Intervensi Anak Stunting, Ahli Gizi IPB: Perlu Makan dengan Dua Jenis Lauk Hewani

Anak stunting setidaknya perlu diberi dua jenis lauk hewani ketika makan untuk mendukung pertumbuhannya.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak yang mengalami stunting perlu diintervensi dengan asupan gizi yang baik setiap hari. Menurut Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Profesor Ali Khomsan mengatakan, anak stunting perlu mendapat asupan protein hewani setiap hari.

Ia menyarankan ketika makan, anak stunting setidaknya diberi dua jenis lauk hewani.

“Kalau dia (anak) sudah stunting itu lauk hewaninya harus dua misalnya dikasih telur sama ikan, atau telur sama daging ayam dan sebagainya, itu kan mengejar pertumbuhan dari anak-anak stunting,” kata Ali dalam temu media bersama Nestle di Jakarta, Rabu (5/3/2026).

Ali menjelaskan, pangan hewani merupakan pangan yang mempunyai kualitas lebih tinggi dari pada pangan nabati. Pangan hewani dapat mendukung pertumbuhan anak-anak.

Sementara, protein nabati saja tidak cukup. Jangankan bagi anak stunting, bagi balita underweight atau berat badan kurang saja tahu tempe tidak dapat memenuhi kebutuhan gizinya.

“Anak balita yang sudah underweight tidak cukup diintervensi hanya dengan protein nabati saja, seperti tahu tempe.”

Underweight dapat berujung pada stunting jika tidak diintervensi dengan baik. Tidak seperti anak stunting yang butuh dua lauk hewani saat makan, anak underweight cukup dengan satu jenis lauk hewani.

“Kalau masih underweight mungkin lauknya satu masih bisa,” kata Ali.

Telur sebagai Kapsul Kehidupan

Pemberian protein hewani seperti telur satu butir per hari dan susu 170-180 cc atau sekitar satu gelas dapat menurunkan angka underweight.

Intervensi seperti ini perlu dilakukan enam bulan berturut-turut untuk mendapat hasil yang baik.

“Telur itu, kalau orang dulu mengatakan ini adalah kapsul kehidupan, mengapa kapsul kehidupan? Kualitas proteinnya sangat bagus, mengandung vitamin A yang sangat baik,” kata Ali.

Selain itu, telur juga disukai anak-anak dan tidak membuat bosan karena dapat diolah menjadi berbagai hal.

“Telur itu relatif banyak disukai oleh anak-anak, nyaris enggak ada bosannya anak-anak makan telur karena variasi masakannya juga bisa berbeda-beda. Apakah direbus, digoreng, diceplok, dan lainnya. Sehingga saya kira itu intervensi yang pas,” tambahnya.

Misi Perbaikan Gizi Anak

Dalam misi perbaikan gizi anak-anak di tiga daerah yakni Batang, Pasuruan, dan Karawang, Ali terlibat dalam program Pendampingan Gizi 2025 bersama Nestle. Dalam program ini ia memberikan edukasi dan mengumpulkan data terkait status gizi anak.

Setelah terjun langsung ke lapangan, ia melihat bahwa anak-anak telah mengonsumsi makanan-makanan rumahan yang biasa dikonsumsi. Dalam program ini, ia menambahkan asupan protein telur dan susu dalam konsumsi harian.

“Telur itu murah, tapi bagi masyarakat miskin sulit juga. Kita menambahkan asupan protein hewani berupa susu dan telur karena itu yang mungkin relatif sulit untuk dipenuhi oleh mereka. Sehingga keberagaman itu menjadi lebih meningkat ketika ketersediaan susu dan telur itu lebih tersedia dan diperoleh secara gratis oleh mereka,” jelas Ali kepada Health Liputan6.com.

Program Pendampingan Gizi 2025 dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026.

Program ini menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.

Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5 persen, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian.