TAMASYA, Langkah Baru Negara Hadir dalam Pengasuhan Anak Usia Dini

Diluncurkan secara perdana di pelataran Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, pada Kamis (15/5), program TAMASYA hadir sebagai wujud nyata dari dukungan negara dalam menciptakan sistem pengasuhan anak usia dini yang terintegrasi dan berkualitas—tanpa mengorbankan produktivitas orang tua.

Diterbitkan 16 Mei 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompleks, banyak orang tua—khususnya ibu—dipaksa berada dalam dilema: produktif di tempat kerja, atau hadir penuh untuk buah hati mereka di rumah. Menyadari tantangan tersebut, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menghadirkan sebuah terobosan bernama Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA).

Diluncurkan secara perdana di pelataran Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, pada Kamis (15/5), program ini hadir sebagai wujud nyata dari dukungan negara dalam menciptakan sistem pengasuhan anak usia dini yang terintegrasi dan berkualitas—tanpa mengorbankan produktivitas orang tua.

“Program ini bertujuan untuk mendukung orang tua bekerja sambil memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi dan perawatan yang baik. Selain itu, ada upaya untuk mengurangi risiko kekerasan terhadap anak dengan memastikan pengasuh memiliki sertifikasi dan pelatihan yang memadai,” ujar Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd.

Mulai Beroperasi Sejak 9 Mei 2025

Sebagai langkah awal, TAMASYA difokuskan bagi anak-anak dari para pegawai ASN maupun non-ASN Kemendukbangga/BKKBN. Dengan kapasitas 18 anak usia 0–5 tahun dan dikelola oleh empat pengasuh terlatih, program ini mulai beroperasi sejak 9 Mei 2025.

“Ini menjadi percontohan dari kementerian kita yang menyiapkan TAMASYA untuk anak-anak karyawan ASN maupun non ASN Kemendukbangga,” imbuh Menteri Wihaji.

Tak sekadar tempat penitipan anak, TAMASYA dirancang sebagai ruang pengasuhan yang mengintegrasikan layanan gizi, kesehatan, stimulasi mental-emosional, hingga pemantauan tumbuh kembang anak secara periodik oleh fasilitas kesehatan setempat.

“Selain itu, kegiatan pemantauan tumbuh kembang anak dilakukan oleh Puskesmas Kelurahan Kebonpala, termasuk pengukuran tinggi dan berat badan anak,” jelas Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, SE, MT.

 

Bukan Sekadar Tempat Penitipan Anak, tapi Ekosistem Pengasuhan Terintegrasi

Dalam lanskap program pemerintah, layanan pengasuhan anak sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, telah hadir Taman Asuh Ramah Anak (TARA) dari KemenPPPA, Taman Anak Sejahtera (TAS) dari Kemensos, dan Taman Penitipan Anak (TPA) dari Kemendikdasmen. Namun, tak satu pun dari program tersebut menawarkan sistem integrasi data maupun pendampingan pengasuhan berkelanjutan seperti yang dirancang dalam TAMASYA.

“TAMASYA merupakan bentuk komitmen dan kepedulian nyata Kemendukbangga/BKKBN dalam mendukung penguatan layanan pengasuhan anak usia dini yang berkualitas,” kata Deputi Nopian.

Program ini juga menawarkan empat layanan unggulan:

  • Peningkatan kompetensi pengasuh melalui pelatihan dan sertifikasi berkala,
  • Pemantauan tumbuh kembang anak secara periodik dan berbasis data,
  • Keterlibatan aktif orang tua dalam proses pengasuhan,
  • Layanan rujukan ke fasilitas kesehatan dan psikologi jika diperlukan.

 

Kolaborasi Enam Kementerian, untuk Generasi Emas Indonesia

Yang menjadikan TAMASYA berbeda bukan hanya pada sistemnya, tapi juga pada kekuatan kolaboratifnya. Program ini merupakan hasil kerja sama lintas kementerian yang dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) oleh enam kementerian: Kemendukbangga/BKKBN, KemenPPPA, Kemensos, Kemendikdasmen, Kemendagri, dan Kementerian Tenaga Kerja.

Peluncuran nasionalnya sendiri dijadwalkan berlangsung pada 27 Mei 2025 di Kutai Timur, Kalimantan Timur—sebuah sinyal bahwa program ini disiapkan untuk diimplementasikan secara luas.

“Kami berharap TAMASYA menjadi model bagi instansi lain dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung peran keluarga, serta memberikan manfaat besar bagi keluarga Indonesia dan membangun generasi bangsa yang sehat, cerdas, dan berkarakter,” ujar Menteri Wihaji.

 

Menuju Bonus Demografi yang Bernilai

 

Dengan hadirnya TAMASYA, pemerintah tampak serius menyiapkan generasi emas Indonesia, terutama di masa bonus demografi saat ini. Pengasuhan yang berkualitas di 1000 hari pertama kehidupan hingga usia enam tahun memang terbukti krusial dalam pembentukan fondasi kesehatan, kecerdasan, dan karakter anak.

TAMASYA tak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek para orang tua bekerja, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.

Jika berhasil diimplementasikan dengan konsisten dan meluas, bukan tidak mungkin TAMASYA akan menjadi salah satu legacy penting dalam transformasi ekosistem pengasuhan anak di Indonesia.