5 Tahapan Manusia Dalam Menghadapi Kehilangan, Dari Penolakan hingga Penerimaan

Kehilangan adalah pengalaman yang paling berat dalam hidup. Namun, memahami proses berduka bisa membantu kita melaluinya dengan lebih tenang.

Diterbitkan 29 Agustus 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menghadapi duka, tetapi para ahli menyebut ada lima tahap umum yang dialami usai kehilangan.

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang psikiater, Elisabeth Kübler-Ross dalam bukunya "On Death and Dying" dan hingga kini masih menjadi rujukan.

Dilansir dari Harvard Health, grief atau rasa duka tidak hanya muncul karena kematian orang terkasih. Kehilangan pekerjaan, putus hubungan, hingga perubahan hidup besar lainnya juga bisa memicu duka mendalam. 

Emosi yang muncul pun bisa bercampur aduk, dari penolakan, kemarahan, hingga akhirnya penerimaan. Meski lima tahap grief sering digambarkan berurutan, kenyataannya proses ini tidak linear.

Ada orang yang melompat dari satu fase ke fase lain, ada juga yang tidak mengalami semuanya. Namun, kerangka ini memberi gambaran bagaimana manusia berusaha bertahan menghadapi luka.

Dalam prosesnya, duka bukan sesuatu yang harus dipercepat atau ditekan. Sebaliknya, penting untuk memberi ruang pada emosi yang muncul sembari mencari dukungan dari orang terdekat maupun tenaga profesional bila dirasa perlu.

1. Denial

Tahap awal duka biasanya ditandai dengan penolakan terhadap kenyataan. Denial bukan berarti tidak mengerti, melainkan bentuk mekanisme pertahanan diri untuk meredam rasa sakit yang tiba-tiba datang.

Misalnya, menolak menerima berita kematian, menghindari pembicaraan soal kehilangan, atau meyakini kabar tersebut tidak benar.

Meskipun tampak seperti pelarian, tahap ini justru bisa membantu seseorang menyesuaikan diri secara perlahan dengan kenyataan yang menyakitkan. Seiring waktu, penolakan akan mereda dan memberi ruang pada tahap berikutnya.

2. Anger

Setelah menyadari kenyataan, rasa marah atau angker kerap muncul. Amarah ini bisa diarahkan pada diri sendiri, keluarga, tenaga medis, bahkan pada Tuhan atau orang yang sudah tiada. 

Misalnya menyalahkan dokter karena tidak bisa menyelamatkan, atau menyesali diri sendiri karena merasa kurang perhatian.

Menurut ahli, amarah adalah ekspresi normal dari duka. Meski bisa menyakitkan bagi orang sekitar, sebenarnya kemarahan hanyalah wujud dari rasa kehilangan yang mendalam. Penting untuk menyadari bahwa fase ini bagian alami dari proses berduka.

3. Bargaining

Pada tahap ini, muncul pikiran “seandainya” atau “kalau saja.” Banyak orang berusaha menegosiasikan situasi dengan diri sendiri maupun dengan Tuhan, berharap hasil yang berbeda. 

Misalnya, “Kalau saja aku lebih cepat membawanya ke dokter, dia pasti selamat.” Bargaining sering kali tidak rasional, namun muncul dari rasa tidak berdaya. 

Meski tidak mengubah kenyataan, fase ini menandakan seseorang sedang berusaha memahami dan mencari kontrol dalam situasi penuh ketidakpastian.

4. Depression

Kesedihan mendalam biasanya muncul setelah fase tawar-menawar. Rasa hampa, kehilangan minat pada aktivitas, gangguan tidur, hingga rasa bersalah adalah gejala yang umum. 

Dalam jangka pendek, ini merupakan respons alami terhadap duka. Namun, bila kesedihan berlarut lebih dari setahun dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, kondisi ini bisa berkembang menjadi prolonged grief disorder yang bersifat medis dan membutuhkan penanganan profesional. 

Dukungan keluarga, konseling, atau terapi sangat penting pada tahap ini.

5. Acceptance

Tahap terakhir adalah menerima kenyataan kehilangan. Ini bukan berarti rasa sedih hilang sepenuhnya, melainkan kemampuan untuk hidup berdampingan dengan duka. 

Pada fase ini, seseorang mulai fokus merayakan kehidupan orang yang telah tiada, menghargai kenangan, dan perlahan menyusun langkah baru ke depan.

Acceptance memberi ruang untuk berdamai dengan rasa kehilangan, meski tidak mudah. Penerimaan menjadi titik awal untuk menemukan harapan dan kekuatan kembali.