Mikroplastik Mengintai Setiap Hari, Cegah dengan 3 Langkah Mudah Ini

Kenali bahaya mikroplastik dan terapkan 3 langkah mudah sehari-hari untuk melindungi kesehatan tubuh kamu.

Diterbitkan 27 Oktober 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengurangi paparan mikroplastik dapat dilakukan mulai dari langkah sederhana. Membawa botol minum, mengurangi penggunaan kantong plastik, dan memilih wadah non-plastik dapat menjadi titik awal perubahan.

"Upaya kecil ini berkontribusi besar dalam menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan," kata Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Annisa Utami Rauf, S.Pd.

Annisa juga menyoroti pentingnya tanggung jawab industri dalam pengelolaan limbah plastik. Produsen besar dinilai memiliki peran strategis untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan pengurangan sampah dari hulu hingga hilir. "Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya program taking back trash (mengambil kembali sampahnya). Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir," ujarnya.

Annisa menilai bahwa konsep reduce (mengurangi) dan reuse (menggunakan kembali) masih menjadi strategi paling efektif dalam mengurangi potensi akumulasi mikroplastik di alam.

Beberapa negara telah memulai langkah konkret dengan memberikan insentif bagi masyarakat yang mengembalikan produk lama atau mendaur ulang limbah plastik.

Menurutnya, pola semacam itu dapat diterapkan di Indonesia dengan menyesuaikan konteks sosial dan budaya masyarakat. "Program pengurangan sampah bisa dilakukan lewat kolaborasi industri dan masyarakat. Intinya, sampah harus dikurangi dari sumbernya," ujarnya.

 

Bangun Kesadaran Kolektif

Keberadaan mikroplastik yang kini ditemukan di atmosfer, bahkan pada air hujan dan awan, memperlihatkan bahwa siklus plastik telah menjangkau seluruh lapisan lingkungan.

Riset di Jepang menunjukkan partikel mikroplastik ditemukan di awan, menandakan bahwa polusi ini telah bersifat global. "Mikroplastik sudah menyebar di berbagai media lingkungan, termasuk udara dan awan. Kalau kita tidak menghentikan sumbernya, dampaknya bisa semakin luas," kata Annisa.

Annisa menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif mulai dari individu hingga pembuat kebijakan. Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik.

Pendidikan sejak dini juga penting untuk membentuk perilaku ramah lingkungan. "Kesadaran harus dibangun dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kalau sejak anak-anak sudah dibiasakan membawa botol minum sendiri, kita bisa berharap generasi berikutnya lebih peka terhadap isu plastik," ujarnya.

 

Ancaman Kesehatan Manusia dan Hewan

Sebelumnya, Annisa menyampaikan, mikroplastik yang mencemari udara dan air menjadi ancaman bagi kesehatan hewan dan manusia. Bahkan, pada studi hewan, partikel ini berpotensi memicu gangguan reproduksi.

"Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia sangat besar. Pada studi hewan, partikel ini sudah ditemukan di beberapa organ dan berpotensi menyebabkan gangguan reproduksi," kata Annisa mengutip ugm.ac.id.

Sejumlah penelitian global juga telah menemukan keberadaan mikroplastik dalam darah dan organ manusia, termasuk sistem pencernaan. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa partikel plastik mampu masuk dan menetap di tubuh dalam jangka waktu lama.

Meski begitu, Annisa menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai dampak spesifik terhadap kesehatan manusia masih terus dikembangkan. "Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya akumulasi dalam tubuh manusia, tetapi efek pastinya belum jelas karena penelitian masih berlangsung," ujarnya.

Dia, menambahkan, perbedaan respons tubuh terhadap paparan mikroplastik membuat penelitian di bidang ini semakin kompleks. Setiap individu bisa memiliki kemampuan berbeda dalam melepaskan atau menahan partikel mikroplastik yang masuk ke tubuh.

Karena itu, langkah pencegahan menjadi hal yang paling masuk akal dilakukan saat ini. "Kita belum tahu pasti seperti apa efeknya, tapi yang jelas upaya preventif harus dijalankan sedini mungkin," kata Annisa.