Khasiat Lendir Abalon, Peneliti Sebut Berpotensi Jadi Bahan Obat dan Kosmetik Anti Aging

Peneliti sebut lendir abalon punya potensi besar, bisa dijadikan bahan obat dan kosmetik.

Diterbitkan 05 September 2025, 10:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Abalon (Haliotis spp.) memiliki potensi untuk dijadikan bahan obat inovatif dan produk kosmetik.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Eny Djoko Setyono, meninjau manfaat isi perut hingga lendir hewan laut itu.

“Isi perut abalon mengandung enzim bermanfaat, dan lendirnya memiliki sifat anti-peradangan serta anti-pembengkakan. Sehingga, membuka peluang pengembangan obat-obatan inovatif dan produk kosmetik anti-aging (anti penuaan wajah),” Djoko mengutip laman BRIN, Kamis (4/9/2025).

Dilihat dari kandungan gizinya, abalon kaya omega 3 dan 6 yang baik untuk jantung, serta mineral lengkap seperti kalsium, fosfor, dan zat besi yang mendukung kekuatan tulang. Selain itu, kandungan lemak abalon sangat rendah, hanya 0,1 gram dan hampir tanpa kolesterol.

“Daging abalon mengandung vitamin A, B12, dan E, yang dapat mendukung kesehatan mata, saraf, dan kulit. Vitamin E yang tinggi berkontribusi pada kesehatan kulit dan perlindungan terhadap radikal bebas. Sementara seng meningkatkan antibodi tubuh,” ungkap Djoko.

Karena itu, abalon bernilai aset strategis untuk sektor pangan, kesehatan, dan industri kreatif karena bernilai ekonomi tinggi dan kandungan gizi luar biasa, tambahnya.

 

Sumber Protein Tinggi

Maka dari itu, Djoko menilai bahwa abalon adalah sumber protein tinggi yang baik untuk kesehatan.

“Dalam 100 gram daging abalon terkandung sekitar 20 gram protein, menjadikan abalon sumber protein tinggi yang baik untuk kesehatan,” kata Djoko.

Di Indonesia, lanjut Djoko, ada tujuh spesies abalon yang tersebar. Empat di antaranya ditemukan di wilayah laut Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yaitu:

  • Haliotis asinina
  • Haliotis squamata
  • Haliotis varia
  • Haliotis ovina.

“Garis pantai yang panjang menawarkan ekologi yang bagus dalam mendukung pertumbuhan abalon,” kata Djoko.

 

Tantangan Budi Daya Abalon di Gunungkidul

Sayangnya, meskipun potensial, budi daya abalon di Gunungkidul menghadapi tantangan signifikan. Gelombang laut yang cukup tinggi khas pesisir selatan Pulau Jawa menyulitkan pencarian lokasi budi daya yang aman.

“Saat ini, nelayan hanya bisa menangkap abalon saat air laut surut panjang, yaitu saat purnama dan bulan gelap. Sehingga, pasokan abalon sebagai bahan kuliner di Gunungkidul tidak konsisten,” jelasnya.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Djoko mengusulkan solusi berbasis keberlanjutan.

“Kita perlu menebarkan benih sebanyak mungkin melalui restocking. Lalu, mengatur regulasi agar nelayan hanya menangkap abalon yang ukuran panjang cangkangnya lebih dari 5 sentimeter. Karena pada ukuran tersebut, abalon sudah bertelur dan berkontribusi terhadap proses regenerasi populasi di alam,” tegasnya.

Melalui budi daya terkontrol, restocking benih, dan regulasi penangkapan, Djoko berharap abalon mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sekaligus, melestarikan ekosistem laut Gunungkidul.