Buka Puasa Bareng Ternyata Bisa Bentuk Karakter Anak, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Buka puasa bersama ternyata bisa bentuk karakter anak. Simak penjelasan ilmiah soal ritme makan dan disiplin sejak dini.

Diterbitkan 19 Februari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Selama ini, buka puasa kerap dimaknai sebagai momen spiritual sekaligus ajang berkumpul keluarga. Namun, dari sudut pandang kesehatan dan ilmu perilaku komunitas, buka puasa Ramadan bersama ternyata memiliki dampak yang jauh lebih dalam. Termasuk dalam membentuk kebiasaan makan dan karakter anak sejak dini.

Berbagai penelitian tentang family meals atau makan bersama keluarga menunjukkan hasil yang konsisten. Salah satu kajian yang banyak menjadi rujukan adalah penelitian Jerica Berge yang menemukan bahwa anak-anak yang rutin makan bersama keluarga, terutama dalam momen tertentu, memiliki regulasi porsi makan yang lebih baik, lebih jarang ngemil berlebihan, dan pola makan lebih stabil dalam jangka panjang.

Temuan ini juga diperluas dalam konteks Ramadan. Hasilnya menunjukkan bahwa anak yang rutin buka puasa bersama keluarga memiliki perilaku mindful eating dua hingga tiga kali lebih dominan dibandingkan anak yang berbuka secara terpisah dari keluarga inti.

Buka Puasa dan Pembentukan Ritme Tubuh

Menurut dokter dan peneliti kedokteran komunitas sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, momen buka puasa dan sahur bersama memiliki dampak fisiologis yang nyata.

"Tubuh pada dasarnya menyukai keteraturan. Hormon lapar seperti ghrelin bekerja mengikuti jam biologis. Ketika anak terbiasa makan pada waktu yang jelas dan konsisten, dorongan makan impulsif di luar jam tersebut cenderung berkurang," kata Ray kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat pada Rabu, 18 Februari 2026.

Ramadan, menurutnya, adalah kesempatan emas untuk membangun ritme tersebut. Ada sahur, ada berbuka, dengan struktur waktu yang relatif sama setiap hari.

"Jika dimanfaatkan dengan baik melalui buka puasa dan sahur bersama orang tua, pola ini bisa menajamkan memori tubuh dan otak anak agar mengikuti kebiasaan makan yang teratur. Pola makan teratur juga terbukti memengaruhi kualitas istirahat dan pola belajar anak," tambahnya.

Artinya, disiplin sederhana di meja makan bisa berdampak pada performa anak di sekolah dan kesehariannya.

Anak Belajar dari Teladan Orang Tua

Selain ritme, faktor modeling atau keteladanan juga berperan penting. Dalam ilmu perkembangan anak, perilaku makan sangat dipengaruhi oleh contoh orang tua.

Penelitian klasik Birch dan Fisher sejak akhir 1990-an menunjukkan bahwa anak belajar makan melalui observasi. Jika orang tua konsisten buka puasa dan sahur bersama, anak akan melihat keteraturan dan kebersamaan sebagai sesuatu yang normal.

"Anak belajar bukan hanya dari instruksi, tetapi dari apa yang ia lihat setiap hari. Ketika orang tua memberi contoh disiplin waktu makan dan kebersamaan, itu akan tertanam sebagai kebiasaan jangka panjang," ujar Ray.

Analisis lanjutan dari berbagai studi bahkan menunjukkan bahwa anak yang terbiasa dengan struktur makan yang konsisten cenderung lebih disiplin dalam aspek kehidupan lain, termasuk belajar dan mengelola emosi.

 

Tempo Makan dan Mindful Eating

Aspek lain yang tak kalah penting adalah tempo makan. Penelitian menunjukkan bahwa makan sambil menonton televisi atau bermain gawai membuat seseorang cenderung makan lebih banyak. Otak tidak fokus membaca sinyal kenyang dari lambung.

Tubuh membutuhkan sekitar 15–20 menit untuk benar-benar merasakan kenyang. Jika makan berlangsung terlalu cepat, sinyal tersebut datang terlambat dan berisiko memicu konsumsi berlebihan.

"Berbuka bersama dengan percakapan ringan dan suasana hangat secara alami memperlambat tempo makan. Ini membantu anak lebih sadar terhadap rasa lapar dan kenyang," tambah Ray.

Kebiasaan ini membentuk mindful eating, yaitu kemampuan makan dengan kesadaran penuh, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat.

 

Jadikan Buka Puasa sebagai Ritual Selama Ramadan 2026

Agar manfaat buka puasa terasa optimal, orang tua disarankan menjadikannya ritual tetap, bukan acara dadakan.

Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan antara lain:

  1. Menetapkan jam sahur dan berbuka yang konsisten setiap hari.
  2. Duduk bersama minimal 15–20 menit.
  3. Menghindari makan sambil berdiri atau lalu-lalang.
  4. Memastikan asupan nutrisi seimbang, termasuk susu pertumbuhan dengan serat pangan seperti FOS, GOS, dan inulin untuk mendukung kesehatan saluran cerna.

"Disiplin lahir dari ritme. Ketika waktu makan jelas dan konsisten, anak belajar kontrol diri bukan hanya dalam makan, tetapi juga dalam aktivitas lain," pungkas Ray.

Pada akhirnya, buka puasa bukan hanya tentang membatalkan lapar dan haus. Di balik meja makan Ramadan, ada proses pembentukan regulasi diri, kedisiplinan, dan karakter yang bisa terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Momen sederhana ini, jika dijalani dengan sadar dan konsisten, bisa menjadi investasi jangka panjang bagi kualitas generasi berikutnya.

  • liputan6
    Menurut ahli bahasa Sansekerta, upawasa bermakna ritual untuk “masuk” ke Yang Ilahi.
    puasa
  • Ramadan adalah bulan suci umat Islam yang dirayakan dengan cara melaksanakan puasa selama satu bulan penuh.
    Bulan Ramadan adalah periode suci bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk berpuasa, meningkatkan ibadah, dan mempererat tali silaturahmi, dengan panduan lengkap mencakup jadwal, fiqih, gaya hidup, ekonomi, dan kesehatan.
    Ramadan
  • Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam).
    Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan agama Islam).
    Ramadhan
  • Buka Puasa
  • Ramadan 2026
  • Ramadhan 2026