Pakar: Batuk Lebih dari 1 Bulan Bisa Jadi Tanda Kanker Paru

Batuk lebih dari 1 bulan jangan dianggap sepele. Menurut dr. Akhil Chopra, kondisi ini bisa jadi tanda kanker paru yang perlu segera diperiksa untuk deteksi dini dan penanganan tepat.

Diperbarui 31 Agustus 2025, 11:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Batuk yang tidak kunjung sembuh sering dianggap sepele. Padahal, bisa menjadi gejala awal kanker paru. OncoCare Cancer Centre menekankan pentingnya mengenali tanda bahaya batuk serta memanfaatkan kemajuan terapi modern yang kini mampu meningkatkan harapan hidup pasien.

Di Indonesia, kanker paru-paru merupakan kanker ketiga terbanyak dan penyebab utama kematian akibat kanker pada pria. Data Globocan 2022 mencatat sekitar 70 persen kasus kanker paru di Indonesia baru terdiagnosis pada stadium lanjut (Roche Asia Pacific Lung Cancer Case Study 2023).

Kebiasaan merokok menjadi faktor risiko terbesar, dengan 65,5 persen pria dewasa Indonesia menggunakan tembakau.

Apakah kanker paru bisa tanpa gejala? Menurut Spesialis Kanker OncoCare Singapura, dr. Akhil Chopra, kanker paru bisa tumbuh cukup lama tanpa gejala. Lokasi tumor di paru sangat menentukan. 

Jika tumbuh di bagian tengah, gejala biasanya berupa batuk terus-menerus. Namun, jika berada di bagian luar, kanker sering tidak terdeteksi hingga menyebar luas.

"Kanker paru-paru biasanya tidak bergejala. Itu sebabnya banyak pasien baru datang ketika penyakit sudah stadium lanjut," ujar dr. Chopra saat berbincang dengan Health Liputan6.com dalam sebuah kesempatan.

Batuk yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua batuk ringan. Dr. Chopra menegaskan bahwa batuk akibat infeksi biasanya membaik dalam tiga s.d empat minggu. Namun, bila batuk berlangsung lebih lama, perlu segera diperiksa.

"Batuk lebih dari satu bulan bisa jadi tanda kanker paru. Bila tidak kunjung membaik, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter, minimal dengan rontgen dada," ujarnya.

Ada beberapa tanda batuk yang harus diwaspadai:

  • Batuk berdarah.
  • Batuk disertai suara serak akibat kanker menyerang pita suara.
  • Batuk dengan gejala lain seperti sesak napas, nyeri, penurunan berat badan, atau kelelahan.

"Batuk karena infeksi biasanya hanya mengganggu. Tetapi batuk akibat kanker paru sering disertai gejala tambahan seperti lemas, sesak, dan berat badan turun," tambahnya.

Kanker Paru-paru Disebabkan oleh Apa Selain Merokok?

Meski rokok merupakan penyebab utama, kanker paru juga menyerang orang yang tidak pernah merokok. "Di Asia, kami sering menemukan pasien non-perokok. Faktor genetik, riwayat keluarga, dan terutama polusi udara berperan besar. Di Indonesia dan India, polusi kini menjadi penyebab nomor dua kanker paru setelah rokok," kata dr. Chopra.

OncoCare kerap menerima pasien asal Indonesia. Salah satunya adalah pria berumur akhir 50-an yang terdeteksi kanker paru stadium awal melalui pemeriksaan pencitraan di Tanah Air. Pasien kemudian dirujuk ke OncoCare Singapura untuk evaluasi lebih lanjut.

Tes mendeteksi adanya mutasi genetik yang bisa diatasi dengan terapi obat tertarget. Hanya dalam dua minggu, pasien memulai pengobatan tanpa perlu menjalani kemoterapi, dan dapat kembali beraktivitas normal tak lama kemudian.

"Kanker paru yang terdeteksi sejak dini memberikan peluang kesembuhan yang jauh lebih baik. Terapi tertarget kini bisa mengobati mutasi genetik tertentu, memberikan harapan baru bagi pasien," ujar dr. Chopra.

Kemajuan Terapi Kanker Paru

Perkembangan pengobatan membuat kanker paru kini tidak lagi identik dengan vonis singkat. Selain kemoterapi, tersedia terapi generasi baru yang lebih efektif.

"Setengah dari kasus kanker paru di Asia memiliki mutasi gen yang bisa diobati dengan obat-obatan khusus. Kami sudah punya obat generasi kedua dan ketiga. Imunoterapi juga semakin maju, bahkan sudah tersedia di Indonesia," kata dr. Chopra.

Teknik operasi robotik dan teknologi proton radiation juga memungkinkan pengobatan yang lebih aman dan minim efek samping. "Bagi pasien lanjut usia yang tidak memungkinkan operasi besar, radiasi modern ini bisa jadi pilihan," tambahnya.

Dulu, pasien kanker paru stadium 4 hanya bertahan kurang dari setahun. Kini, dengan terapi modern, pasien dengan mutasi tertentu bisa bertahan 4–5 tahun, bahkan lebih dari 10 tahun pada kasus tertentu.

Banyak pasien Indonesia mencari perawatan ke luar negeri, termasuk ke OncoCare Singapura dan Malaysia. Dukungan yang diberikan antara lain:

  • Tim multidisiplin berisi onkolog, ahli bedah toraks, radiolog, dan tenaga medis terintegrasi.
  • Rencana terapi personal berdasarkan jenis kanker, profil genetik, dan gaya hidup pasien.
  • Akses ke terapi modern seperti terapi tertarget, imunoterapi, hingga uji klinis.
  • Layanan pasien internasional dengan staf berbahasa Indonesia dan bantuan concierge.

Pesan penting yang ditekankan dr. Chopra: jangan anggap sepele batuk yang tak kunjung sembuh.

"Tidak semua batuk itu ringan. Bila batuk berlangsung lama, terutama pada mereka yang punya riwayat merokok atau terpapar polusi, pemeriksaan harus segera dilakukan," pungkasnya.

Deteksi dini sangat menentukan. Semakin cepat kanker paru ditemukan, semakin besar peluang pasien menjalani pengobatan efektif dengan kualitas hidup yang baik.

Â