Liputan6.com, Jakarta - Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone. Alat musik adalah suatu instrumen yang dibuat atau dimodifikasi untuk tujuan menghasilkan musik. Secara sederhana, alat musik ini digunakan untuk mengiringi sebuah lagu.
Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone. Jenis alat musik ini bisa digunakan pada musik tradisional maupun modern. Di Indonesia sendiri alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone ada beragam.
Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone, yaitu kelompok instrumen yang menghasilkan suara melalui getaran udara tanpa menggunakan senar, membran, maupun tubuh instrument sebagai bagian utama yang bergetar. Curt Sachs dalam The History of Musical Instruments mendefinisikan aerophone sebagai “musical instrument that produces sound primarily by causing a body of air to vibrate”. Sistem klasifikasi Hornbostel–Sachs menempatkan aerophone sebagai kategori utama (kelas 4), dengan subdivisi seperti fre aerophone, reed aerophone, dan edge-blown.
Advertisement
Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone adalah alat musik yang menghasilkan suara terutama dengan menyebabkan badan udara bergetar, tanpa menggunakan senar atau membran, dan tanpa getaran dari instrumen itu sendiri yang menambah suara secara signifikan.
Untuk lebih rinci, berikut ini Liputan6.com ulas mengenai alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone dan contohnya yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (17/6/2025).
Alat Musik yang Dimainkan dengan Cara Ditiup Disebut Aerophone
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4084971/original/051414700_1657525095-bamboo-flutes-mockup.jpg)
Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone merupakan salah satu jenis alat musik yang memiliki sumber bunyi yang berasal dari hembusan udara yang telah bergetar dari hasil tiupannya atau pompaannya.
Menurut OnMusic Dictionary, aerophone adalah instrumen yang bergantung pada massa udara yang bervibrasi, misalnya harmonika atau organ, tanpa keterlibatan membran atau senar. Studi etnomusikologi oleh Roderic Knight menyebutkan bahwa defini ini bersumber dari bagaimana pemain meniup udara melalui alat tersebut, dengan sistematisasi oleh Hornbostel–Sachs sejak 1914 sampai revisi oleh MIMO tahun 2011 untuk memasukkan alat baru seperti elektrofon.
Alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone adalah alat musik yang menghasilkan suara terutama dengan menyebabkan badan udara bergetar, tanpa menggunakan senar atau membran, dan tanpa getaran dari instrumen itu sendiri yang menambah suara secara signifikan.
Dalam kajian etnomusikologi, aerophone memegang posisi penting karena kehadirannya yang sangat beragam, mulai dari alat tradisional seperti bagpipe dan flûte hingga instrumen orkestra klasik seperti clarinet dan trumpet. The Sage International Encyclopedia of Music and Culture mendefinisikan “edge-blown aerophones” sebagai instrumen di mana udara ditiup ke tepi tajam untuk menghasilkan suara—misalnya flute dan pan flute.
Lebih lanjut, UW Ethnomusicology Archives menyatakan bahwa aerophone mencakup alat yang memaksa udara bergetar di dalam pipa atau ruang resonansi, dan dikategorikan menjadi free aerophone dan enclosed aerophone sesuai struktur fisiknya. Alat tiup juga turut berkembang secara global, dari sirene kuno di pemujaan sampai Aerophone digital modern seperti Roland AE‑10, yang menyelaraskan teknologi dengan fingering klasik saxophone.
Mengutip dari Britannica, alat musik yang dimainkan dengan cara ditiup disebut aerophone merupakan instrumen musik di mana massa udara bergetar menghasilkan suara dalam sekali tiupan.
Advertisement
1. Suling
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3341879/original/070899300_1609925670-harmonica-2619860_1280.jpg)
Contoh alat musik aerophone yang pertama adalah suling. Alat musik ini sudah sangat umum di Indonesia. Suling adalah alat musik tiup dengan beberapa lubang. Suling ada yang terbuat dari bambu atau campuran logam.
2. Terompet
Selanjutnya adalah terompet. Alat musik ini sangat populer dikalangan pada pemusik. Terompet juga termasuk dalam jenis alat musik aerophone. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup dan memiliki beberapa tombol untuk mengatur nada, sehingga nada yang dihasilkan jadi beragam.
3. Pianika
Contoh alat musik aerophone satu ini pasti sangat familiar bagi para pelajar. Pianika adalah alat musik tiup berbentuk seperti keyboard yang dimainkan dengan cara ditiup dengan pipa lentur atau langsung ke corongnya. Pianika dipegang di tangan, lalu jari-jari akan memainkan bilah keyboard.
4. Harmonika
Contoh alat musik aerophone yang ini berbentuk kecil dan pipih. Harmonika juga cukup populer dikalangan para pemusik. Cara memainkannya adalah dengan meniup atau menghisapnya dan dengan digeser ke kiri atau kanan.
5. Flute
Flute terbuat dari logam dangan berbagai tombol untuk memainkan nada. Flute adalah alat musik khusus yang dimainkan untuk nada tinggi. Cara memainkannya adalah dengan ditiup menyamping ke kiri dan kanan.
6. Serunai Banjar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254522/original/020396600_1750129615-WhatsApp_Image_2025-06-17_at_9.56.49_AM.jpeg)
Serunai Banjar merupakan alat musik aerophone tradisional yang berasal dari suku Banjar di Kalimantan Selatan. Alat musik ini biasanya dimainkan saat pentas seni Bakuntau atau seni bela diri silat. Serunai Banjar memiliki panjang berkisar 15 cm dengan ukiran khas Banjar. Pada bagian ujung tempat suara keluar berbentuk seperti lonceng yang juga dengan ukiran khas Banjar. Sementara pada tempat meniup, terdapat reeds ganda dan lubang di bagian tengah. Reeds terbuat dari daun kelapa kering.
7. Bangsi Alas
Bangsi alas adalah salah satu contoh alat musik aerophone dari Aceh. Bangsi terbuat dari bambu dengan panjang berukuran sekitar 40 cm dan diameter sekitar 2,8 cm. Pada bagian tubuh bangsi, terdapat tujuh lubang yang dapat menghasilkan nada yang berbeda. Pada badan bangsi, terdapat ukiran khas Aceh.
8. Foy Doa
Foy doa merupakan salah satu contoh alat musik aerophone tradisional asal Flores, Nusa Tenggara Timur. Berbeda dengan alat musik tiup lainnya yang bersifat tunggal, foy doa terbentuk dari dua batang bambu berukuran kecil dengan 4 lubang di setiap badan suling.
Foy doa biasanya dimainkan mengiringi permainan rakyat tradisional. Nada yang dihasilkan dari foy doa bisa bersifat tunggal atau ganda. Peniup bisa memainkan satu suling saja atau dua suling sekaligus dalam foy doa. Lagu-lagu yang dimainkan dengan foy doa biasanya berupa syair dengan tema kehidupan.
9. Suling Lembang
Suling lembang merupakan salah satu contoh alat musik aerophone tradisional asal Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Cara memainkan suling lembang sama dengan suling pada umumnya. Suling lembang memiliki ciri khas, yakni memiliki ukuran yang panjang. Suling lembang memiliki panjang berkisar 40 hingga 100 cm. Ukuran ini membuat suling lembang menjadi alat musik aerophone tradisional terpanjang di Indonesia. Ciri khas lainnya adalah tempat keluar suara yang mirip seperti terompet. Terdapat pula enam buah lubang pada suling lembang. Alat musik ini biasanya dimainkan dengan alat musik tradisional lain.
Advertisement
10. Clarinet
Clarinet adalah alat musik tiup yang termasuk dalam keluarga woodwind dan menggunakan sistem reed tunggal, yaitu selembar tipis kayu atau bahan sintetis yang ditempelkan pada mouthpiece. Suara dihasilkan ketika udara ditiup ke dalam alat dan membuat reed tersebut bergetar, menggetarkan udara di dalam pipa kayu panjang berbentuk silinder.
Clarinet dikenal karena jangkauan nadanya yang luas dan karakter suaranya yang hangat serta fleksibel, cocok untuk berbagai genre musik mulai dari klasik, jazz, hingga orkestra modern. Teknik bermain clarinet sangat bergantung pada embouchure yang tepat, yaitu posisi dan ketegangan bibir pada mouthpiece.
Jika bibir terlalu kaku atau terlalu longgar, suara yang dihasilkan bisa sumbang atau tidak stabil. Selain itu, penting untuk menjaga klep-klep di sepanjang tubuh clarinet tetap rapat agar udara tidak bocor, sehingga nada terdengar penuh, halus, dan presisi. Pemain profesional biasanya melatih long tones dan kontrol pernapasan setiap hari agar stabilitas nada terjaga saat memainkan melodi yang panjang atau dinamis.
11. Oboe
Oboe adalah alat musik tiup double-reed yang menghasilkan suara tajam, jelas, dan kaya ekspresi, sering digunakan sebagai pembuka nada A saat menyetel orkestra karena stabilitas intonasinya yang tinggi. Reed ganda oboe terdiri dari dua potong bambu tipis yang dijepit bersama dan bergetar saat ditiup, menciptakan resonansi yang khas dalam ruang udara silindrisnya.
Karena desain reed-nya yang sempit dan sensitif, pemain harus mengontrol embouchure secara halus dan mempertahankan tekanan napas yang konstan agar reed tidak over-vibrate, atau bergetar secara berlebihan, yang bisa menghasilkan suara cempreng atau pecah.
Teknik ini membutuhkan keseimbangan antara tekanan bibir pada reed dan jumlah udara yang ditiup. Selain itu, struktur fisik oboe yang relatif kecil membuatnya menantang dalam menjaga stamina saat memainkan frasa panjang, sehingga latihan pernapasan dan kontrol otot mulut sangat penting. Banyak pemain oboe membuat reed mereka sendiri untuk memastikan ketepatan dan kenyamanan saat bermain.
12. Didgeridoo
Didgeridoo merupakan alat musik tiup tradisional yang berasal dari budaya Aborigin di Australia. Alat ini berbentuk tabung panjang dari kayu, biasanya dibuat dari batang pohon eukaliptus yang dilubangi secara alami oleh rayap, kemudian diproses manual agar menghasilkan nada drone atau dengung yang berkelanjutan dan dalam.
Tidak seperti kebanyakan aerophone, didgeridoo tidak memiliki klep atau reed, sehingga seluruh kontrol suara bergantung pada bentuk mulut, tekanan udara, dan teknik pernapasan pemain.
Salah satu teknik utama dalam memainkan didgeridoo adalah circular breathing, yakni kemampuan untuk terus meniupkan udara sambil secara bersamaan menarik napas melalui hidung. Teknik ini dilakukan dengan menekan sisa udara dalam pipi untuk menjaga aliran udara ke alat tetap berlangsung saat paru-paru diisi ulang, memungkinkan suara drone yang tidak terputus. Melatih circular breathing membutuhkan koordinasi antara otot pipi dan pernapasan diafragma yang halus, dan menjadi dasar bagi permainan didgeridoo yang ritmis serta ekspresif.
13. Saxophone
Saxophone adalah alat musik tiup logam dengan sistem reed tunggal seperti clarinet, namun bentuknya berbadan logam dan memiliki lubang-lubang nada dengan klep yang diatur oleh tuas. Diciptakan oleh Adolphe Sax pada abad ke-19, saxophone memiliki berbagai jenis seperti alto, tenor, soprano, dan baritone, masing-masing dengan karakter suara unik.
Karena resonansi logam dan struktur bore yang melengkung, saxophone menghasilkan suara yang kuat, ekspresif, dan sangat populer dalam musik jazz, pop, dan klasik kontemporer. Teknik dasar yang harus dikuasai adalah embouchure yang stabil agar reed dapat bergetar optimal serta tekanan napas yang terkontrol.
Pemain tingkat lanjut juga mempelajari altissimo fingering, yaitu teknik memainkan nada-nada di atas register normal dengan manipulasi tekanan udara dan posisi lidah. Selain itu, mengontrol overtones (nada harmonik) melalui latihan tertentu dapat membantu pemain mengembangkan warna nada dan meningkatkan respons alat saat bermain dalam dinamika tinggi maupun rendah.
14. French Horn
French horn adalah salah satu alat musik tiup logam (brass) paling kompleks, dengan pipa melingkar panjang dan sistem katup (valve) yang rumit. Suara French horn dikenal karena kelembutan dan kekuatan dinamisnya yang luas, sering digunakan dalam bagian-bagian orkestra yang dramatis maupun melankolis.
Berbeda dari brass lainnya, mouthpiece French horn lebih kecil dan posisinya unik—pemain harus menempatkan bibir dengan embouchure yang tertarik ke depan dan lembut agar dapat menghasilkan suara bersih di register rendah maupun tinggi. Karena bentuk pipa yang panjang dan mouthpiece yang sempit, pemain perlu menjaga tekanan napas yang rata agar tidak terjadi lonjakan suara atau pecah nada, terutama saat memainkan nada tinggi.
Penggunaan tangan di dalam bell juga memengaruhi warna suara dan intonasi; teknik ini disebut hand-stopping dan digunakan untuk menciptakan efek tertentu atau koreksi pitch. Menguasai French horn membutuhkan dedikasi tinggi karena sensitif terhadap ketidakseimbangan embouchure dan perubahan tekanan udara.
FAQ
Aerophone itu apa?
Aerophone adalah alat musik yang menghasilkan suara dari getaran udara tanpa senar atau membrane.
Bagaimana aerophone diklasifikasikan?
Diklasifikasikan oleh Hornbostel–Sachs sebagai kelas 4, dengan subdivisi seperti free, reed, edge-blown, dan trumpets.
Apa perbedaan free aerophone dan reed aerophone?
Free aerophone tidak memiliki kolom udara terenkapsulasi (mis. sirene), reed aerophone menggunakan reed untuk memecah aliran udara (mis. clarinet).
Contoh aerophone tradisional tidak umum?
Contohnya didgeridoo, pan flute, ocarina, dan bulroarer (belalai) .
Mengapa embouchure penting?
Embouchure memengaruhi nada, intonasi, dan respons instrumen—kunci utama performa aerophone.
Apa circular breathing?
Teknik bernapas melingkar agar udara mengalir terus saat memainkan drone seperti didgeridoo.
Apakah aerophone bisa digital?
Ya—contohnya Roland Aerophone seri AE‑10/AE‑30, wind controller digital dengan fingering saxophone.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295706/original/066644800_1783939615-cek_fakta_-_prasetyo_hadi_umumkan_dana_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318485/original/050923200_1786098399-Cek_fakta_-_blt_umkm_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254521/original/052159300_1750129614-WhatsApp_Image_2025-06-17_at_9.57.08_AM.jpeg)