Liputan6.com, Jakarta - Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa daging anjing dan kucing lebih berkhasiat dibandingkan daging sapi jika ditinjau dari nilai gizinya. Guru Besar Genetika dan Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan IPB University, Profesor Ronny Rachman Noor, menekankan, daging sapi justru lebih unggul secara nutrisi.
Keunggulan tersebut terlihat dari kualitas protein, komposisi lemak, hingga kepadatan mikronutrien. Sementara itu, daging anjing dan kucing memang memiliki makronutrien dasar yang relatif sebanding.
Namun, data ilmiah terkait kandungan gizinya masih sangat terbatas karena praktik konsumsinya menuai kontroversi dari sisi etika. "Dari sisi kandungan lemak, daging sapi mengandung lemak lebih sedikit dibandingkan daging anjing. Karena itu, daging sapi lebih sehat," ujar Ronny, dikutip dari laman IPB pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Advertisement
Dia, menambahkan, daging sapi juga lebih unggul dalam kandungan zat besi, vitamin B, serta omega-3. Selain itu, daya cerna daging sapi lebih tinggi sehingga lebih mudah dicerna tubuh dibandingkan daging anjing dan kucing.
Dari aspek kesehatan masyarakat, peredaran dan konsumsi daging anjing serta kucing dinilai berisiko tinggi karena berpotensi menyebarkan penyakit zoonosis, seperti rabies.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan pasar hewan hidup dengan munculnya berbagai penyakit menular, termasuk COVID-19.
Rabies, yang dikenal masyarakat sebagai penyakit anjing gila, telah berulang kali mewabah di berbagai wilayah Indonesia dan menyebabkan korban jiwa.
Penyakit ini ditularkan melalui gigitan atau kontak dengan hewan yang terinfeksi. Perdagangan anjing dan kucing hidup maupun dagingnya dinilai berperan besar dalam meningkatkan risiko penyebaran rabies.
Tingkatkan Risiko Infeksi Bakteri
Di samping rabies, penanganan daging anjing dan kucing yang tidak baik akan meningkatkan kejadian infeksi bakteri seperti Salmonella dan E. coli, serta infeksi parasit lainnya yang juga dapat mewabah.
Keberadaan pasar hewan informal atau ilegal yang biasanya luput dari pengawas veteriner juga berperan dalam peningkatan risiko penyebaran zoonosis atau penyakit yang ditularkan hewan.
Pasar hewan hidup yang menjual anjing dan kucing bersama spesies lain turut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi munculnya patogen zoonosis baru, serupa dengan wabah seperti COVID-19.
"Dampak ekonomi dari terjadinya wabah penyakit yang ditimbulkan oleh anjing dan kucing seperti rabies tentu saja tidak dapat diabaikan karena akan mengancam mata pencaharian masyarakat," tambah Ronny.
Kekhawatiran akan dampak perdagangan, peredaran, dan konsumsi daging anjing dan kucing terhadap kesehatan manusia, mendorong pelarangan dan regulasi di berbagai daerah.
Seperti halnya upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta baru-baru ini untuk melarang perdagangan daging anjing dan kucing untuk mencegah rabies dan melindungi kesehatan masyarakat.
"Rencana pelarangan perdagangan dan konsumsi daging anjing dan kucing oleh Pemprov DKI Jakarta walaupun terlambat dinilai merupakan langkah maju. Diharapkan langkah ini menjadi cikal bakal pelarangan total konsumsi dan perdagangannya di Indonesia," ujarnya.
Advertisement
Sejarah Konsumsi Daging Anjing dan Kucing
Dilihat dari sisi sejarahnya, konsumsi daging anjing dan kucing sudah ribuan tahun dilakukan sebagai bagian dari tradisi. Sebagai contoh di beberapa wilayah Asia, anjing secara historis dikonsumsi karena dianggap memiliki manfaat medis atau sebagai bagian dari ritual musiman.
Jika dibandingkan dengan daging anjing, mengonsumsi daging kucing kurang umum, tetapi masih dilakukan di beberapa wilayah dan masyarakat tertentu.
Jika ditinjau dari lini waktu, konsumsi daging anjing dan kucing memang telah berakar sejak lama sebagai bagian dari budaya di masyarakat di berbagai negara.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu semakin banyak penentangan karena ditinjau dari sisi pergeseran etika, kesehatan, dan budaya dinilai kontroversial. Maka dari itu, konsumsinya semakin menurun.
Â
Budaya Makan Daging Anjing di Beberapa Negara
Tiongkok dan Vietnam memiliki sejarah panjang mengonsumsi daging anjing, yang terkait dengan festival atau kepercayaan tradisional. Sebagai contoh, Festival Daging Anjing Yulin di Tiongkok dimulai tahun 2000 yang didasari oleh tradisi lama yang berakar di negara Tirai Bambu ini.
Negara lain yang juga mempraktikkan memakan daging anjing adalah Korea Selatan. Daging anjing  secara tradisional dikonsumsi selama musim panas untuk tujuan meningkatkan stamina.
Namun, popularitasnya telah menurun secara tajam utamanya di kalangan muda. Karena itu, diprediksi dalam kurun waktu 10–15 tahun ke depan tradisi ini akan menghilang dengan sendirinya karena tidak ada generasi penerus.
Di beberapa wilayah di Afrika, daging anjing juga umum dikonsumsi sebagai bagian dari adat istiadat setempat dan karena alasan kebutuhan ekonomi.
Sebaliknya, kebiasaan mengonsumsi daging anjing dan kucing di Eropa dan Amerika jarang terjadi. Kalaupun ada dalam catatan sejarah, sebagian besar dikaitkan dengan kondisi perang atau kelaparan.
Di Amerika, status hukum mengonsumsi daging anjing dikategorikan sebagai tindakan legal yang bermakna tidak secara eksplisit dilarang, tetapi transportasi dan penjualannya dilarang.
Di negara ini, aturan yang berlaku memiliki pengecualian untuk upacara penduduk asli Amerika.
Berdasarkan berbagai catatan yang ada, pada saat ini diperkirakan ada sekitar 30 juta anjing dan jutaan kucing dibantai setiap tahunnya untuk diambil dagingnya di seluruh dunia.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, angka ini diperkirakan semakin menurun karena adanya gerakan penolakan publik yang semakin meningkat, terutama di kawasan Asia.
Sebagai contoh di Korea Selatan, generasi muda semakin menolak daging anjing, dan pemerintah sedang mempertimbangkan melakukan larangan penuh.
Di Indonesia para aktivis dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta mendorong larangan mengonsumsi dan memperdagangkan daging anjing dan kucing.
Baru-baru ini, DPRD DKI Jakarta juga mendukung peraturan gubernur untuk melarang distribusi daging anjing dan kucing.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8682083/original/077005500_1782732215-dedi_mulyadi_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495122/original/083308700_1770356146-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sardewa-6_Februari_2026b.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537107/original/075541100_1774410122-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-25T095300.861.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1908458/original/066821200_1766619000-WhatsApp_Image_2025-12-25_at_06.29.31.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5475490/original/060097200_1768621770-daging_anjing_dan_kucing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8312896/original/014782800_1782180155-000_B7XU3U2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5381016/original/018832800_1760444417-AP25287418037906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4728012/original/006431800_1706361596-000_34GE37C.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8666203/original/007626600_1782698654-000_B8H28ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8633516/original/070380800_1782633001-photo-collage.png__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674531/original/079790200_1782716407-AP26177104053905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4572146/original/084941000_1694499511-Ilustrasi_anjing_dan_kucing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6396526/original/098204900_1779271349-20150623153111-mengintip-sekolah-anjing-di-china-010-nfi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271648/original/098569700_1603099779-cute-3284412_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2831360/original/050618900_1560852925-puppy-1903313_1920.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4555794/original/092576900_1693299198-puppy-1207816_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3919039/original/063405900_1643535250-023075600_1532022456-IMG_20180719_224813.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/724357/original/tewas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6372452/original/044639900_1779247602-WhatsApp_Image_2026-05-20_at_10.09.45.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2748581/original/016857400_1552342962-penatagon.jpg)