Langkah Nyata Menuju Eliminasi Malaria 2030: Apa yang Perlu Kita Tahu?

APLMA adalah aliansi yang dibentuk atas inisiatif sejumlah negara—terutama Australia—untuk menyatukan komitmen regional dalam mengakhiri malaria di kawasan Asia Pasifik.

Diterbitkan 16 Juni 2025, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meski kerap dianggap penyakit kuno, nyatanya malaria masih menjadi masalah kesehatan serius di banyak negara, termasuk di Kawasan Asia Pasifik. Saat ini, sekitar 1 miliar orang di wilayah ini masih berisiko terinfeksi malaria, terutama kelompok rentan di daerah-daerah tertentu.

Pekan ini, para pemimpin dan ahli kesehatan dari berbagai negara berkumpul di Nusa Dua, Bali, dalam acara 9th Asia Pacific Leaders’ Summit on Malaria Elimination. Pertemuan ini diadakan oleh Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA) bersama Kementerian Kesehatan RI. Salah satu tokoh yang hadir adalah Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan.

“Saya ingat, di tahun 2013 ketika saya masih menjabat di Kemenkes, aliansi APLMA ini pertama kali dibentuk. Tujuan utamanya adalah eliminasi malaria di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2030,” ungkap Prof. Tjandra dalam catatannya dari Bali, diterima Health pada Senin (16/6).

Apa itu APLMA?

APLMA adalah aliansi yang dibentuk atas inisiatif sejumlah negara—terutama Australia—untuk menyatukan komitmen regional dalam mengakhiri malaria di kawasan Asia Pasifik. Saat ini, ada 22 negara yang tergabung, termasuk Indonesia, India, Malaysia, Vietnam, Papua Nugini, dan lainnya.

Organisasi ini berfungsi sebagai wadah kolaborasi dalam diplomasi kesehatan, advokasi teknis, dan forum tingkat tinggi untuk memastikan komitmen politik tetap kuat dalam upaya eliminasi malaria.

Fokus APLMA terbagi dalam enam pilar utama:

  • Kepemimpinan
  • Keberlanjutan program
  • Penanganan lintas batas
  • Kemitraan yang luas
  • Penguatan data dan bukti ilmiah
  • Inklusi masyarakat

 

 

Jejaring Riset dan Komunitas

Di bawah APLMA, juga terdapat Asia Pacific Malaria Elimination Network (APMEN), sebuah jaringan kolaborasi antara negara, lembaga riset, program malaria nasional, dan organisasi masyarakat sipil. Tujuannya adalah memperkuat riset berbasis bukti lokal dan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengelola dan menanggulangi malaria.

APMEN berperan penting dalam menyediakan data lapangan, mengevaluasi efektivitas program di masing-masing negara, serta mendorong inovasi dalam penanganan malaria yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah setempat.

Mengapa Ini Penting?

Malaria bukan sekadar penyakit biasa. Di banyak negara, malaria masih menyebabkan kematian dan beban ekonomi yang besar. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Gejalanya bisa bervariasi, dari demam tinggi, menggigil, sakit kepala, hingga komplikasi berat seperti anemia dan gangguan organ.

 

Harapan dari Bali

Pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Bali ini menjadi penting karena menjadi momen “booster” untuk kembali memperkuat komitmen menuju Eliminasi Malaria 2030. Dalam situasi pascapandemi seperti sekarang, banyak negara mulai menata ulang prioritas kesehatannya. Malaria tidak boleh dilupakan.

“Semoga pertemuan ini menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa malaria masih ada, dan kita punya tanggung jawab bersama untuk mengakhirinya,” ujar Prof. Tjandra.