EMC Healthcare Gelar Seminar Medis, Bahas Penanganan Terkini Kanker Kolorektal dan Payudara

100an dokter hadir dalam seminar medis yang digelar EMC Healthcare mengenai penanganan terkini kanker kolorektal dan kanker payudara.

Diterbitkan 12 Februari 2026, 09:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jaringan rumah sakit EMC Healthcare menggelar seminar medis bertema Advancing Cancer Care in Indonesia pada 11 Februari 2026 di Hotel Sultan Jakarta.

Seminar medis tersebut dihadiri lebih dari 100 dokter dari berbagai fasilitas layanan kesehatan. Dalam sambutannya, Sales and Marketing Director of EMC Healthcare, drg Nailufar, MARS berharap lewat kegiatan tersebut para dokter yang hadir dapat meningkatkan kompetensi dan memperbarui wawasan tenaga medis terhadap perkembangan ilmu kedokteran terkini.

Narasumber pertama Dr dr Denni Joko Purwanto SpB Subsp Onk dari RS EMC Alam Sutera membahas secara mendalam mengenai kanker payudara dan tiroid.

Deni mengungkapkan dibandingkan penyakit jantung, pencegahan terjadinya kanker lebih sulit.

"Kalau penyakit kardiovaskular, itu bisa dicegah dengan menjalankan hidup sehat, tapi kalau kanker (upaya pencegahan) agak susah," tuturnya.

Hal yang perlu diupayakan adalah menemukan kanker di stadium awal. Pada kanker payudara, bila kanker ditemukan di stadium awal maka angka keberhasilan pengobatan bisa mencapai 90 persen.

Maka dari itu ia selalu menekankan pentingnya para perempuan melakukan deteksi dini lewat SADARI alias perikSA payuDara sendiRI. Lakukan SADARI di hari kelima hingga 10 sesudah haid sementara itu bagi perempuan yang sudah menopause bisa dilakukan pada tanggal yang sama tiap bulan.

"Supaya apa? Supaya bisa mengetahui ada atau tidaknya kelainan di payudara. Misalnya ada benjolan, inflamasi atau kulit seperti kulit jeruk itu segera diperiksakan," tutur Deni.

Selain lewat SADARI, ia juga menyarankan perempuan untuk melakukan pemeriksaan klinis. Bagi wanita usia di bawah 40 tahun bisa melakukan pemeriksaan payudara lewat USG mammae sementara bila sudah di atas 40 tahun lewat mammografi. Lalu, pada kondisi-kondisi tertentu dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan MRI.

Jika memang terdeteksi kanker payudara, Deni mengatakan bahwa jangan takut untuk segera melakukan pengoabtan.

"Kanker payudara itu memang terbanyak, baik di dunia dan Indonesia. Oleh karena itu penelitian-penelitiannya banyak, jadi senjatanya banyak," kata Deni.

"Dulu hanya kemoterapi, sekarang ada hormonal terapi. Lalu, ada juga gen profiling sehingga terapi pada pasien kanker payudara lebih presisi," tuturnya.

"Dan memang, angka survival breast cancer itu makin lama makin bagus," tutupnya.

 

Ada Peningkatan Kasus Kanker Kolorektal pada Usia Muda

Di sesi kedua, dokter Seno Budi Santoso SpB Subps BD(K) mengungkapkan bahwa biasanya kasus kanker kolorektal terjadi di usia 50-60 tahun. Namun, dalam 10 tahun terakhir di ruang praktek, Seno menemukan tidak sedikit kasus kanker kolorektal di bawah usia 40.

"Insidensi meningkat sangat tajam biasanya umur di atas 50-60 tahun tapi sekarang usia cenderung muda. Akhir-akhir ini saya menerina pasien CA kolorektal di bawah 40 tahun," tuturnya.

"Biasanya ketika terjadi di usia muda lebih ganas," papar pria yang sehari-hari praktik di RS EMC Pulomas itu.

Seno mengungkapkan bahwa kanker kolorektal stadium awal tidak menunjukkan gejala. Maka dari itu pemeriksaan perlu dilakukan meski tidak ada gejala. Salah satunya dengan pemeriksaan feses.

Bila hasil laboratorium menunjukkan ada darah samar pada feses, lanjut Seno, maka bisa dilakukan pemeriksaan lebih detail.

"Walaupun darah itu belum tentu ya, bisa juga dari makanan bisa, kalau kita makan daging itu kalau tes bisa darah samarnya positif. Namun, dengan adanya darah itu membuat kita harus melanjutkan ke pemeriksaan yang lebih detail," paparnya.

 

Kanker Tidak Langsung Berukuran Besar

Lewat endoskopi, kata Seno, bila memang ditemukan benjolan kecil yang ternyata kanker maka bisa dilakukan pengobatan.

"Karena kan tumor itu tidak datang dari langit langsung sebesar gini. Pasti dari kecil. Dan ketika ukuran kecil, belum ada manifest gejalanya. Nah itu yang tidak diketahui," katanya.

Sebagai upaya menemukan kasus kanker kolorektal sedini mungkin, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan gold standar lewat endoskopi.

"Jadi, dokter benar-benar bisa melihat kondisi di dalam usus seperti apa. Kalau ada benjolan, sebesar kacang pun akan bisa kelihatan," tutur Seno.

Lalu, lewat endoskopi, benjolan tersebut juga bisa diambil sedikit jaringan untuk mengetahui tumor itu ganas atau tidak.

"Rekomendasinya, laki-laki di atas 50 tahun itu perlu endoskopi, bergejala atau tidak" saran Seno.

 

Pemeriksaan Canggih Lewat Biograph Vision Quadra PET/Scan

Salah satu upaya menegakkan diagnosis kanker adalah lewat PET/CT Scan. Saat ini, EMC memiliki Biograph Vision Quadra, sebuah PET/CT Scan yang mampu memindai area tubuh yang luas dalam waktu cepat sekitar 4 menit.

Dokter spesialis kedokteran nuklir konsultan Junan Imaniar Pribadi mengatakan lewat alat ini bila ada curiga ada keganasan maupun penyebaran sel kanker atau metastasis juga bisa dilakukan pemindaian menggunakan PET/CT Scan Quadra.

"Metastasi kan bisa ke tulang atau ke paru atau ke liver, lewat pemindaian PET/CT Scan ini begitu ada metastasis jadi bisa ditangani. Jadi, untuk deteksi awal untuk terapi lebih baik," kata dokter yang praktik di RS EMC Grha Kedoya Jakarta.

Ketika sudah diketahui ada atau tidaknya metastasis atau keganasan sel, maka akan membantu dokter dalam memberikan terapi yang tepat. "Diagnosis lebih tepat, jadi terapi yang digunakan sesuaikan dengan target," kata Junan.