Virus Nipah Belum Masuk RI, Dokter Anak Ingatkan Ancaman Kematian Hingga 75 Persen

Virus Nipah belum ditemukan di Indonesia, namun dokter anak mengingatkan risiko kematian hingga 75 persen dan pentingnya kewaspadaan sejak dini.

Diterbitkan 31 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus virus Nipah pada manusia hingga kini memang belum terdeteksi di Indonesia. Namun, para ahli menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh membuat masyarakat lengah. Kewaspadaan tetap diperlukan, mengingat reservoir alami infeksi virus Nipah, yakni kelelawar buah, juga hidup dan tersebar luas di berbagai wilayah Tanah Air.

Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof Dr dr Dominicus Husada SpA Subsp IPT, menekankan bahwa peran kelelawar dalam penularan penyakit tidak bisa dianggap remeh. Hal ini disampaikannya dalam webinar bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Kamis, 29 Januari 2026.

"Kita enggak bisa anggap remeh hewan ini. Banyak data ilmiah yang menunjukkan peran kelelawar dalam penularan penyakit, bukan hanya menular tetapi juga memengaruhi mutasi virus," ujar Domi.

Dia, menambahkan, meskipun secara global kasus infeksi virus Nipah pada manusia baru tercatat sekitar 800-an sejak pertama kali ditemukan pada 1998, justru inilah saat yang tepat untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Untuk penyakit ini jangan dianggap remeh meski kasusnya masih sedikit. Ini justru waktu yang tepat untuk waspada," tambahnya.

Salah satu alasan utama virus Nipah sangat ditakuti adalah tingginya angka kematian. Menurut Domi, fatalitas akibat infeksi virus Nipah bisa mencapai 40 hingga 75 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19, yang tingkat kematiannya sekitar 1 persen.

"Virus Nipah ditakuti karena angka kematiannya sangat tinggi. Sampai sekarang juga belum ada antivirus atau pengobatan khusus untuk penyakit ini," katanya.

 

 

Virus Nipah Dapat Menyerang Siapa Saja

Virus Nipah dapat menyerang siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Namun, kelompok usia anak justru memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, terutama pada usia sangat muda. Berdasarkan catatan kasus, infeksi virus Nipah pada manusia pernah terjadi pada bayi berusia setengah tahun.

"Usia makin rendah, sistem imunnya belum matang. Kalau terpapar di usia yang sangat muda, risikonya untuk meninggal lebih besar," kata Domi.

Kondisi ini berbeda dengan infeksi SARS-CoV-2, yang umumnya tidak menimbulkan fatalitas tinggi pada anak-anak.

Meski mematikan, Domi menjelaskan bahwa risiko virus Nipah menjadi pandemi global relatif kecil.

Hal ini karena cara penularannya membutuhkan kontak langsung, seperti melalui urine, feses, atau cairan tubuh lainnya, bukan lewat udara seperti virus pernapasan.

"Untuk bisa menjadi pandemi, penularannya harus cepat dan mudah, seperti lewat saluran napas. Virus Nipah tidak seperti itu," katanya.

Meski demikian, risiko terjadinya wabah lokal di tingkat kota, provinsi, atau negara tetap ada.

"Risiko wabah besar di suatu wilayah itu nyata. Kita tidak bisa bilang nol, karena mutasi pada makhluk hidup itu hal yang biasa," tambahnya.

Cara Mencegah Virus Nipah

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohonnya, karena berpotensi terkontaminasi urine atau air liur kelelawar.

Nira wajib dimasak sebelum dikonsumsi. Selain itu, buah harus dicuci dan dikupas dengan bersih, serta dibuang jika terdapat bekas gigitan kelelawar. Kontak dengan hewan ternak yang berisiko, seperti babi dan kuda, juga sebaiknya dihindari atau dilakukan dengan alat pelindung diri.

Meski belum ditemukan di Indonesia, kewaspadaan terhadap virus Nipah menjadi langkah penting untuk mencegah ancaman penyakit mematikan ini sejak dini.