Latar Belakang Terjadinya Pemberontakan Andi Azis adalah Tujuan Mempertahankan NIT

Latar belakang terjadinya pemberontakan Andi Azis adalah penggabungan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Diperbarui 08 April 2023, 10:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Latar belakang terjadinya pemberontakan Andi Azis adalah penggabungan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seerti namanya, Pemberontakan Andi Azis merupakan suatu pemberontakan yang dilakukan oleh seorang mantan perwira KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger/Tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Latar belakang terjadinya pemberontakan Andi Azis adalah keinginan untuk melindungi eksistensi NIT. Sebab pada saat itu NIT hendak dibubarkan dan digabungkan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Alasan keamanan juga menjadi hal lain yang menjadi latar belakang munculnya pemberontakan Andi Azis. Sebab, Andi Azis menilai bahwa aparat APRIS harus bertanggung jawab atas gangguan keamanan yang terjadi di NIT.

APRIS sendiri merupakan angkatan perang gabungan TNI dan KNIL dengan TNI sebagai intinya. Andi Azis ingin mempertahankan keberadaan dari NIT dan menjauhkan campur tangan pemerintah NKRI.

Untuk lebih memahami apa itu pemberontakan Andi Azis, berikut penjelasan selengkapnya seperti yang telah dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Sabtu (8/4/2023).

Indonesia Pasca Kemerdekaan

Latar belakang terjadinya pemberontakan Andi Azis adalah keinginan untuk mempertahankan NIT atau Negara Indonesia Timur. Seperti yang sudah diketahui, setelah memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Indonesia tidak semerta-merta menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti sekarang.

Setelah memproklamasikan kemerdekaan, Bangsa Indonesia masih harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari negara lain, terutama Belanda. Indonesia harus menghadapi berbagai langkah konferensi untuk bisa mendapatkan pengakuan atas kemerdekaannya.

Dari konferensi-konferensi ini lahir pertama kali NIT pada bulan Desember 1946 meliputi pulau-pulau Sunda kecil, Sulawesi dan Maluku. Selanjutnya berturut-turut dengan pembentukan negara Sumatera Timur (1947) Madura (1948), Pasundan (1948), Sumatera Selatan (1948) dan Jawa Timur (1948).

Meski demikian, negara kesatuan masih dapat memperjuangkan diadakannya KMB, antara pemerintah Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia. Sebagai hasil dari KMB, akhirnya RIS (Republik Indonesia Serikat) dibentuk, dan terdiri dari 16 negara bagian. Negara-negara tersebut yaitu Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, Negara Sumatera Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Selatan, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Kenegaraan Dayak Besar, Kesatuan Kenegaraan Kalimantan Tenggara, Satuan Kenegaraan Riau, Satuan Kenegaraan Daerah Banjar, Satuan Kenegaraan Kalimantan Timur, Satuan Kenegaraan Daerah Istimewa Kalimantan Barat dan Satuan Kenegaraan Jawa Tengah.

Sementara ada kelompok yang menghendaki bentuk negara kesatuan, Andi Azis menjadi salah satu yang termasuk kelompok yang tetap ingin mempertahankan federalisme, ia mengharap mendapat kedudukan pucuk pimpinan militer dalam bentuk federalisme.

Karena itulah, Andi Azis menilai aparat APRIS harus bertanggung jawab atas gangguan keamanan yang terjadi di NIT, karena menurut Azis, pemerintahlah dalang gangguan tersebut. Setelah itu Andi Azis melakukan aksi kudeta yang memuncak di di Ujung pandang, Makassar pada tgl 05 April 1950, digawangi dengan bentrokan Sulawesi Selatan dibulan yang sama. Konflik ini terjadi karena ketegangan antara masyarakat pro-federal dan anti-federal.

Maka, pada 5 April 1950, pemerintah Indonesia mengirimkan pasukan TNI dari Jawa untuk mengamankan kawasan tersebut.

Namun, kedatangan TNI dianggap sebagai ancaman bagi kelompok masyarakat pro federal. Akhirnya, komunitas pro-federal ini bergabung di bawah komando Andi Azis dan membentuk pasukan yang disebut “Pasukan Bebas”.

Andi Azis

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, latar belakang terjadinya pemberontakan Andi Azis adalah adanya suatu kelompok yang ingin mempertahankan bentuk negara federal, sehinggan keberadaan NIT bisa bertahan. Lalu siapakah Andi Azis?

Andi Abdul Azis atau yang lebih dikenal sebagai Andi Azis dilahirkan di Simpangbinanga, Kabupaten Barru Sulawesi Selatan tanggal 19 September 1924. Ayahnya bernama Andi Djuanna Daeng Maliungan, ibunya bernama Becce Pesse, ia anak pertama dari 11 bersaudara. Ia masuk sekolah ELS kemudian ikut ke negeri Belanda dengan seorang asisten residen pensiunan bangsa Belanda, sehingga praktis sejak berumur 9 tahun ia sudah hidup di negeri Belanda. Pada tahun 1935 di negeri Belanda ia memasuki La Gere School pada sekolah menengah Lyceum sampai tahun 1944.

Setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu Andi Azis menjadi ajudan senior Sukowati, Presiden NIT, karena Sukowati berkeinginan mempunyai seorang ajudan berdarah Bugis. Jabatan ajudan dijalaninya selama satu setengah tahun, kemudian la ditugaskan sebagai instruktur di Bandung (Cimahi) pada pasukan S.S.O,P (Baret Merah-KNIL 1948). Pada akhir I948 ia dikirim ke Makassar dan diangkat menjadi komandan kompi dengan pangkat Letnan Satu, dengan 125 orang anak buah KNIL yang berpengalaman dan kemudian menjadi TNI.

Peristiwa Pemberontakan Andi Azis

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, latar belakang terjadinya pemberontakan Andi Azis adalah keinginan untuk mempertahankan NIT. Untuk mencapai tujuan tersebut, Andi Azis tidak melakukan pemberontakan sendiri, melainkan dibantu oleh Sultan Hamid II (dalang pemberontakan APRA) dan Belanda.

Kronologi kejadian bermula pada awal bulan April 1950, pemberontakan yang dipimpin oleh Andi Azis sendiri terjadi di Makassar. Andi Azis ingin mempertahankan keberadaan Indonesia Timur. Selain itu, Ia juga tidak setuju dengan anggota TNI yang bergabung ke dalam APRIS.

Pasukan yang dipimpin Andi Azis memulai penyerangan pada 5 April 1950. Penyerangan dilancarkan ke tempat-tempat penting dan menyandera salah satu panglima bernama Letkol A.J. Mokoginta. Pemerintah tidak tinggal diam dan mengeluarkan ultimatum terhadap pasukan Andi Azis.

Pemerintah mendesak agar Andi Azis menyerahkan diri dalam waktu 4 x 24. Selain itu, Andi Azis juga diminta untuk menyerahkan semua senjata dan membebaskan para sandera. Meski demikian, Andi Azis tidak menghiraukan ultimatum tersebut.

Akhirnya, pemerintah memerintahkan pasukan ekspedisi untuk mengamankan pemberontakan ini. Pasukan yang dipimpin oleh Kolonel A.E. Kawilarang tersebut tiba di Makassar tanggal 26 April 1950. Perlawanan berlangsung cukup sengit sampai pada akhirnya pasukan Andi Azis kewalahan dan meminta untuk berunding.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6