Paskah adalah Perayaan Sakral yang Lebih dari Sekadar Telur dan Kelinci, Ini Makna Tersembunyinya

Paskah adalah perayaan paling sakral dalam iman Kristen yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.

Diterbitkan 04 April 2026, 01:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setiap tahun, jutaan umat Kristen di seluruh penjuru dunia merayakan sebuah momen yang dianggap sebagai inti dari seluruh iman mereka. Bukan Natal, bukan Tahun Baru — melainkan Paskah. Namun bagi banyak orang di luar lingkaran tersebut, pertanyaan sederhana seperti "Paskah adalah perayaan apa sebenarnya?" ternyata tidak mudah dijawab secara lengkap. Sebagian hanya tahu bahwa Paskah identik dengan telur warna-warni dan kelinci menggemaskan, sementara makna sesungguhnya justru jauh lebih dalam dan penuh dimensi yang menarik untuk dijelajahi.

Berikut pengertian dasar tentang Paskah, sejarah panjang yang melintasi ribuan tahun, makna spiritual yang dirayakan oleh ratusan juta orang, hingga tradisi unik yang berkembang di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Apapun latar belakangmu, memahami Paskah berarti memahami salah satu perayaan paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber pada Sabtu (4/4/2026). 

Apa Itu Paskah?

Paskah adalah perayaan keagamaan paling agung dalam tradisi Kristen yang memperingati kebangkitan Yesus Kristus dari kematian setelah disalibkan. Dalam kalender liturgi gereja, Paskah menempati posisi tertinggi melampaui perayaan lainnya, termasuk Natal. Jika Natal merayakan kelahiran Yesus, maka Paskah merayakan kemenangan-Nya atas maut — sebuah peristiwa yang diyakini sebagai fondasi utama seluruh ajaran Kristen. Tanpa kebangkitan, tidak ada iman Kristen; itulah mengapa Paskah disebut sebagai "Ratu dari segala perayaan" oleh banyak teolog.

Secara linguistik, kata "Paskah" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Ibrani Pesach yang berarti "melewati" atau "melintas," merujuk pada peristiwa dalam Kitab Keluaran ketika malaikat maut melewati rumah-rumah bangsa Israel di Mesir. Dalam bahasa Inggris, perayaan ini disebut Easter, yang oleh sebagian sejarawan dikaitkan dengan nama dewi musim semi dalam mitologi Jerman kuno. Dua akar kata yang berbeda ini mencerminkan betapa Paskah adalah pertemuan antara tradisi panjang Yahudi dan perkembangan kebudayaan Kristen di Eropa.

Dalam konteks modern, Paskah dirayakan baik oleh umat Katolik maupun Protestan, meski dengan nuansa liturgi yang sedikit berbeda. Umat Katolik merayakannya dengan serangkaian ritual yang sangat terstruktur selama Pekan Suci, sementara gereja-gereja Protestan umumnya memusatkan perayaan pada Kebaktian Minggu Paskah dengan nuansa yang lebih variatif tergantung denominasi. Kendati begitu, inti perayaan keduanya sama: merayakan iman bahwa Yesus yang mati telah bangkit dan hidup.

Sejarah Paskah

Untuk memahami Paskah secara utuh, kita perlu melangkah jauh ke belakang, hingga ribuan tahun sebelum masehi. Akar Paskah Kristen tidak bisa dipisahkan dari tradisi Paskah Yahudi (Pesach), yang merayakan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir sebagaimana dicatat dalam Kitab Keluaran. Menurut narasi tersebut, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk mengorbankan domba dan mengoleskan darahnya di ambang pintu rumah mereka, sebagai tanda agar malaikat maut "melewati" rumah mereka tanpa membawa celaka. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi latar belakang simbolis dari pengorbanan Yesus dalam tradisi Kristen — di mana Ia disebut sebagai "Anak Domba Allah" yang darah-Nya menyelamatkan umat manusia.

Dalam catatan Perjanjian Baru, Yesus disalibkan pada masa perayaan Paskah Yahudi berlangsung di Yerusalem. Ia ditangkap, diadili, dan kemudian dihukum mati dengan cara penyaliban pada hari yang kini dikenal sebagai Jumat Agung. Tiga hari setelahnya, menurut kesaksian para murid, kubur Yesus ditemukan kosong dan Ia menampakkan diri kepada banyak orang dalam kondisi hidup. Peristiwa inilah yang menjadi titik kelahiran iman Kristen dan yang selanjutnya dirayakan setiap tahun oleh gereja-gereja di seluruh dunia sebagai Hari Paskah.

Pada abad-abad pertama Masehi, komunitas Kristen masih merayakan Paskah dengan cara yang sangat beragam dan sering kali mengikuti kalender Yahudi. Perdebatan mengenai kapan tepatnya Paskah harus dirayakan menjadi salah satu isu teologis paling panas di era Gereja Perdana. Perbedaan ini akhirnya diselesaikan pada Konsili Nicea tahun 325 Masehi, di mana para uskup dari seluruh kekaisaran Romawi sepakat menetapkan bahwa Paskah akan dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah tanggal 21 Maret.

Seiring berjalannya waktu, perayaan Paskah terus berkembang dan menyerap berbagai elemen budaya lokal di setiap wilayah yang dijangkau oleh agama Kristen. Di Eropa, simbol-simbol pra-Kristen yang berkaitan dengan musim semi dan kesuburan — seperti telur dan kelinci — perlahan terintegrasi ke dalam tradisi Paskah dan menyebar ke seluruh dunia melalui kolonisasi dan misi penginjilan. Hasilnya adalah perayaan Paskah yang kita kenal saat ini: perpaduan antara iman yang mendalam dengan tradisi budaya yang kaya dan beragam.

Makna dan Simbolisme Paskah

Makna Teologis

Dari sudut pandang teologi Kristen, Paskah adalah pusat gravitasi dari seluruh ajaran iman. Kebangkitan Yesus bukan hanya dilihat sebagai mukjizat semata, melainkan sebagai bukti bahwa Ia adalah Anak Allah yang memiliki kuasa atas maut. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, diyakini bahwa seluruh dosa manusia telah ditebus secara tuntas, membuka jalan bagi setiap orang yang percaya untuk memperoleh pengampunan dan kehidupan kekal. Inilah mengapa Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Korintus menegaskan bahwa jika Kristus tidak bangkit, maka sia-sialah iman Kristen itu sendiri.

Makna Spiritual

Di luar dimensi teologisnya, Paskah juga mengandung makna spiritual yang relevan bagi kehidupan sehari-hari umat Kristen. Kebangkitan Yesus dipandang sebagai simbol pembaruan dan transformasi — pengingat bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk "bangkit" dari kondisi hidupnya yang lama, meninggalkan kebiasaan buruk, dan memulai lembaran baru yang lebih baik. Masa Pra-Paskah yang dijalani selama 40 hari sebelumnya, yang diisi dengan puasa, doa, dan refleksi diri, menjadi persiapan spiritual yang membuat perayaan kebangkitan terasa lebih bermakna dan bukan sekadar ritual tahunan.

Makna Sosial

Paskah juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia menjadi momen ketika keluarga berkumpul, gereja merayakan kebersamaan, dan komunitas Kristen di seluruh dunia merasakan ikatan persaudaraan yang melampaui batas geografis dan denominasi. Di banyak negara, termasuk Indonesia, Paskah adalah waktu di mana gereja-gereja mengadakan ibadah bersama, pertunjukan drama kolosal tentang kisah sengsara Kristus, hingga kegiatan sosial seperti berbagi makanan dengan sesama. Dalam konteks yang lebih luas, Paskah menjadi pengingat kolektif tentang nilai-nilai pengampunan, pengorbanan, dan harapan yang universal.

Kapan Paskah Dirayakan?

Tidak seperti Natal yang selalu jatuh pada tanggal 25 Desember, Paskah adalah perayaan dengan tanggal yang bergerak (moveable feast) — artinya tanggalnya berubah setiap tahun. Penetapannya mengikuti sistem yang disepakati sejak Konsili Nicea pada tahun 325 Masehi, yaitu Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama yang terjadi pada atau setelah tanggal 21 Maret (titik balik matahari musim semi). Karena perhitungan ini memadukan kalender matahari dan kalender bulan sekaligus, tanggal Paskah bisa bervariasi antara 22 Maret hingga 25 April setiap tahunnya.

Perlu dicatat bahwa terdapat perbedaan tanggal perayaan antara gereja-gereja Barat (Katolik dan sebagian besar Protestan) dengan gereja-gereja Ortodoks Timur (seperti Ortodoks Yunani dan Rusia). Gereja Barat menggunakan Kalender Gregorian yang kini menjadi standar internasional, sementara Gereja Ortodoks Timur masih menggunakan Kalender Julian yang lebih tua. Akibatnya, Paskah Ortodoks kerap jatuh satu hingga lima minggu lebih lambat dibandingkan Paskah Barat, meski dalam beberapa tahun tertentu keduanya bisa bertepatan pada tanggal yang sama.

Rangkaian Perayaan Paskah

Paskah bukanlah perayaan satu hari saja. Ia adalah puncak dari serangkaian peringatan yang berlangsung selama satu minggu penuh yang disebut Pekan Suci (Holy Week), bahkan berakar dari masa persiapan selama 40 hari sebelumnya.

Masa Pra-Paskah & Rabu Abu

Persiapan rohani menuju Paskah dimulai 40 hari sebelumnya dengan periode yang disebut Masa Pra-Paskah (Lent). Masa ini diawali dengan Rabu Abu, yaitu ibadah di mana jemaat menerima tanda salib dari abu di dahinya sebagai simbol pertobatan dan kesadaran akan kefanaan manusia. Selama 40 hari ini, umat Kristen diajak untuk berpuasa, berdoa lebih intens, dan melakukan amal kasih sebagai bentuk persiapan spiritual. Angka 40 sendiri merujuk pada 40 hari puasa Yesus di padang gurun sebelum memulai pelayanan-Nya, serta berbagai peristiwa penting bernuansa 40 dalam Alkitab seperti banjir besar zaman Nuh.

Minggu Palma

Pekan Suci secara resmi dibuka dengan Minggu Palma, tepat satu minggu sebelum Paskah. Hari ini memperingati kedatangan Yesus secara triumfal ke kota Yerusalem, di mana Ia disambut oleh orang banyak yang melambaikan daun palma dan menghamparkan jubah mereka di jalanan sebagai tanda penghormatan kepada seorang raja. Dalam ibadah Minggu Palma, banyak gereja mengadakan prosesi dengan membawa daun palma atau daun kelapa sebagai rekonstruksi simbolis dari peristiwa tersebut. Ironi yang dalam tersimpan di sini: orang-orang yang menyambut Yesus dengan sorak-sorai pada hari Minggu adalah kelompok yang sama yang hanya beberapa hari kemudian berteriak meminta penyaliban-Nya.

Kamis Putih

Kamis Putih memperingati Perjamuan Terakhir (Last Supper) — makan malam terakhir Yesus bersama kedua belas murid-Nya sebelum Ia ditangkap. Dalam perjamuan tersebut, Yesus memecahkan roti dan menuangkan anggur, lalu menyerahkan keduanya kepada para murid-Nya dengan berkata bahwa roti itu adalah tubuh-Nya dan anggur itu adalah darah-Nya. Tindakan inilah yang menjadi dasar dari sakramen Ekaristi atau Perjamuan Kudus yang hingga kini terus dilakukan di gereja-gereja seluruh dunia. Pada malam yang sama, Yesus ditangkap di Taman Getsemani setelah dikhianati oleh Yudas Iskariot. Ibadah Kamis Putih biasanya diakhiri dalam keheningan dan kegelapan sebagai simbol kepedihan malam penangkapan tersebut.

Jumat Agung

Jumat Agung (Good Friday) adalah hari yang paling sunyi dan khidmat dalam seluruh rangkaian Pekan Suci. Pada hari ini, gereja memperingati penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus di bukit Golgota. Nama "Jumat Agung" terasa paradoksal — bagaimana hari kematian bisa disebut "agung"? Dalam iman Kristen, kematian Yesus justru dipandang sebagai tindakan kasih terbesar yang pernah ada: seorang yang tidak bersalah rela menderita dan mati untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Ibadah Jumat Agung biasanya dilaksanakan pada siang atau sore hari, sering kali diisi dengan meditasi tentang tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib, doa syafaat, dan suasana duka yang mendalam.

Sabtu Suci

Sabtu Suci adalah hari yang berada di antara dua peristiwa besar: kematian pada Jumat dan kebangkitan pada Minggu. Secara teologis, ini adalah hari di mana tubuh Yesus terbaring di dalam kubur dan para murid-Nya hidup dalam kesedihan serta kebingungan yang mendalam. Hari ini sering disebut sebagai hari penantian — menggambarkan kondisi manusia yang hidup dalam pengharapan akan sesuatu yang belum sepenuhnya terwujud. Banyak gereja mengadakan Vigili Paskah (Easter Vigil) pada malam Sabtu Suci ini, yaitu ibadah panjang yang dimulai dalam kegelapan total dan diakhiri dengan menyalakan lilin Paskah sebagai simbol terang Kristus yang mengalahkan kegelapan. Ibadah ini dianggap sebagai ibadah paling sakral dalam seluruh tahun liturgi gereja Katolik.

Minggu Paskah

Puncak dari seluruh rangkaian ini adalah Minggu Paskah (Easter Sunday) — hari di mana gereja meledak dalam sukacita dan pujian untuk merayakan kebangkitan Yesus. Kebaktian pagi hari, yang sering kali dimulai saat fajar menyingsing (sunrise service), menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat Kristen di seluruh dunia. Gereja dihias dengan bunga-bunga segar, lagu-lagu pujian yang meriah menggema, dan salam khas Paskah dipertukarkan: "Kristus sudah bangkit!" — dijawab dengan "Ia sungguh sudah bangkit!" Inilah hari di mana seluruh kesedihan Pekan Suci meledak menjadi sukacita yang tak terbendung, menjadikan Minggu Paskah sebagai salah satu perayaan paling penuh semangat di seluruh kalender liturgi Kristen.

Tradisi dan Simbol Paskah

Seiring menyebarnya agama Kristen ke berbagai penjuru dunia, perayaan Paskah menyerap banyak tradisi budaya lokal yang pada akhirnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari wajah Paskah modern. Salah satu simbol paling ikonik adalah telur Paskah. Dalam tradisi Kristen, telur melambangkan kebangkitan dan kehidupan baru — cangkang yang pecah diibaratkan sebagai kubur yang terbuka saat Yesus bangkit. Tradisi menghias telur dengan warna-warni cerah sudah ada sejak abad ke-13 dan hingga kini terus dipraktikkan di banyak negara, dari telur asli yang dicat dengan tangan hingga telur plastik berisi permen yang digunakan dalam permainan berburu telur (Easter egg hunt) untuk anak-anak.

Simbol lain yang tak kalah terkenal adalah kelinci Paskah (Easter Bunny). Kelinci dan telur adalah simbol kesuburan dan datangnya musim semi yang telah digunakan sejak zaman pra-Kristen di Eropa Utara. Seiring masuknya kebudayaan Kristen, simbol-simbol ini perlahan terintegrasi ke dalam perayaan Paskah, terutama di kalangan masyarakat Eropa. Tradisi kelinci Paskah yang membawa telur dan permen untuk anak-anak pertama kali didokumentasikan di Jerman pada abad ke-17 dan kemudian menyebar ke Amerika Serikat melalui imigran Jerman, sebelum akhirnya menjadi fenomena global yang dikenal hingga saat ini.

Di dalam gereja sendiri, lilin Paskah (Paschal Candle) memegang makna simbolis yang sangat penting. Lilin besar yang dinyalakan pertama kali dalam ibadah Vigili Paskah ini melambangkan Kristus sebagai "terang dunia" yang mengusir kegelapan dosa dan kematian. Api dari lilin Paskah kemudian disebarkan kepada seluruh jemaat melalui lilin-lilin kecil yang mereka pegang, menciptakan pemandangan visual yang indah dan penuh makna: satu cahaya yang menerangi ribuan orang dalam kegelapan. Tradisi ini masih dijalankan di hampir seluruh gereja Katolik dan banyak gereja Protestan liturgis di seluruh dunia.

Tradisi Paskah juga sangat beragam dari satu budaya ke budaya lain. Di Yunani, orang-orang membawa lilin ke gereja tengah malam dan meledakkan kembang api saat tengah malam menyambut kebangkitan. Di Swedia, anak-anak berdandan seperti penyihir dan mengetuk pintu rumah tetangga meminta permen, mirip dengan Halloween. Di Filipina, digelar prosesi dramatis yang disebut Salubong, di mana patung Maria dan patung Kristus yang bangkit diarak dari dua arah yang berlawanan hingga bertemu di tengah jalan. Sementara di Indonesia, umat Kristen umumnya merayakan Paskah dengan ibadah fajar, kebaktian keluarga, dan momen kebersamaan yang hangat di gereja maupun di rumah.

Pertanyaan dan Jawaban

1. Apa perbedaan Paskah dan Natal?

Natal merayakan kelahiran Yesus Kristus yang diperingati setiap 25 Desember, sementara Paskah merayakan kebangkitan Yesus setelah wafat disalibkan. Dalam teologi Kristen, Paskah dianggap lebih penting karena kebangkitan Yesus adalah inti dari seluruh iman Kristen.

2. Mengapa tanggal Paskah selalu berbeda setiap tahun?

Karena tanggal Paskah ditentukan berdasarkan gabungan kalender matahari dan kalender bulan, yaitu hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama yang jatuh pada atau setelah 21 Maret. Itulah mengapa Paskah bisa jatuh kapan saja antara 22 Maret hingga 25 April.

3. Apakah Paskah adalah hari libur nasional di Indonesia?

Ya. Jumat Agung dan Hari Raya Paskah (Minggu Paskah) keduanya ditetapkan sebagai hari libur nasional di Indonesia, dirayakan oleh seluruh umat Kristen baik Katolik maupun Protestan di seluruh Nusantara.

4. Dari mana asal tradisi telur dan kelinci di Paskah?

Telur dan kelinci adalah simbol kesuburan dan musim semi dari tradisi pra-Kristen di Eropa Utara. Seiring penyebaran agama Kristen, simbol-simbol ini diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam perayaan Paskah, terutama untuk anak-anak, dan kini telah menyebar ke seluruh dunia.

5. Apa itu Pekan Suci dalam rangkaian Paskah?

Pekan Suci (Holy Week) adalah tujuh hari terakhir sebelum Paskah yang dimulai dari Minggu Palma dan berakhir pada Minggu Paskah. Rangkaian ini meliputi Kamis Putih (Perjamuan Terakhir), Jumat Agung (penyaliban), Sabtu Suci (penantian), dan puncaknya pada Minggu Paskah (kebangkitan).

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6