Varian COVID Nimbus: Ancaman Baru yang Menggeliat Tak Kenal Musim

Prof Tjandra sebut varian COVID Nimbus NB.1.8.1 lebih menular dan muncul di musim panas. WHO waspada, Indonesia perlu tingkatkan tes dan surveilans genomik.

Diperbarui 11 Juni 2025, 12:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Varian baru COVID 2025 kembali menjadi sorotan global. Dikenal sebagai Nimbus (NB.1.8.1), varian ini mulai menggantikan dominasi varian sebelumnya dan memicu peningkatan kasus COVID-19 di berbagai negara, termasuk Asia, Eropa, dan Amerika.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menetapkan NB.1.8.1 atau varian COVID Nimbus sebagai Variant Under Monitoring (VUM) karena laju penyebarannya yang signifikan. 

"Sejak pertengahan April 2025, sirkulasi varian LP.8.1 mulai menurun, digantikan oleh varian NB.1.8.1 yang kini menjadi perhatian global," ujar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Adjunct Professor di Griffith University,  Prof. Tjandra Yoga Aditama, saat dihubungi Health Liputan6.com pada Selasa, 10 Juni 2025.

Secara genomik, varian Nimbus berkaitan dengan varian sebelumnya XDV.1.5.1 dan JN.1. Varian ini mengalami mutasi pada bagian spike protein yang penting dalam proses penularan virus. Beberapa mutasi utama terjadi di titik T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I. 

 

Indonesia Perlu Waspada Varian COVID Nimbus NB.1.8.1

Menurut Prof. Tjandra, mutasi pada posisi 445 meningkatkan keterikatan virus dengan reseptor ACE2 manusia, sehingga membuatnya lebih mudah menular.

"Hal ini dapat menjelaskan mengapa kasus COVID-19 kembali meningkat di sejumlah negara," ujarnya. 

Selain itu, mutasi di posisi 435 dan 478 berkontribusi terhadap kemampuan virus menghindari sistem kekebalan tubuh. 

Mutasi 435 disebut menurunkan efektivitas antibodi, sementara mutasi 478 memungkinkan evasi antibodi, yang berpotensi mengurangi efektivitas perlindungan dari vaksin atau infeksi sebelumnya.

Per 18 Mei 2025, tercatat 518 sekuens varian Nimbus NB.1.8.1 telah dilaporkan ke database GISAID oleh 22 negara. 

Varian ini menyumbang 10,7 persen dari data global pada pekan epidemiologi ke-17 (21–27 April 2025), meningkat tajam dari 2,5 persen hanya empat minggu sebelumnya. 

"Peningkatan ini terjadi cukup merata di Asia, Eropa, dan Amerika. Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan melalui surveilans genomik yang lebih aktif," kata Prof. Tjandra. 

Dia merekomendasikan agar pemerintah menerapkan tes COVID-19 untuk semua kasus Severe Acute Respiratory Illness (SARI) yang dirawat di rumah sakit serta setidaknya 5 persen kasus Influenza-Like Illness (ILI).

"Semua hasil positif dari kasus SARI perlu dikirim untuk Whole Genome Sequencing (WGS) di laboratorium rujukan," tambahnya.

Gejala COVID Nimbus

Berdasarkan laporan World Health Network, ada empat karakteristik utama dari varian COVID Nimbus:

  1. Penularan lebih mudah dibanding varian sebelumnya
  2. Gejala khas berupa nyeri tenggorok yang sangat menyakitkan, digambarkan seperti disayat silet (razor-blade sore throat), lemas, batuk ringan, demam, dan nyeri otot
  3. Tingkat keparahan penyakit masih dalam pemantauan
  4. Munculnya varian ini di musim panas menandakan bahwa COVID-19 kini tak lagi musiman

Temuan ini penting untuk masyarakat yang mengira COVID-19 hanya mengancam saat cuaca dingin.

"Munculnya varian baru di musim panas menunjukkan virus ini bisa menyebar sepanjang tahun," ujar Prof. Tjandra.Â