Masalah Kulit yang Sering Diabaikan Perempuan, Dokter Kosmetik Ini Jelaskan Dampaknya

Masalah kulit seperti kendur dan stretch mark kerap diabaikan. Dr. Jonathan Loo menjelaskan risikonya dari sisi medis.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 17:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Masalah kulit kerap dianggap sekadar persoalan estetika. Padahal, di balik perubahan tekstur, kekenduran, hingga munculnya stretch mark dan selulit, tersimpan dampak yang lebih kompleks terhadap kesehatan kulit secara menyeluruh.

Hal ini disoroti oleh Dr. Jonathan Loo, Cosmetic Physician sekaligus InMode Global Key Opinion Leader (KOL), yang menilai banyak masalah kulit modern kerap terlambat ditangani karena dianggap sepele.

Menurut Dr. Jonathan Loo, gaya hidup urban, perubahan hormon, kehamilan, penurunan atau kenaikan berat badan drastis, hingga proses penuaan alami, berkontribusi besar terhadap kerusakan struktur kulit.

"Masalah kulit bukan hanya soal permukaan. Yang sering luput adalah perubahan pada lapisan dalam kulit dan jaringan lemak," ujarnya.

Dia, menjelaskan, ketika kolagen dan elastin mulai menurun, kulit kehilangan kemampuan alaminya untuk kembali kencang.

Akibatnya, muncul berbagai keluhan seperti kulit kendur, pori-pori membesar, garis halus, hingga perubahan kontur wajah dan tubuh.

Dalam praktik klinis, kondisi inilah yang menurutnya membutuhkan pendekatan teknologi yang mampu bekerja di lebih dari satu kedalaman jaringan, seperti yang diterapkan pada pengembangan Morpheus8 Brust.

Jonathan juga menyoroti dampak psikologis dari masalah kulit yang jarang dibicarakan. Perubahan fisik, terutama pasca kehamilan atau setelah penurunan berat badan signifikan, kerap memengaruhi kepercayaan diri perempuan.

"Banyak pasien datang bukan hanya membawa keluhan fisik, tapi juga beban emosional," ujarnya.

 

Stretch Mark: Masalah Kulit yang Sering Disepelekan

Stretch mark dan selulit, misalnya, sering dianggap wajar sehingga tidak ditangani sejak awal. Padahal, kondisi tersebut menandakan adanya perubahan pada jaringan kulit yang membutuhkan stimulasi kolagen agar tidak semakin memburuk.

Menurut Jonathan, teknologi berbasis RF microneedling generasi baru, seperti yang digunakan pada Morpheus8 Brust, dirancang untuk menjangkau permasalahan kulit semacam ini secara lebih terukur.

 

Pendekatan Perawatan Kulit Perlu Lebih Presisi

Menurut Jonathan, kompleksitas masalah kulit modern menuntut pendekatan yang lebih presisi dan menyeluruh. Perawatan yang hanya bekerja di lapisan atas kulit dinilai tidak lagi cukup.

Dibutuhkan metode yang mampu menyesuaikan energi perawatan dengan kedalaman jaringan yang berbeda agar hasilnya optimal.

Dia menekankan pentingnya pemahaman kondisi kulit secara individual sebelum menentukan jenis perawatan.

"Setiap lapisan kulit punya karakteristik dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pendekatannya harus spesifik, bukan seragam," ujarnya.

Dia mengingatkan bahwa semakin cepat masalah kulit dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh. Kesadaran dini membantu mencegah kerusakan lanjutan dan mengurangi kebutuhan tindakan yang lebih invasif di kemudian hari.

Jonathan berharap masyarakat mulai memandang perawatan kulit sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup.

"Kulit adalah organ terbesar tubuh. Merawatnya berarti menjaga kesehatan secara keseluruhan," pungkasnya