Jadi Bahasan Xi Jinping dan Putin, Mungkinkah Manusia Bisa Hidup hingga 150 Tahun?

Xi Jinping Para peneliti sepakat manusia berpotensi hidup lebih lama berkat teknologi medis dan gaya hidup sehat.

Diterbitkan 04 September 2025, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Presiden China Xi Jinping tanpa sengaja terekam mikrofon bericara tentang kemungkinan manusia hidup hingga 150 tahun. Hal itu Xi Jinping obrolkan saaat bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Rabu, 3 September 2025.

“Beberapa telah meramalkan bahwa pada akhir abad ini, manusia berpotensi hidup hingga 150 tahun,” kata Xi Jinping pada saat itu dikutip dari NBC News.

Secara sains mungkinkah manusia hidup hingga 150 tahun?

Kemajuan ilmu kedokteran, termasuk vaksin, antibiotik, hingga teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan telah memperpanjang harapan hidup manusia. Di Indonesia angka harapan hidup menjadi 72,39 tahun pada tahun 2024 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS).

Para ilmuwan percaya penelitian terbaru soal terapi anti-penuaan, pengobatan presisi, serta pola hidup disiplin dapat mendorong umur manusia lebih panjang.

Healthy longevity medicine bukan lagi fiksi ilmiah. Kita mengerti mengapa manusia menua dan bagaimana cara intervensinya,” kata profesor kedokteran dan penuaan fungsional di National University of Singapore, Dr. Andrea Maier mengutip Fortune Well.

Selain itu, muncul pula gelombang biohacker dan klinik longevity yang menjanjikan tubuh tetap bugar hingga usia 120 tahun lebih. Peneliti penuaan di UC Berkeley, Alina Su, menyebut bahwa hidup lebih sehat 100 tahun bukanlah mimpi semata.

“Dengan pesatnya inovasi dalam penelitian anti-penuaan, kami melihat terapi baru, pengeditan gen, obat yang dipersonalisasi, dan hal-hal lain yang akan mendorong batas atas umur manusia,” ujarnya.

Namun, pakar genetika Nir Barzilai menegaskan usia maksimal manusia saat ini masih berkisar 115 tahun, dengan rekor dunia 122 tahun. Menurutnya, penuaan adalah akar penyakit-penyakit usia. 

Layanan Kesehatan yang Serba Modern

Saat ini, klinik longevity dan layanan kesehatan personal berbasis data hanya bisa diakses kalangan tertentu dengan biaya tinggi.

Dr. Matthew Pywell dari Apex Medical Academy menegaskan tantangan utamanya adalah bagaimana membawa inovasi kesehatan ini ke dalam sistem publik.

“Kita harus mengedukasi dokter, tenaga kesehatan, dan masyarakat agar pendekatan baru ini bisa mengubah jumlah tenaga kesehatan jadi lebih banyak,” kata Maier.

Para peneliti berharap transformasi ini bisa membuat mimpi hidup panjang usia tidak hanya milik segelintir orang kaya.

Fokus Hidup Sehat, Bukan Panjang Umur

Para peneliti menekankan pentingnya health span, yakni masa hidup sehat bukan hanya memperpanjang umur.

“Pertanyaannya, apakah orang bisa hidup sampai 100 tahun dalam kondisi sehat, atau justru 20 persen terakhir hidup dengan penurunan fungsi signifikan?” ujar dokter penyakit dalam sekaligus wakil presiden Healthy Longevity Medicine Society, Dr. Evelyne Bischof.

Tantangan terbesar ke depan adalah mempersempit jarak antara usia biologis dan kesehatan optimal, sambil memastikan akses teknologi ini tidak hanya untuk kalangan elit.

Gaya Hidup Jadi Kunci Utama Panjang Umur

Meski teknologi anti-penuaan berkembang pesat, para ahli menegaskan bahwa gaya hidup sehat tetap menjadi faktor utama. Olahraga rutin, pola makan seimbang, manajemen stres, dan tidur cukup adalah pondasi untuk memperpanjang usia harapan hidup.

“Hidup sehat di atas 100 tahun bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, sambil memantau perkembangan riset terbaru,” ujar Barzilai.

Para pakar menyebut masa depan panjang umur akan menjadi kombinasi gaya hidup disiplin dengan inovasi medis yang makin canggih.