar, perhatikan pula pintu atau gerbang akses agar selalu tertutup dan memiliki sistem penguncian yang sesuai.
Area di sekitar kolam juga perlu diperhatikan. Singkirkan benda yang dapat membuat anak terpeleset atau menjadi pijakan untuk memanjat pagar. Jangan meletakkan mainan menarik di dalam kolam setelah selesai berenang karena anak mungkin tergoda mengambilnya sendiri. Prinsipnya, keselamatan perlu dirancang dari lingkungan sehingga anak tidak harus selalu mengandalkan kemampuan untuk mengambil keputusan yang belum tentu sudah matang.
9. Orang Dewasa yang Mengawasi Harus Siap Bertindak dalam Keadaan Darurat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309008/original/008353700_1785214554-cropped-80add195-b5c8-434b-ad4f-f7e1cc5cce1e.jpg)
Pengawasan akan lebih efektif jika orang dewasa yang bertugas benar-benar tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Keluarga sebaiknya mengetahui lokasi petugas keselamatan, akses keluar dari kolam, serta cara meminta bantuan. Jika membawa anak ke pantai atau kolam baru, luangkan waktu untuk mengenali lokasi fasilitas pertolongan dan jalur keluar.
Kemampuan melakukan pertolongan pertama dan CPR juga dapat menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. WHO memasukkan pelatihan penyelamatan dan resusitasi sebagai salah satu strategi pencegahan tenggelam, sementara AAP merekomendasikan orang tua dan pengasuh mempelajari CPR serta teknik penyelamatan yang aman.
Namun, orang tua juga perlu mengutamakan keselamatan diri ketika memberikan pertolongan. Jangan langsung melompat ke air yang berbahaya jika tidak memiliki kemampuan penyelamatan karena dapat membuat jumlah korban bertambah. Jika terjadi keadaan darurat, segera minta bantuan petugas atau layanan darurat setempat dan lakukan pertolongan sesuai pelatihan yang dimiliki. Untuk situasi medis serius, evaluasi tenaga kesehatan tetap diperlukan meskipun anak tampak membaik setelah kejadian.
Advertisement
10. Kenali Batas Kemampuan Anak dan Jangan Memaksanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4088997/original/025958900_1657793496-pexels-edneil-jocusol-2326887.jpg)
Setiap anak memiliki kemampuan berenang, keberanian, stamina, dan respons terhadap air yang berbeda. Anak yang terlihat percaya diri di kolam dangkal belum tentu siap menghadapi kolam dalam atau laut. Karena itu, orang tua sebaiknya menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan aktual anak, bukan berdasarkan usia saja atau perbandingan dengan anak lain.
Perhatikan tanda-tanda seperti anak mulai kelelahan, menggigil karena kedinginan, panik, kesulitan mempertahankan posisi tubuh, atau terus meminta bantuan. Jika muncul tanda tersebut, segera hentikan aktivitas dan ajak anak keluar dari air. Jangan memaksanya menyelesaikan jarak tertentu atau terus berenang hanya karena sebelumnya berhasil melakukannya.
Pada akhirnya, keselamatan anak di laut dan kolam renang membutuhkan beberapa lapisan perlindungan sekaligus. Kemampuan berenang memang penting, tetapi harus disertai pengawasan aktif, pemilihan lingkungan yang aman, keterampilan keselamatan di air, perlengkapan yang tepat, dan kesiapan orang dewasa menghadapi keadaan darurat. WHO menegaskan bahwa tidak ada satu intervensi tunggal yang cukup untuk mencegah tenggelam; berbagai langkah pencegahan perlu diterapkan bersama.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Menjaga Keselamatan Anak di Laut dan Kolam Renang
1. Apakah anak yang sudah bisa berenang tetap perlu diawasi?
Ya, tetap perlu. Kemampuan berenang tidak membuat anak sepenuhnya terbebas dari risiko tenggelam. Kondisi air, kelelahan, kedalaman, arus, ombak, atau situasi panik dapat membuat anak kesulitan meskipun sebelumnya mampu berenang dengan baik. Karena itu, pengawasan orang dewasa tetap menjadi bagian penting dari keselamatan anak.
2. Apa cara paling penting menjaga keselamatan anak di laut dan kolam renang?
Salah satu langkah terpenting adalah pengawasan aktif dan terus-menerus ketika anak berada di dalam atau sekitar air. Untuk anak kecil atau yang kemampuan berenangnya masih terbatas, orang dewasa sebaiknya berada cukup dekat sehingga dapat segera memberikan pertolongan jika terjadi masalah.
3. Apakah pelampung bisa menggantikan pengawasan orang tua?
Tidak. Ban renang, pelampung mainan, dan alat bantu apung rekreasi tidak boleh dianggap sebagai pengganti pengawasan. Benda tersebut dapat bergeser, terbalik, atau terlepas dari tubuh anak. Untuk aktivitas tertentu di perairan terbuka, gunakan jaket pelampung yang sesuai dengan ukuran dan berat badan anak.
4. Apakah anak perlu mengikuti les berenang?
Les berenang dapat membantu anak mengembangkan keterampilan berenang dan keselamatan di air. Anak dapat belajar kemampuan seperti mengapung, bergerak di air, masuk dan keluar dari kolam dengan aman, serta mengenali batas kemampuan tubuhnya. Namun, les berenang tetap bukan pengganti pengawasan orang dewasa.
5. Apa yang harus diperhatikan saat membawa anak ke pantai?
Perhatikan kondisi ombak, arus, cuaca, pasang-surut, kedalaman, serta peringatan dari petugas pantai. Sebaiknya pilih area berenang yang memang diperbolehkan dan berada dalam pengawasan lifeguard jika tersedia. Jangan mengizinkan anak bermain di area yang memiliki tanda bahaya atau kondisi air yang tidak aman.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/856256/original/042112000_1429499998-batik-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542214/original/027883300_1774936645-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8048512/original/040765400_1780894974-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-08T120236.131.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4842263/original/039942900_1716616217-Gorengan1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437507/original/004850100_1765254944-IMG-20251209-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323963/original/007708900_1786684217-1a62ee7b-fa8b-4cb5-821a-f7095fdc051d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311259/original/039619600_1785395510-HUTRI81_FA_Logo_Vektor_Main_Logo_Merah_Hitam_Latar_Putih.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323913/original/073539900_1786680755-pid5.jpg)