[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: 4 Hal tentang Kebutuhan Dokter di Indonesia

Untuk mengatasi kebutuhan dokter di Indonesia, ada beberapa hal yang perlu ditelaah. Selain jumlah, penting untuk mengetahui distribusi dokter.

Diterbitkan 26 Januari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Liputan6.com pada 21 Januari 2026 menurunkan berita berjudul “Laporan Liputan6.com dari London: Prabowo Ingin Bangun 10 Kampus Baru Berstandar Internasional untuk Atasi Kekurangan Dokter”.

Dalam hal ini informasi mengatasi kebutuhan dokter di Indonesia ini maka ada empat hal yang dapat disampaikan. Pertama tentang jumlah dokter, harus dilihat pula tentang distribusinya.

Bukan tidak mungkin ada daerah-daerah yang sudah banyak jumlah dokternya sementara daerah lain kurang dokternya. Akan baik kalau dipaparkan data rinci tentang jumlah dokter yang sekarang ada di berbagai kota besar negara, jumlah dokter umum dan dokter spesialis.

Kita dapat melihat distribusi di kota-kota besar versus di daerah lain, juga distribusi per propinsi dan kabupaten kota. Upaya penambahan dokter tentu juga harus sejalan dengan distribusinya untuk melayani rakyat kita di berbagai daerah nusantara.

Kedua, untuk mendistribusikan dokter maka perlu diingat bahwa dalam bekerja maka dokter juga perlu mendapat perlindungan dengan baik dan utamanya perlindungan hukum pada kerjanya. Selain menjalankan profesinya dokter juga tentu memerlukan perlindungan agar dapat melakukan kehidupan yang layak, membina keluarga. Juga tentang anak-anaknya bisa sekolah sampai perguruan tinggi.

Salah satu contoh saja, waktu saya lulus menjadi dokter di tahun 1980 maka jelas ada program InPres, sebagian besar teman-teman seangkatan saya bekerja di berbagai Puskesmas di pelosok Nusantara. Sebagian ada yang tanpa listrik, tanpa transportasi, kalau toh praktek ada yang dibayar dengan hasil tani atau ternak seperti ayam.

Tetapi jelas bahwa kami menjalani itu selama 3 tahun dan kemudian dapat melanjutkan pendidikan spesialisasi, dan selalu ada teman dokter lain yang datang dan mengisi Puskesmas tempat kerja, jadi ada program yang jelas sehingga dokter dapat menjalankan kehidupannya dengan lebih tenang.

 

Penambahan Dokter Perlu Optimalkan FK yang Ada

Ketiga, kalau akan menambah jumlah dokter umum dan dokter spesialis maka alangkah lebih baik bila dicek dulu Pusat Pendidikan yang ada sekarang. Indonesia punya banyak universitas ternama, ada banyak sekali Fakultas Kedokteran yang sudah berakreditasi Unggul.

Akan baik kalau pada Fakultas Kedokteran yang sudah ada didukung agar mereka dapat meningkatkan jumlah penerimaan dan lulusannya.

Tentu saja ini baiknya sejalan dengan rencana Pemerintah untuk membantu pembiayaan bagi mahasiswa kedokteran dan Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang baiknya tidak hanya diterapkan pada universitas yang baru akan dibuat tetapi juga pada universitas yang sudah ada kini.

 

FK Baru Harus Dijamin Kualitasnya

Keempat, kalau akan membuka Fakultas Kedokteran baru maka tentu harus dijamin kualitasnya. Hal ini setidaknya tergantung dari tiga hal:

  • Dosen yang mumpuni yang menguasai ilmu kedokteran dan mampu mengajarkannya kepada mahasiswa.
  • Sarana dan prasarana, mulai dari pendidikan kedokteran dasar sampai ke kedokteran klinik, tentu dengan dasar ilmiah yang baik (perpustakaan, penelitian, publikasi di jurnal internasional dan lain-lain).
  • Memiliki kurikulum yang dijalankan dengan amat baik. 

Ketiga hal ini diperlukan karena profesi dokter sehari-hari berhubungan langsung dengan nyawa manusia.

 

**Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University