Perbedaan Qada dan Qadar, Pengertian, Dalil, dan Fungsi Mengimaninya

Ada sejumlah perbedaan Qada dan Qadar.

Diperbarui 13 Juni 2025, 08:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Perbedaan Qada dan Qadar penting dipahami umat Islam. Mempercayai Qada dan Qadar merupakan salah satu rukun Iman. Qada dan Qadar sering diartikan sebagai takdir. Keduanya sering disamakan, tapi sebenarnya ada sejumlah perbedaan Qada dan Qadar.

Namun, jika dilihat dari istilahnya, ada perbedaan Qada dan Qadar. Mengetahui perbedaan Qada dan Qadar bisa membantu meningkatkan Iman pada takdir yang diberikan Allah. Perbedaan Qada dan Qadar terletak pada artinya.

Selain perbedaan Qada dan Qadar, penting juga mengetahui manfaat mengimaninya. Mengutip buku Akidah dan Akhlak untuk Kelas IX MTs dijelaskan beriman kepada qada dan qadar adalah rukun keenam dalam Rukun Iman. Dengan beriman kepada qada dan qadar Allah, seseorang akan senantiasa berperilaku positif.  

Berikut perbedaan Qada dan Qadar, dirangkum Liputan6.com dari Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti: Beriman Kepada Qada dan Qadar dari Kemendikbud, Jumat (13/6/2025).

Pengertian Qada dan Qadar

Pengertian Qada

Qada secara bahasa berarti ketetapan, ketentuan, ukuran, takaran, atau sifat. Qada secara istilah, yaitu ketetapan Allah yang tercatat di Lauh al-Mahfuz (papan yang terpelihara) sejak zaman azali. Ketetapan ini sesuai dengan kehendak-Nya dan berlaku untuk seluruh makhluk atau alam semesta.

Mengutip jurnal berjudul Qadha dan Qadar Manusia Dalam Al-Qur'an yang dipublikasikan di El-Umdah: Jurnal Kajian Ilmu Al-Qur’an Tafsir Vol. 7, No. 1, 2024 dijelaskan Qadha secara etimologi berarti hukum, ketentuan, keputusan, ketetapanterhadap suatu perkara. Isim fa’ilnya adalah Qhadi yang berarti orang yangmemutuskan perkara hukum.

Bentuk jamaknya adalah qadhaya. Ketika menafsirkan kata qadha dalam QS. Al-Isra’ [17] : 23, Fakhruddin Ar-Razi memaknainya sebagai hukum pasti yang tidak bisa dirubah. Memahami kata qadha, bisa dilakukan secara tekstual dan kontekstual.

Secara tekstual, didalam al-Qur’an langsung disebut kata qadha seperti dalam QS. Al-Isra’ [17] :23 yang artinya "Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Diadan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” Secara kontekstual, ayat dalam al-Qur’an mungkin tidak menyebutkankata qadha, tetapi substansinya berisi ketentuan Allah

Pengertian Qadar

Sementara Qadar adalah ketetapan yang telah terjadi atau keputusan yang diwujudkan. Qadar juga sering disebut dengan takdir. Secara istilah, qadar adalah ketetapan atau keputusan Allah yang memiliki sifat Maha Kuasa (Qadir) atas segala ciptaan-Nya, baik berupa takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Qadar merupakan perwujudan atau realisasi dari Qada. Hubungan antara Qada dan Qadar sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.

Masih dari sumber jurnal yang sama, Qadar berasal dari Qudrah dan bisa juga dari Taqdir. Qadaradalah ukuran, takaran, pembagian dari ketentuan yang sesuai dengan qadha. 

Ada ungkapan قدرالرزقمأي قس  (Ia qadar-kan rizki, artinya ia membagikannya, mengaturnya). Kejadian-kejadian di alam semesta yang keberadaannya dalamlingkup pengetahuan dan kehendak Allah disebut qadha. Sedangkan kejadiannya dalam bentuk takaran, ukuran, waktu, dan tempat tertentu disebut qadar.

 

Perbedaan antara Qada dan Qadar

Ciptaan Allah adakalanya terwujud setelah melalui proses alam atau mengikuti hukum sebab-akibat, yakni disebut al-Khalqu, seperti wujudnya anak karena adanya orang tua dan wujudnya harta benda karena hasil usaha manusia. Adakalanya ciptaan Allah terwujud seketika tanpa proses, yakni disebut al-amru (kun fa yakun/ jadilah, maka jadi), seperti wujudnya Nabi Isa tanpa ada bapaknya. Wujud mukjizat Nabi Isa menghidupkan orang yang telah meninggal dunia karena sudah menjadi perintah Allah Swt.

Qada adalah ketetapan yang masih bersifat rencana. Ketika rencana itu sudah menjadi kenyataan, maka kejadian nyata itu bernama Qadar atau takdir.

Mengutip jurnal Menumbuhkan Jiwa Yang Tenang dengan Memahami Makna Qada danQadar Serta Mengetahui Tradisi Ziarah dalam Islam dipublikasikan di JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara Vol : 1 No: 2, April - Mei 2024, qada dan qadar atau takdir, ikhtiar, dan do’a merupakan tiga hal yang saling berkaitan. Ketiganya tidak dapat dipisahkan karena saling mempengaruhi satu sama lain.

Dengan kekuasaan-Nya, Allah SWT menciptakan suatu ketetapan, peraturan, dan undang-undang yang tidak dapat diubah oleh siapa pun dan apa pun. Namun di sisi lain manusia diberikan kebebasan untuk memilih atau menentukan ketentuan seperti apa yang dia inginkan dengan usaha terbaik yang dimiliki. Namun tetap saja, manusia tidak memiliki hak untuk memaksakan kehendaknya kepada Allah SWT.

Macam-macam takdir

Takdir Mubram

Takdir mubram adalah ketentuan mutlak dari Allah SWT yang pasti berlaku dan manusia tidak diberi peran untuk mewujudkannya. Contoh takdir ini adalah tentang kelahiran dan kematian manusia. Tentunya tidak ada yang tahu kapan manusia akan dilahirkan dan kapan akan mati. Semua menjadi rahasia Allah SWT dan terjadi sesuai dengan ketetapan-Nya.

Takdir Muallaq

Takdir Muallaq adalah ketentuan Allah SWT yang mengikut sertakan peran manusia melalui usaha atau ikhtiarnya. Contoh takdir ini adalah keberhasilan murid di sekolah dalam meraih prestasi. Murid yang berprestasi itu bukanlah murid yang diam saja tidak belajar, dan hanya menunggu takdir. Tetapi, ia yang selalu berusaha dan belajar setiap hari untuk meraih cita-cita yang diharapkannya.

Dalil tentang Qada dan Qadar

Q.S. at-Taubah ayat 51

Katakanlah, sesekali-sekali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang beriman harus bertawakal» (Q.S. at-Taubah/ 9: 51)

Q.S. al-Qamar 54: 49

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (Q.S. al-Qamar/ 54: 49)

Q.S. an-Nah 6: 61

Maka apabila telah tiba waktu (yang telah ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya. (Q.S. an-Nahl/6: 61)

 

Fungsi iman kepada Qada dan Qadar

Menurut Winda (2023) dikutip dari jurnal yang dipublikasikan di JICN: Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara Vol : 1 No: 2, April - Mei 2024, secara etimologi iman berasal dari bahasa arab dari kata dasar amana-yu’minu-imanan yang memiliki arti percaya. Percaya di dalam bahasa Indonesia bermakna yakin atau meyakini tentang sesuatu yang ada. Sedangkan menurut istilah, kata iman artinya membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan, pengertian inisejalan dengan pendapat Syekh Husain bin Audah al-awaisyah.

Iman kepada Qada dan Qadar atau bisa dikatakan iman kepada takdir berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa semua yang terjadi di dunia entah itu baik atau buruk, sedang atau akan terjadi adalah ketetapan Allah SWT yang sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Iman kepada Qada dan Qadar ini menjadi salah satu rukun iman yang mana apabila tidak diimanimaka keimanan seseorang itu dianggap tidak sempurna.

Mendorong Kemajuan dan Kemakmuran

Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah Swt. sudah diberi ukuran, takaran, sifat, dan undang-undang. Dengan iman kepada Qada dan Qadar, hendaknya manusia dapat menyelidiki dan mempelajari alam sehingga mampu memanfaatkannya. Dengan mengimani Qada dan Qadar, maka manusia dapat mempelajari suatu hukum yang pasti sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan manusia.

Menghindari Sifat Sombong

Dengan beriman kepada takdir, seseorang yang memperoleh sukses besar, meraih jabatan yang tinggi, menjadi penguasa, atau memiliki harta berlimpah, ia tidak akan merasa sombong. Sebaliknya, ia menjadi semakin rendah hati karena menyadari bahwa sukses yang diperoleh bukan semata-mata hasil usahanya sendiri, kecuali sudah menjadi ketetapan Allah. Tanpa pertolongan dan ketetapan Allah seseorang tidak akan mampu memperoleh kesuksesan itu sehingga ketika mendapatkannya, ia justru menjadi tawadlu atau rendah hati menyadari akan kemudahan dan keagungan Allah swt.

Melatih Berhusnuzan (baik sangka)

Iman kepada takdir mendidik manusia untuk berbaik sangka pada ketetapan Allah karena apa yang kita inginkan belum tentu berakibat baik, demikian pula sebaliknya.

Melatih Kesabaran

Seorang yang beriman kepada Qada dan Qadar akan tetap tabah, sabar, dan tidak mengenal putus asa pada saat mengalami kegagalan karena menyadari bahwa semua kejadian sudah ditetapkan oleh Allah. Akan tetapi, bagi orang yang tidak beriman kepada takdir, kegagalan mengakibatkan stres, putus asa, dan kegoncangan jiwa.

Terhindar dari Sifat Ragu dan Penakut

Iman pada Qada dan Qadar akan menumbuhkan sifat pemberani. Semangat dan jiwa seseorang akan bangkit karena ia tidak memiliki keraguan atau gentar sedikit pun untuk maju. Orang yang beriman itu meyakini bahwa apa pun yang bakal terjadi tidak akan menyimpang dari ketentuan atau takdir Allah.

Q & A

Apa yang dimaksud dengan Qada? 

Qada adalah ketetapan atau keputusan Allah SWT yang telah ditentukan sejak zaman azali, sebelum segala sesuatu diciptakan. Ketetapan ini bersifat umum dan menyeluruh terhadap segala sesuatu yang akan terjadi.

Apa yang dimaksud dengan Qadar?

Qadar adalah perwujudan atau realisasi dari Qada dalam kehidupan nyata. Qadar mencakup rincian ketetapan Allah yang terjadi pada waktu, tempat, dan kondisi tertentu.

Apa perbedaan antara Qada dan Qadar? 

Perbedaan utama terletak pada waktu dan sifatnya. Qada bersifat global dan sudah ditentukan sejak dahulu kala, sedangkan Qadar adalah pelaksanaannya secara rinci dan nyata dalam kehidupan seseorang.

Apa dalil yang menunjukkan bahwa Qada dan Qadar adalah bagian dari iman?

Salah satunya adalah firman Allah dalam QS. Al-Qamar: 49: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)." Selain itu, dalam hadits riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa salah satu rukun iman adalah percaya kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk.

Mengapa umat Islam wajib mengimani Qada dan Qadar? 

Karena mengimani Qada dan Qadar adalah bagian dari enam rukun iman. Ini menunjukkan keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT, sekaligus mengajarkan kita untuk tetap berusaha dan berserah diri kepada-Nya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6