Gigi Gemeretak saat Tidur? Bruxism Bisa Dipicu Stres

Bruxism atau menggemeretakkan gigi saat tidur. Bila kondisi ini kerap terjadi maka perlu mendapat perhatian serius. Cari tahu penyebabnya, bisa saja stre

Diterbitkan 10 April 2026, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gigi yang beradu saat tidur kerap disadari oleh orang yang sekamar. Saking seringnya, kondisi ini bisa mengganggu orang lain.

Kebiasaan melakukan gemeretak gigi saat tidur disebut dengan bruxism. Kondisi ini bisa terjadi pada pria dan wanita. Namun, kebanyakan terjadi pada anak usia 3-12 tahun seperti disampaikan dokter spesialis neurologi Yeni Quinta Mondiani.

Sleep bruxism ditandai dengan gerakan mengunyah berulang yang menyebabkan gesekan antar gigi. Suara yang dihasilkan sering kali cukup mengganggu dan dapat berdampak pada kesehatan gigi maupun sendi rahang,” jelas Yeni mengutip laman IPB University.

Bruxism terjadi akibat peningkatan aktivitas otot-otot pengunyahan seperti otot masseter, temporalis, dan pterygoid. Aktivitas ini dipicu oleh gangguan kontrol gerakan pada sistem saraf, khususnya yang melibatkan sistem dopaminergik.

“Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan kondisi normal. Hal ini menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat dalam mengatur gerakan tersebut,” terang dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University ini.

Bruxism Bisa Terjadi karena Stres

Bila kondisi ini terjadi terus menerus maka perlu mendapatkan perhatian serius. Bisa jadi, ada faktor psikologis seperti stres dan cemas yang memicu seseorang alami bruxism.

Berdasarkan meta-analisis, semakin tinggi tingkat stres seseorang, semakin besar risiko munculnya kebiasaan ini.

Ia pun menyarankan untuk mencari tahu pemicu stres kemudian mengelola. Karena bukan hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk menjaga kualitas tidur serta kesehatan gigi dan rahang.

 

Faktor Lain Pemicu Bruxism

Yeni memngatakan bahwa selain faktor psikologis, ada berbagai faktor yang dapat memicu kondisi bruxism.

"Mulai dari predisposisi genetik, kurang tidur, penggunaan obat-obatan tertentu, hingga gangguan irama sirkadian,” jelas Yeni.

Jika muncul gejala nyeri rahang, gigi retak, sensitivitas gigi, hingga gangguan mengunyah segera lakukan penanganan medis. Apalagi jika disertai dengan gangguan sakit kepala berulang.

“Jika disertai gangguan tidur, sakit kepala berulang, atau dicurigai berkaitan dengan gangguan neurologis, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis,” tegasnya.

 

Penanganan Bruxism

Yeni mengungkapkan pada orang yang kerap mengalami bruxism maka pendekatan terapi dilakukan secara komprehensif sesuai penyebab.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbaiki kualitas tidur, mengelola stres, serta menggunakan pelindung gigi untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

“Dalam kasus tertentu, dokter dapat memberikan obat pelemas otot sebelum tidur untuk membantu mengurangi kontraksi otot rahang,” kata Yeni.