BBLR dan Penyakit Kuning, Masalah Kesehatan Terbanyak pada Bayi Baru Lahir Berdasarkan CKG

Pada bayi baru lahir, masalah kesehatan terbanyak yang ditemukan dalam CKG adalah ikterus dan BBLR, bagaimana dengan kelompok usia lain?

Diterbitkan 07 November 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Berat badan lahir rendah (BBLR) dan ikterus atau bayi kuning adalah masalah kesehatan terbanyak yang ditemukan pada bayi baru lahir selama pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

"Pada usia bayi baru lahir, itu ke bilirubin tinggi atau bayi kelihatan kuning. Itu yang paling menonjol. Lalu, kedua, (ditemukan) bayi berat badan lahir rendah," kata Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono, saat meninjau pelaksanaan CKG di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, Jakarta Selatan, Kamis, 6 November 2025.

Sementara itu, hasil CKG pada usia pra-sekolah, masalah kesehatan yang banyak ditemukan adalah gizi kurang dan karies gigi, sedangkan anak usia sekolah cenderung kekurangan aktivitas fisik.

Untuk usia dewasa, prevalensi obesitas mencapai 30 persen disertai rendahnya aktivitas fisik. Adapun pada kelompok lanjut usia (lansia), paling banyak ditemukan hipertensi (37 persen), gangguan mobilisasi, dan penurunan kebugaran.

Hingga awal November, sebanyak 51 juta masyarakat telah mendapatkan layanan CKG. Ini dinilai melampaui target nasional 50 juta peserta yang ditetapkan hingga akhir tahun.

“Alhamdulillah, hingga saat ini peserta yang terdaftar dalam program Cek Kesehatan Gratis telah mencapai 54 juta jiwa, dan yang sudah dilayani sebanyak 51 juta jiwa. Padahal target awal kami sampai Desember hanya 50 juta. Ini bukti bahwa kolaborasi pemerintah, instansi, dan masyarakat berjalan dengan sangat baik,” ujar Dante.

 

Hasil Periksa Tak Berhenti di Pendataan Semata

Dante menegaskan, program CKG merupakan wujud komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan, memperoleh akses layanan kesehatan yang merata dan berkualitas.

Dia menambahkan, hasil pemeriksaan tidak berhenti pada pendataan semata, melainkan ditindaklanjuti dengan pengobatan dan edukasi kesehatan.

“Mereka yang terdeteksi hipertensi, diabetes, penyakit paru, atau gigi langsung mendapat pengobatan dan edukasi. Data ini juga menjadi dasar kami dalam menyusun program promosi kesehatan, seperti cara menyikat gigi yang benar, menjaga kebugaran, dan mencegah obesitas,” jelasnya.

 

Banyak Penyakit Ditemukan Sebelum Gejala Muncul

Dante menambahkan, CKG menjadi hal penting lantaran bisa menemukan penyakit sebelum gejala muncul.

“Cek Kesehatan Gratis ini penting karena banyak penyakit ditemukan sebelum gejala muncul. Misalnya, hipertensi yang tidak terdeteksi dapat berujung pada stroke atau gagal ginjal. Jika dideteksi lebih awal, pengobatan lebih efektif dan biaya jauh lebih rendah,” tegasnya.

Ke depan, Kemenkes akan memperluas cakupan program melalui kerja sama lintas sektor, termasuk pelibatan komunitas pekerja, organisasi masyarakat, dan panti sosial. Untuk mendukung hal itu, kapasitas sistem data nasional juga ditingkatkan dari 3 miliar menjadi 9 triliun rekaman, agar seluruh hasil pemeriksaan dapat tercatat dan dimanfaatkan secara optimal.

 

Pemerataan Akses Layanan Kesehatan bagi Warga Tanpa NIK

Dante juga menekankan pentingnya pemerataan akses layanan kesehatan, termasuk bagi masyarakat yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Kesehatan adalah hak semua warga negara. Dalam kondisi gawat darurat, siapapun harus tetap mendapatkan pertolongan medis,” ujarnya.

Menutup kunjungan, Dante mengajak masyarakat yang belum mengikuti program ini untuk segera memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis di fasilitas kesehatan terdekat.