Sukses

Takbiran Idul Adha Berapa Hari dan Dimulai Kapan? Ini Waktu Membacanya

Gema takbir bukan hanya sekadar tradisi, melainkan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah.

Liputan6.com, Jakarta Tradisi takbiran merupakan bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Adha di Indonesia, di mana umat Islam mengumandangkan takbir sebagai ungkapan kegembiraan dan syukur atas berkah yang diberikan Allah. Pertanyaan mengenai berapa hari takbiran dilakukan dan kapan dimulai menjadi topik yang sering muncul menjelang perayaan ini.

Umat Muslim di Indonesia berkumpul di masjid-masjid atau tempat-tempat umum untuk mengumandangkan takbir bersama, menyemarakkan suasana dengan meriah. Takbiran ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengingat Allah dan menyatukan umat, tetapi juga sebagai bentuk perayaan atas kemenangan iman dan kesucian hari besar ini.

Selain itu, gema takbir bukan hanya sekadar tradisi, melainkan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk memperbanyak takbir menjelang hari raya.

Lantas berapa hari gema takbir Idul Adha dikumandangkan dan kapan bisa dimulai? Berikut Liputan6.com ulas mengenai pertanyaan tersebut yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Minggu (16/6/2024).

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Waktu Membaca Lafadz Takbir Idul Adha

Menurut buku Fikih Sunnah - Jilid 2 karya Sayyid Sabiq, menjelaskan mayoritas ulama sepakat bahwa waktu membaca takbir pada Hari Raya Idul Adha dimulai sejak subuh hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) hingga akhir waktu petang hari Tasyrik (tanggal 13 Dzulhijjah). Pandangan ini didasarkan pada riwayat yang paling sahih dari para sahabat Rasulullah SAW, seperti Ali dan Ibnu Mas'ud, serta diterima oleh Imam Syafii, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad, serta mazhab Umar dan Ibnu Abbas.

Praktik takbir dapat dilakukan dalam berbagai situasi, baik itu setelah sholat fardhu, di atas pembaringan, ketika duduk, berjalan, atau di mana pun seseorang berada. Cara ini sesuai dengan praktik yang dilakukan oleh sahabat seperti Ibnu Umar, yang takbirnya terdengar di berbagai tempat di Mina dan diikuti oleh banyak orang. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi takbiran pada Hari Raya Idul Adha memiliki makna yang mendalam dalam mengekspresikan kegembiraan dan penghormatan atas karunia Allah SWT serta tradisi yang diwarisi dari masa para sahabat Rasulullah SAW.

Syekh Ibrahim Al Bajuri menjelaskan bahwa takbiran Idul Adha menyandang dua istilah sekaligus yakni mursal dan muqayyad, karena dibaca sejak malam Id hingga hari tasyriq terakhir.

3 dari 4 halaman

Lafaz Takbir dan Artinya

1. Bacaan Takbir Idul Adha Versi Pendek

اللهُ اكبَرْ، اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُو ِللهِ الحَمْد

Arab Latin: "Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd"

Artinya: "Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah."

2. Bacaan Takbir Idul Adha Versi Panjang

 للهُ اكبَرْ, اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن، لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْ

Arab Latin: "Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa. Laailaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu. Mukhlishiina lahuddiin walau karihal kaafiruun. Walau karihal munafiqun. Walau karihal musyrikuun.

Laailaahaillallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah wa a'azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah.

Laailaahaillallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahilhamd."

Artinya: "Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah. Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke Esaan-Nya, Dia zat yang menepati janji, zat yang menolong hamba-Nya dan memuliakan bala tentara-Nya dan menyiksa musuh dengan ke-Esa-anNya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya untuk Allah."

4 dari 4 halaman

Perbedaan Takbir Mursal dan Takbir Muqayyad pada Idul Adha

1. Takbir Mursal

Takbir Mursal adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan. Waktu melakukan takbir mursal dimulai dari terbenamnya matahari malam 'id hingga imam melakukan takbiratul ihram shalat 'id. Saat Iduladha, takbir ini baik dibacakan pada malam 10 Dzulhijjah hingga usai shalat fardhu selama hari tasyriq (11,12, 13 Dzulhijah). Selama tanggal 10 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. Demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst.

2. Takbir Muqayyad

Takbir Muqayyad adalah takbiran yang dilaksanakan saat mengiringi salat dan selesai melaksanakan shalat wajib maupun sunnah. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah, sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah.

Pada Hari Raya Idul Adha, dianjurkan membaca takbir Idul Adha (takbir mursal) pada malam 10 Dzulhijjah. Dianjurkan juga membaca takbir Idul Adha (takbir muqayyad) yang waktunya mulai pada hari Arafah (9 Dzulhijjah), Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), dan usai shalat fardhu selama hari tasyriq (11,12, 13 Dzulhijah).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.