Gas Tertawa: Euforia Sesaat yang Diam-Diam Mengancam Otak dan Nyawa

Penyalahgunaan gas tertawa (N2O) meningkat global. Studi Lancet ungkap risiko gangguan saraf, psikiatri, hingga kematian serius.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 18:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sehubungan banyaknya berita hari-hari ini tentang gas tertawa (N2O) maka disampaikan bahwa majalah kedokteran internasional yang bereputasi tinggi 'Lancet' pada tahun 2025 menurunkan artikel berjudul 'Tackling the growing burden of nitrous oxide-induced public health harms'.

Dalam artikel ilmiah ini disebutkan bahwa penggunaan N2O untuk rekreasi (bukan untuk keperluan medis) makin meningkat dari waktu ke waktu.

Penelitian internasional 'The Global Drug Survei' yang melibatkan lebih dari 32,000 partisipan dari 22 negara (sebagian besar dari Eropa) menunjukkan bahwa 22·5 persen responden pernah menggunakan N2O ini untuk mendapat efek euforia-nya.

Lalu, penelitian lain mendapatkan peningkatan penggunaan N2O ini di dunia, dari 10 persen di tahun 2015 menjadi 20 persen di tahun 2021. Dituliskan juga bahwa di Inggris penggunaan N2O menduduki peringkat ke tiga, sesudah kanabis dan kokain.

Tulisan ilmiah di jurnal Lancet ini menuliskan setidaknya tiga dampak buruk bagi kesehatan bila N2O digunakan tidak dalam pengawasan medis, apalagi berlebihan dan berulang.

Ganggan Neurologik

Pertama adalah gangguan neurologik, sistem syaraf. Secara umum bentuknya adalah mieloneuropati dan neuropati perifer, yang berhubungan dengan defisiensi fungsi B12 akibat menghirup N2O ini.

Gejala yang timbul dapat berupa parastesia, ataxia, kelemahan, gangguan buang air besar dan buang air kecil, dll.

 

Gas Tertawa Sebabkan Delusi dan Halusinasi

Ke dua adalah gangguan psikiatri. Ini dapat berupa delusi, halusinasi, paranoid dan depresi, dan pernah pula dilaporkan psikosis akut.

3. Bahaya di Paru

Ke tiga adalah gangguan kesehatan lain yang banyak bentuknya. Di paru dan saluran napas dapat berupa keluhan asfixia dan terjadinya keadaan pneumomediastinum dan pneumotoraks atau selaput mediastinum dan selaput paru yang kemasukan udara sehingga menekan mediastinum dan paru.

Juga dapat terjadi bekuan darah dalam bentuk tromboemboli, termasuk emboli paru dan trombosis sinus vena sentral, serta dapat terjadi luka dingin (“frostbite”).

Selanjutnya, gangguan di darah dalam bentuk hiperhomosisteinaemia punya potensi --- walaupun amat jarang --- berhubungan dengan infark jantung dan stroke.

 

Peningkatan Penggunaan Gas Tertawa

Tentang peningkatan penggunaan N2O ini maka dapat juga dilihat di publikasi jurnal ilmiah 'Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR)' dari 'Center of Disease Control and Prevention (CDC)' Amerika Serikat pada April 2025 yang menyebutkan bahwa data penyalah-gunaan N2O meningkat 4 sampai 5 kali pada tahun 2023 dibanding 2029.

Dengan data-data di atas maka kita semua perlu waspada tentang Indonesia. Kita menyambut baik pernyataan Badan Narkotika Nasional (BNN) yang mengimbau masyarakat jangan pernah mencoba untuk mengonsumsi 'gas tertawa' alias Whip Pink, yang kini marak diperbincangkan di media sosial.

Prof Tjandra Yoga Aditama

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta

Kepala Balitbangkes Penerima Rekor MURI April 2024,

Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025