Mengenal Sifat Jaiz Allah dalam Islam, Lengkap Cara Mengimani dan Contohnya

Sifat Jaiz Allah adalah kebebasan-Nya untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, menunjukkan kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya.

Diterbitkan 15 Juli 2025, 09:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dalam ajaran Islam, mengenal sifat-sifat Allah merupakan bagian penting dalam memperkuat akidah seorang muslim. Di antara sifat-sifat tersebut terdapat satu kategori yang sering luput dari perhatian, yaitu sifat Jaiz Allah. Berbeda dengan sifat wajib dan sifat mustahil, sifat jaiz menggambarkan bahwa Allah memiliki kehendak mutlak, bebas untuk menciptakan atau tidak menciptakan, memberi atau menahan, menghidupkan atau mematikan, sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan-Nya. Pemahaman terhadap sifat ini sangat penting agar seorang muslim tidak keliru dalam memahami takdir dan ketetapan Allah yang kadang di luar logika manusia. 

Dalam Aqidah Islamiyah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa Allah itu bersifat mutlak, tidak dikekang oleh keharusan apa pun, tidak ada yang mewajibkan-Nya untuk mencipta atau tidak mencipta. Ia Maha Berkehendak dan Maha Bebas dalam menentukan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa sifat Jaiz Allah merupakan bentuk dari ke-Mahakuasaan Allah yang tidak bisa disamakan dengan makhluk. Maka, ketika seseorang mengimani sifat ini, ia akan bersikap tawakal dan tidak memaksakan logikanya terhadap kehendak Ilahi. 

Lebih lanjut, dalam buku Ilmu Kalam: Sistem Teologi Islam karya Dr. Ahmad Hanafi, juga ditegaskan bahwa sifat jaiz Allah adalah melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, sesuai kehendak-Nya. Semua itu adalah ketetapan Allah yang harus diterima dengan ikhlas, karena bersumber dari kehendak-Nya yang mutlak. Oleh karena itu, mengenal sifat Jaiz Allah bukan sekadar teori teologis, melainkan cara membangun hati yang tenang dalam menerima takdir dan menumbuhkan kepasrahan sejati kepada Sang Pencipta. 

Berikut ini Liputan6.com ulas selengkapnya, Selasa (15/7/2025). 

Sifat Jaiz Allah 

Sifat Jaiz merupakan salah satu bagian dari tiga pembagian sifat Allah SWT dalam ilmu akidah yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Bersama dengan sifat wajib dan sifat mustahil, sifat jaiz menjelaskan kesempurnaan hakikat ketuhanan Allah yang Maha Mutlak dan tidak bergantung pada siapa pun atau apa pun. Sifat Jaiz Allah secara sederhana dapat diartikan sebagai kehendak bebas Allah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukannya. Artinya, Allah SWT berkuasa penuh untuk mencipta, mengubah, mencabut, mengatur, bahkan meninggalkan suatu perbuatan, tanpa ada satu pun yang mampu memaksa atau memengaruhi-Nya. Dalam keagungan-Nya, Allah bisa menjadikan seseorang yang semula hina menjadi mulia, atau menjadikan orang kaya tiba-tiba jatuh miskin. Begitu juga sebaliknya, Allah bisa mencabut kesehatan dari seseorang dalam sekejap, atau mengangkat orang yang tidak dikenal menjadi pemimpin besar. Semua itu terjadi hanya dengan kehendak-Nya yang absolut, tanpa harus melibatkan sebab-sebab duniawi yang lazim dipahami oleh akal manusia. 

Memahami dan mengimani sifat Jaiz Allah akan melahirkan sikap tunduk terhadap takdir dan keikhlasan dalam menerima segala ketentuan Allah SWT. Tidak ada satu makhluk pun yang memiliki kekuasaan untuk menolak, mengatur, atau menentukan takdir selain Allah. Bahkan para nabi dan rasul sekalipun tidak dapat memilih urusan untuk diri mereka kecuali setelah mendapat izin dari Allah. Dalil yang menguatkan tentang sifat jaiz ini tertulis dalam Surah Al-Qashash ayat 68, yang berbunyi: 

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ 

Artinya: "Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)."(QS. Al-Qashash: 68) 

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa segala penciptaan dan pilihan ada dalam kekuasaan mutlak Allah. Tidak ada makhluk yang berhak mengatur, memprotes, atau memiliki kebebasan dalam menentukan takdir. Maka dari itu, memahami sifat jaiz bukan hanya penting dalam kerangka ilmu tauhid, tapi juga menjadi dasar spiritual dalam menjalani hidup, agar hati tetap tenang dan yakin bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kebijaksanaan Allah SWT yang tidak pernah salah. 

Daftar Sifat Jaiz Allah 

1. Wujud. Wujud artinya pasti ada dan tidak bergantung kepada siapa pun. Wujud adalah lawan dari sifat mustahil bagi Allah Adam. 

“Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu memikirkan (hakikat) Zat Allah, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu melakukannya.” (HR. Abu Asy-Syaikh) 

2. Qidam. Qidam artinya awal atau terdahulu. Maksudnya Allah sudah ada sebelum dunia tercipta. 

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir.” (QS. al-Hadid ayat 3) 

3. Baqa’. Baqa’ artinya abadi atau kekal. Tidak ada yang bisa menghancurkan-Nya. 

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. al-Qasas ayat 88) 

4. Mukholafatul Lilhawaditsi. Mukholafatul lilhawaditsi artinya berbeda dengan makhluk. Sifat ini adalah lawan dari sifat mustahil bagi Allah Mumasalatu lil hawadisi. 

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. asy-Syura ayat 11) 

5. Qiyamuhu Binafsihi. Qiyamuhu binafsihi artinya tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun. 

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fatir ayat 15) 

6. Wahdaniyah. Wahdaniyah artinya esa atau tunggal, karena Allah tidak memiliki sekutu. 

“Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu saja keduanya telah binasa.” (QS. al-Anbiya ayat 22) 

7. Qudrat. Qudrat artinya berkuasa, karena Allah adalah pemegang kuasa terhadap segalanya. 

“Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.” (QS. al-Ahzab ayat 27) 

8. Iradat. Iradat artinya memiliki kehendak. Allah dapat melakukan apa saja. Iradat adalah lawan dari sifat mustahil bagi Allah karahah. 

“Maha kuasa melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Buruj ayat 16) 

9. ‘Ilmun. ‘Ilmun artinya mengetahui segala sesuatu. 

“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. al-Mujadalah ayat 7) 

10. Hayat. Hayat artinya hidup, di mana Allah merupakan zat yang tidak pernah hancur. 

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup. Yang terus-menerus mengurus (makhluk Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. al-Baqarah ayat 255) 

11. Sam’un. Sam’un artinya mendengar segalanya. 

"Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus-terang kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. an-Nisa' ayat 148) 

12. Basar. Basar artinya melihat, baik yang terlihat maupun kasat mata. Basar adalah lawan dari sifat mustahil bagi Allah Umyun. 

"Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. al-Isra ayat 1) 

13. Kalam. Kalam artinya yang berfirman. Allah dapat berlisan tanpa bantuan siapa pun. 

"Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung." (QS. an-Nisa' ayat 164) 

14. Qadiran. Qadiran artinya maha mampu. 

"Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka.” (QS. al-Baqarah ayat 120) 

15. Muridan. Muridan artinya maha berkehendak. Allah dapat berkehendak dan tidak ada yang bisa menghalanginya. 

"Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud ayat 107) 

16. ‘Aliman. ‘Aliman artinya maha mengetahui dan tidak ada seorangpun yang bisa menyembunyikan sesuatu dari Allah SWT. Aliman adalah lawan dari sifat mustahil bagi Allah kaunuhu jahilan. 

17.- Hayyan. Hayyan artinya maha hidup, tidak pernah tidur, mati, atau pun lengah. 

"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya.” (QS. al-Furqan ayat 58) 

18. Sami’an. Sami’an artinya maha mendengar segala perkataan, permintaan, dan doa hamba-Nya. 

"Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. al-Baqarah ayat 244) 

19. Bashiran. Bashiran artinya maha melihat dan mengawasi setiap hamba-Nya. 

“Sungguh, Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hujurat ayat 18) 

20. Mutakalliman, artinya maha berfirman. Mutakalliman adalah lawan dari sifat mustahil bagi Allah kaunuhu abkama. 

"Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.” (QS. an-Nisa ayat 164) 

Contoh Sifat Jaiz Allah 

1. Allah Menghidupkan dan Mematikan Seseorang Kapan Saja 

Allah bisa memberi kehidupan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan bisa mencabut nyawa siapa saja kapan pun tanpa harus menunggu waktu tertentu. 

Contoh: Seseorang bisa saja meninggal dunia dalam keadaan muda dan sehat, sementara yang lain tetap hidup meskipun sudah lanjut usia dan menderita sakit parah. 

2. Allah Mengangkat Derajat Orang Biasa Menjadi Mulia 

Allah bisa meninggikan derajat seseorang dari posisi rendah menjadi sangat dihormati dalam waktu yang tidak disangka. 

Contoh: Seorang anak yatim yang miskin bisa menjadi pemimpin besar atau ulama ternama karena kehendak Allah. 

3. Allah Menjadikan Orang Sehat Tiba-Tiba Sakit, atau Sebaliknya 

Kesehatan manusia sepenuhnya dalam kekuasaan Allah. Dia bisa saja menjadikan orang yang bugar tiba-tiba jatuh sakit, dan orang yang sakit parah sembuh seketika. 

Contoh: Orang yang kemarin masih sehat, hari ini bisa mengalami kecelakaan atau terkena penyakit berat. Sebaliknya, pasien yang divonis tidak memiliki harapan hidup ternyata pulih dengan cepat. 

4. Allah Memberi Rezeki Kepada Siapa Saja yang Dia Kehendaki 

Allah memiliki kuasa penuh dalam memberi atau menahan rezeki kepada siapa pun, tanpa harus sesuai dengan usaha atau jabatan. 

Contoh: Ada orang yang bekerja keras namun tetap pas-pasan, sementara ada orang lain yang tidak memiliki gelar tinggi tapi rezekinya mengalir deras dari arah yang tidak disangka-sangka. 

5. Allah Memberi Hidayah Kepada Siapa yang Dia Kehendaki 

Hidayah (petunjuk) menuju jalan kebenaran sepenuhnya adalah hak Allah. Dia bebas memberi hidayah atau membiarkan seseorang dalam kesesatan sesuai kehendak-Nya. 

Contoh: Ada orang yang awalnya hidup jauh dari agama, tiba-tiba berubah menjadi taat dan rajin ibadah. Sebaliknya, ada yang dulunya rajin beragama tapi kemudian tersesat dan meninggalkan ibadah. 

Cara Mengimani Sifat Jaiz Allah SWT 

Dalam ilmu tauhid, mengenal sifat-sifat Allah SWT merupakan bagian pokok dari keimanan yang lurus. Sifat-sifat tersebut terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz. Di antara ketiganya, sifat Jaiz Allah SWT termasuk hal yang sangat penting untuk dipahami, karena menyangkut keyakinan terhadap kebebasan mutlak Allah dalam berkehendak. Sifat jaiz Allah berarti bahwa Allah bebas melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, tanpa adanya keharusan, paksaan, atau tekanan dari siapa pun. Semua yang Allah kehendaki terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi. Mengimani sifat ini akan membentuk sikap tunduk dan ridha kepada ketetapan Allah, baik dalam hal penciptaan, pengaturan, maupun pemberian-Nya. Berikut beberapa cara mengimani sifat Jaiz Allah SWT secara benar menurut akidah Islam: 

1. Memahami Konsep Sifat Jaiz secara Ilmiah 

Langkah awal dalam mengimani sifat jaiz adalah dengan memahami konsepnya secara benar. Dalam ilmu akidah, para ulama menjelaskan bahwa sifat jaiz bagi Allah adalah "fi‘lu kulli mumkinin aw tarkuhu", artinya Allah boleh melakukan segala hal yang mungkin menurut akal (bukan yang mustahil), dan juga boleh meninggalkannya. Ini berbeda dengan sifat wajib, yang harus ada pada Allah, seperti sifat hidup, mendengar, dan melihat. Dan berbeda pula dengan sifat mustahil, yaitu hal-hal yang mustahil ada pada Allah, seperti mati, tuli, atau buta. Sifat jaiz berdiri di antara keduanya, sebagai bukti bahwa Allah tidak terikat dengan sesuatu pun dalam kehendak-Nya. 

2. Meyakini Bahwa Allah Berkehendak Bebas, Tanpa Keterpaksaan 

Mengimani sifat jaiz berarti meyakini bahwa Allah memiliki kehendak yang mutlak dan independen, tidak dikendalikan oleh hukum alam, logika manusia, atau keinginan makhluk. Semua yang terjadi di alam semesta ini merupakan hasil dari keputusan Allah semata, bukan karena ada dorongan dari luar diri-Nya. Allah tidak mencipta sesuatu karena butuh, tidak memberi nikmat karena takut kehilangan, dan tidak menghukum karena dendam. Semua perbuatan Allah adalah karena kehendak dan kebijaksanaan-Nya yang sempurna, bukan karena dorongan emosi, kebutuhan, atau tekanan. 

3. Menanamkan Keyakinan bahwa Semua Ketetapan Allah Mengandung Hikmah 

Walaupun kehendak Allah bebas dan tidak terikat apa pun, seorang muslim wajib meyakini bahwa semua keputusan-Nya tidak sia-sia, dan selalu berdasarkan hikmah dan keadilan yang sempurna. Hikmah Allah kadang bisa kita pahami, dan kadang pula tersembunyi dari akal manusia. Namun, keterbatasan pemahaman manusia tidak menggugurkan kewajiban untuk meyakini bahwa apa yang Allah pilih adalah yang terbaik. Keyakinan seperti ini akan menguatkan iman dan menjauhkan hati dari prasangka buruk terhadap Allah. 

4. Menerima dan Ridha terhadap Ketentuan Allah 

Cara lain untuk mengimani sifat jaiz adalah dengan membentuk sikap ridha terhadap apa pun yang Allah tetapkan, baik dalam hal rezeki, kesehatan, hidup dan mati, maupun kejadian lain dalam kehidupan. Karena kehendak Allah tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia, maka sikap seorang mukmin adalah tunduk, menerima, dan tidak memprotes atau membantah keputusan-Nya. Ridha bukan berarti pasrah buta, tapi bentuk pengakuan bahwa Allah lebih tahu dan lebih bijaksana dalam menentukan yang terbaik bagi hamba-Nya. 

QnA Seputar Sifat Jaiz Allah 

Q: Apakah sifat Jaiz Allah berkaitan dengan penciptaan makhluk? 

A: Ya. Allah menciptakan makhluk sesuai dengan kehendak-Nya. Ia boleh menciptakan sesuatu atau tidak menciptakannya. Semua makhluk ada karena kehendak Allah, dan jika Allah tidak menghendaki, maka makhluk tersebut tidak akan ada. 

Q: Apakah manusia bisa memengaruhi kehendak Allah melalui doa atau usaha? 

A: Tidak. Doa dan usaha adalah bentuk ibadah dan ikhtiar, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah. Allah bebas mengabulkan atau tidak, sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya yang tidak bisa dipaksa oleh siapa pun. 

Q: Mengapa penting mengimani sifat Jaiz Allah? 

A: Karena sifat ini memperkuat keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan penuh atas segala sesuatu. Mengimani sifat ini menjaga seseorang dari keyakinan menyimpang seperti menyamakan Allah dengan makhluk atau menganggap Allah wajib memenuhi keinginan makhluk-Nya. 

Q: Apakah sifat Jaiz berarti Allah tidak konsisten dalam perbuatan-Nya? 

A: Tidak. Sifat Jaiz tidak berarti inkonsistensi, tetapi menunjukkan bahwa segala kehendak Allah selalu berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan, walaupun tidak selalu dapat dijangkau oleh akal manusia. 

Q: Apa akibat jika seseorang tidak meyakini sifat Jaiz Allah? 

A: Jika seseorang tidak meyakini sifat Jaiz Allah, maka akidahnya tidak sempurna. Ia bisa terjerumus dalam pemahaman yang menyimpang, seperti meyakini bahwa Allah "harus" melakukan sesuatu tertentu, yang berarti membatasi kehendak dan kekuasaan-Nya. 

Q: Bagaimana cara paling sederhana untuk memahami sifat Jaiz Allah? 

A: Cara paling sederhana adalah dengan meyakini bahwa Allah bebas berkehendak atas segala sesuatu, tanpa terikat waktu, tempat, sebab, atau logika manusia. Semua terjadi karena kehendak-Nya yang tidak bergantung pada siapa pun. 

Q: Apakah sifat Jaiz hanya berlaku bagi Allah, atau juga bagi makhluk? 

A: Sifat Jaiz dalam konteks ini hanya berlaku bagi Allah. Makhluk juga memiliki kehendak, tetapi kehendaknya terbatas dan bergantung pada banyak faktor. Sedangkan kehendak Allah bersifat mutlak dan sempurna. 

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6