Liputan6.com, Jakarta Di sebuah sudut Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pernah berdiri sebuah patung harimau yang sempat menarik perhatian nasional, bahkan internasional. Patung yang awalnya dibangun sebagai bentuk penghormatan dan kebanggaan terhadap Kodam III/Siliwangi, justru menarik perhatian publik karena bentuknya yang tidak lazim. Alih-alih menampilkan sosok harimau yang garang, patung tersebut menampilkan wajah harimau dengan ekspresi tersenyum lebar, nyaris seperti tokoh kartun.
Dalam waktu singkat, patung ini menjadi bahan perbincangan hangat di dunia maya. Wajah jenaka sang harimau membangkitkan gelak tawa, menghadirkan nuansa ringan di tengah suasana sosial dan politik yang tengah memanas. Ia menjadi semacam oase jenaka, bahkan simbol katarsis masyarakat dari hiruk-pikuk berita yang sarat ketegangan.
Fenomena yang terjadi di balik viralnya patung ini bukanlah sekadar perkara estetika patung, melainkan bagaimana sebuah elemen visual dapat menggugah emosi kolektif masyarakat dan menyatukan mereka dalam tawa yang tulus.
Advertisement
Berikut Liputan6.com ulas sejarah singkat patung macan lucu Cisewu dari berbagai sumber, Rabu (18/6/2025).
Viralitas Macan Cisewu: Simbol Humor yang Menyatukan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1540960/original/079538100_1489825134-Macan.jpg)
Viralnya patung Macan Cisewu berawal dari unggahan seorang pengguna media sosial bernama Vincent Candra. Ia membagikan foto patung tersebut di Twitter karena merasa ekspresi wajah batung tersebut lucu. Foto tersebut kemudian menyebar dengan cepat, menjadi meme di berbagai platform, mulai dari Twitter, Facebook, hingga Instagram. Tidak hanya dibagikan sebagai bahan lelucon, foto patung ini juga dimodifikasi menjadi berbagai bentuk humor visual seperti poster film, adegan sinetron, bahkan dijadikan karakter komik oleh tokoh populer seperti Si Juki.
Respon publik terhadap patung ini begitu masif. Banyak warganet yang menilai patung tersebut sebagai hiburan yang langka di tengah isu-isu nasional yang cenderung membuat tegang. "RIP Macan Cisewu, terima kasih sudah menghibur kami," tulis seorang pengguna Twitter, menandakan kedekatan emosional netizen terhadap sosok patung ini.
Secara sosiologis, fenomena Macan Cisewu menunjukkan peran penting humor dalam masyarakat. Dalam berbagai laporan, Mayor Jenderal TNI Muhammad Herindra menyebutkan bahwa patung tersebut memang dibuat oleh seniman lokal dan telah berdiri selama tujuh tahun. Sayangnya, bentuknya yang jauh dari representasi asli maskot Kodam Siliwangi dianggap tidak sesuai oleh institusi.
Namun dari sisi budaya populer, Macan Cisewu telah berperan sebagai simbol pemersatu masyarakat, terutama di tengah panasnya situasi politik seperti Pilkada DKI Jakarta 2017. Tawa yang dihadirkan oleh patung ini secara tidak langsung menyatukan masyarakat yang terpolarisasi.
Menurut Eko Budi Wienarno dalam esainya yang berjudul Seni Patung Indonesia: Perkembangan dan Kesinambungan Proses Kreatif Penciptaan Patung di Indonesia, seni patung di Indonesia memang membutuhkan pemahaman, dan upaya keras untuk menggali pengalaman pribadi, dan mempelajari secara lebih mendalam. Setidaknya seorang pematung akan lebih menyadari akan pentingnya sumber literatur, mambaca dan berdiskusi secara intensif.
Advertisement
Penggantian Patung dan Langkah Evaluasi Institusional
Seiring meluasnya popularitas Macan Cisewu, pihak Kodam Siliwangi merasa perlu melakukan evaluasi terhadap representasi visual institusinya. Patung Macan Cisewu pun dibongkar pada Maret 2017 dan diganti dengan patung baru yang lebih menyerupai harimau Siliwangi yang sebenarnya, garang, tegas, dan tidak tersenyum.
Penggantian patung ini dilakukan sebagai bagian dari langkah korektif agar identitas militer tidak terdegradasi oleh kesan humor yang tidak disengaja. Menurut keterangan Pangdam Siliwangi saat itu, patung-patung lain yang serupa juga akan dievaluasi dan diganti bila tidak sesuai dengan standar simbolisasi Kodam.
Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak dalam institusi, namun juga menimbulkan kekecewaan di kalangan masyarakat. Sebab, meski bentuknya tidak sesuai standar militer, patung Macan Cisewu telah terlanjur menjadi ikon kebudayaan digital yang memiliki nilai simbolik tersendiri.
Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta (periode 2013–2018) yang juga merupakan putra dari mantan prajurit Kodam Siliwangi, kemudian menyumbangkan patung pengganti yang baru. Patung yang dsebut sebagai Maung Sancang Siliwangi itu dibuat oleh pemahat profesional dan dirancang dengan mempertimbangkan nilai estetika serta kesesuaian sejarah. Harimau ini, menurut Dedi, merepresentasikan kebanggaan kerajaan Pajajaran, yang menjadi latar budaya Kodam Siliwangi.
Respon Warganet atas Penggantian Patung
Tanggapan warganet terhadap pembongkaran patung Macan Cisewu diwarnai kesedihan dan rasa kehilangan. Mereka merasa bahwa sesuatu yang telah memberi kebahagiaan dan mengundang gelak tawa publik justru dihapus karena tidak sesuai dengan narasi resmi.
Beberapa bahkan menyamakan kepergian patung ini dengan kematian ikon-ikon viral lainnya, seperti gorila Harambe. Meme-meme penghormatan pun bermunculan, memperlihatkan Macan Cisewu duduk berdampingan dengan tokoh-tokoh viral lainnya di 'surga para ikon internet'. Laman parodi seperti Kementerian Humor Indonesia bahkan menyatakan bahwa mereka merasa bersalah karena ikut mempopulerkan patung tersebut hingga akhirnya dibongkar.
Warganet lainnya menyarankan agar patung Macan Cisewu dipindahkan ke tempat publik seperti kebun binatang atau museum budaya populer, sehingga tetap dapat dinikmati tanpa harus mengganggu representasi resmi militer. Sayangnya, usulan ini tak terealisasi.
Respons masyarakat ini menunjukkan bahwa keberadaan Macan Cisewu telah melampaui batas fungsi artistik atau simbolis awalnya. Ia menjadi semacam ikon kolektif, simbol tawa bersama, dan dalam kadar tertentu penyejuk dalam atmosfer sosial yang kerap diliputi ketegangan.
Mengenang Patung Macan Cisewu, Viral Jadi Meme dan Dirubuhkan 2017 Silam
Dalam khazanah budaya Sunda, maung yang merupakan sebutan lokal bagi harimau memiliki kedudukan istimewa tidak hanya sebagai fauna endemik, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan identitas kultural. Salah satu figur yang sangat terkait dengan simbolisasi ini adalah Prabu Siliwangi, raja besar dari Kerajaan Pajajaran yang dianggap sebagai sosok legendaris dan suci oleh masyarakat Tatar Sunda.
Masyarakat Sunda meyakini bahwa Prabu Siliwangi menjelma menjadi seekor maung putih pada akhir hayatnya. Kepercayaan ini bersumber dari naskah dan tradisi lisan seperti Uga Wangsit Siliwangi dan Wawacan Perbu Kean Santang. Salah satu kutipan terkenal menyatakan: “Lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung” (jika aku sudah tiada bersamamu, maka lihatlah perilaku seekor harimau). Pernyataan ini dimaknai sebagai anjuran untuk meneladani sifat-sifat maung, yaitu keberanian, kekuatan, dan perlindungan terhadap keluarga.
Menurut jurnal berjudul Antara Mitos dan Realitas: Historitas Maung di Tatar Sunda yang ditulis oleh Budi Gustama dan Hilman Fauzia Khoeruman dari Universitas Padjajaran, terdapat tiga argumen penting yang mendukung kuatnya hubungan antara Prabu Siliwangi dan maung dalam tradisi Sunda:
1. Penjelmaan sebagai Maung Putih dan Penyatuan Spiritual dengan Alam
Dalam narasi lisan dan naskah klasik, Prabu Siliwangi dikisahkan menghilang di Hutan Sancang bersama pasukannya setelah dikejar oleh putranya, Prabu Kean Santang, dalam rangka penyebaran Islam. Di tempat ini, ia dipercaya berubah menjadi harimau putih, sementara para pengikutnya menjadi harimau Sancang. Transformasi ini bukan sekadar mitos perubahan bentuk, melainkan simbol penyatuan antara manusia dan alam dalam bentuk yang luhur dan sakral.
2. Sakralisasi Maung sebagai Simbol Kehormatan dan Penjaga Alam
Maung tidak hanya diasosiasikan dengan kekuatan, tetapi juga dengan kesucian dan penjagaan spiritual. Dalam tradisi masyarakat Panjalu (Ciamis), misalnya, cucu-cucu Prabu Siliwangi yang melanggar pantangan dikisahkan berubah menjadi harimau untuk menjaga sumber mata air dan alam sekitar dari kerusakan. Hal ini menunjukkan bahwa mitos harimau juga digunakan sebagai simbol ekologi dan moralitas.
3. Simbol Maung dalam Representasi Sosial Kontemporer sebagai Warisan Prabu Siliwangi
Hingga kini, visualisasi maung terus dilestarikan dalam bentuk lambang institusional dan identitas kolektif. Lambang Divisi Siliwangi—sebuah kesatuan militer yang melingkupi wilayah Jawa Barat, secara eksplisit menggunakan gambar maung sebagai simbol kekuatan dan keberanian. Begitu pula dengan Persib Bandung yang menggunakan julukan “Maung Bandung”. Kedua simbol ini menunjukkan bahwa figur maung yang diasosiasikan dengan Prabu Siliwangi tidak hanya hidup dalam mitos, tetapi juga dalam bentuk simbolik yang diterima luas di masyarakat modern.
Lebih jauh, jurnal ini juga mengungkapkan bahwa penyebutan maung seringkali memiliki konotasi spiritual dan tabu. Di beberapa daerah di Banten Selatan, bahkan ada pantangan menyebut “maung” secara langsung dan diganti dengan sebutan “meong” sebagai bentuk penghormatan terhadap kekuatan gaib harimau. Dalam konteks tersebut, maung bukan sekadar binatang, tetapi representasi dari roh leluhur atau bahkan penjelmaan raja-raja Sunda yang masih menjaga tanah leluhurnya.
Namun, relasi manusia dengan maung juga mengalami pergeseran makna akibat kolonialisasi. Dalam arsip kolonial Belanda, maung justru diberi label sebagai binatang perusak dan berbahaya. Pembukaan hutan untuk perkebunan oleh kolonial menyebabkan terganggunya habitat alami harimau, yang kemudian mengarah pada konflik ekologis antara manusia dan binatang.
Akibatnya, terjadi perburuan besar-besaran terhadap harimau, yang pada akhirnya berkontribusi pada kepunahan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Meski demikian, seperti disimpulkan dalam jurnal ini, maung tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda sebagai simbol kekuatan spiritual, warisan budaya, dan identitas etnis.
Advertisement
FAQ Tentang Macan Cisewu
1. Apa itu Macan Cisewu?
Macan Cisewu adalah sebuah patung harimau berwajah lucu yang sempat berdiri di depan Koramil 1123 Cisewu, Garut, Jawa Barat. Patung ini menjadi viral karena bentuknya yang tidak sesuai dengan maskot asli Kodam Siliwangi.
2. Siapa yang membuat patung Macan Cisewu?
Patung tersebut dibuat oleh seorang pensiunan anggota TNI sebagai bentuk rasa terima kasih terhadap institusi tempatnya pernah berdinas.
3. Mengapa patung Macan Cisewu menjadi viral?
Patung ini viral karena wajahnya yang lucu dan tidak menyeramkan, sehingga memicu banyak meme dan menjadi hiburan viral di tengah masyarakat yang tengah menghadapi ketegangan sosial-politik.
4. Mengapa patung Macan Cisewu dibongkar?
Patung tersebut dibongkar karena dinilai tidak sesuai dengan citra resmi maskot Kodam Siliwangi. Kodam melakukan evaluasi dan penggantian agar simbol-simbol militer tetap merepresentasikan ketegasan.
5. Apakah patung Macan Cisewu memiliki dampak sosial?
Ya. Patung ini menjadi simbol humor dan pemersatu masyarakat secara tak langsung. Ia menunjukkan bahwa elemen sederhana sekalipun dapat memiliki dampak kultural dan psikologis yang besar di tengah masyarakat.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256117/original/079954000_1781147945-Tugas__29_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5575337/original/085582000_1778045275-cek_fakta_-_alat_pertanian_dan_bibit_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7812129/original/049676700_1780629323-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-05T101248.112.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3302779/original/079426200_1605940809-MACAN_CISEWU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3235896/original/046311000_1777366243-pp.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1860527/original/082452700_1734048766-pexels-david-kanigan-239927285-29558894.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393441/original/064092700_1782273896-IMG-20260624-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8393442/original/070756800_1782273896-IMG-20260624-WA0014.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257368/original/081366600_1781236868-000_B6U83U4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262589/original/038165100_1781838673-AP26170082180731-Meksiko_vs_Korsel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258678/original/086617800_1781400963-000_B6Z32RM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8391143/original/089751400_1782271521-AP26174796770030.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8390580/original/090297700_1782270828-AP26174743606446.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8377926/original/005752900_1782255969-inggris.jpg)