Sukses

Rachel Vennya Akui Sulit Jalani Co-Parenting, Apa Itu?

Liputan6.com, Jakarta - Pemengaruh, Rachel Vennya tuai kritikan dari warganet usai diketahui terbang ke Bali pada hari ulang tahun anak pertamanya, Xabiru, yang ke lima.

Wanita yang kerap disapa Buna ini mengungkapkan dirinya memilih menghadiri pernikahan sahabatnya yang disebut selalu menemani di masa-masa sulit.

Rachel berpesan pada mantan suaminya, Okin, agar tidak merayakan ulang tahun sang anak tanpa dirinya yang menyatakan akan pulang tanggal 13 Desember lalu, sehari sesudah ulang tahun Biru.

Merasa dikhianati karena Okin beri surprise duluan, ibu dua anak ini ungkap kekesalannya melalui akun media sosialnya, yang malah jadi bumerang untuknya.

Netizen mengkritik tindakannya yang memilih pergi, dan meminta untuk jangan "diduluin" beri kejutan padahal tahu bahwa waktu kepulangannya sudah lewat tanggal ulang tahun Biru.

Kendati demikian, Rachel dapat pulang tepat waktu untuk merayakan ulang tahun Xabiru

Rachel juga mengeluhkan sulitnya co-parenting melalui Instagram Story-nya:

"Co-parenting itu sulit, aku mencoba bijak, cuma mungkin kali ini aku sedih banget, banget, banget aja, birthdays always important to me, jadi ga mungkin aku lewatin birthday abang karena hal yang cuma cuma."

"Semoga ga ada lagi kayak gini, dan semoga juga aku juga bisa lebih bijak, kadang aku juga kalo lagi capek, stres, aku jadi buta dengan emosi, jadi aku minta maaf. Maaf ya."

Topik tentang co-parenting menghangat usai Rachel Vennya mengeluhkan sulitnya mengurus anak saat telah bercerai dengan suami.

2 dari 4 halaman

Apa Itu Co-Parenting?

Topik tentang co-parenting menghangat usai Rachel Vennya mengungkapkan tantangan mengurus anak saat telah bercerai dengan suami.

Perceraian memang bukan keputusan yang mudah. Apalagi jika Anda sudah memiliki anak. Maka dari itu ada orangtua yang memilih untuk agar tetap bisa hadir. Orangtua seperti ini harus memastikan anak mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya layaknya keluarga yang utuh lewat co-parenting.

Menurut terapis keluarga Chautè Thompson, LMHC, co-parenting adalah bentuk kolaborasi dalam membesarkan anak dengan orangtuanya yang lain dengan berfokus pada apa yang terbaik bagi anak.

Co-parenting membutuhkan fleksibilitas, kesabaran, keterbukaan, konsistensi dalam berkomunikasi, dan kemauan kedua orangtua untuk bernegosiasi dan berkompromi sebab tidak semua hal dapat dilakukan sesuai kehendak salah satu pihak.

Ini dapat menjadi tantangan tersendiri bila perpisahan tersebut berakhir buruk. Namun, bila hubungan kedua orangtua baik, co-parenting dapat memberikan berbagai manfaat.

"Co-parenting yang sehat terlihat berbeda bagi setiap keluarga. Meskipun demikian, gambaran hubungan co-parenting yang sehat yaitu selalu hadir dalam acara-acara besar, seperti acara olahraga, acara sekolah, pesta ulang tahun, dan lainnya," ujar terapis keluarga Jodie Commiato, LMFT kepada Mind Body Green.

"Menemukan cara untuk terus berpartisipasi terlepas dari masa lalu adalah kunci untuk membangun hubungan co-parenting yang sehat dan kolaboratif."

3 dari 4 halaman

Cara untuk Co-Parenting secara Efektif

1. Fokus pada Anak

Menurut Commiato, hal pertama yang perlu diingat ketika co-parenting adalah bahwa kebutuhan anak adalah yang utama.

"Terlepas dari seberapa besar Anda menyukai atau membenci mantan, Anda harus selaras terkait anak. Ini termasuk hal-hal baik (perayaan, pesta, liburan, dan lainnya), dan hal-hal yang lebih menantang seperti tindakan, konsekuensi, dan tangguang jawab," tambahnya.

Thomson menandaskan bahwa ini merupakan tips nomor 1 untuk co-parenting yang efektif.

2. Prioritaskan Komunikasi Langsung

Komunikasi yang rutin dan konsisten dengan partner co-parenting Anda merupakan kunci kesuksesan co-parenting. Ingatkan diri sendiri bahwa kenyamanan dan kebahagiaan anak merupakan prioritas dapat membantu Anda tetap fokus dalam berkomunikasi dengan co-parent.

Thomson dan Commiato merekomendasikan tips di bawah ini untuk mempertahankan komunikasi produktif:

-Jangan berkirim pesan melalui anak. Sebaliknya, komunikasikan langsung dengan pasangan.

-Jangan tenggelam dalam kenangan masa lalu.

-Jangan libatkan anak dalam percakapan orang dewasa.

-Ketika berkomunikasi, tetap berpegang pada fakta dan kebutuhan.

4 dari 4 halaman

3. Kontrol Emosi

Karakteristik co-parenting yang sukses ialah ketika orangtua dapat mengesampingkan emosi dan perasaannya masing-masing dan fokus pada perkembangan, kenyamanan, dan perawatan anak.

Untuk itu, Thomson dan Commiato menyatakan langkah-langkah di bawah ini untuk mengontrol emosi Anda:

-Kesampingkan perasaan. Ketika berkomunikasi dengan co-parent, bersikaplah profesional.

-Ingat bahwa anak dapat merasakan energi yang dikeluarkan orangtuanya. Jika orangtua tegang, dan sering berargumen, emosi tersebut dapat memengaruhi anak secara negatif.

-Jangan berbicara hal buruk soal pasangan di depan anak.

4. Atur Ekspektasi

Thomson dan Commiato memberikan beberapa tips untuk membantu:

-Dorong anak agar memiliki hubungan sehat dengan co-parent Anda. Penting agar anak tidak merasa mengkhianati perasaan Anda dengan menjadi dekat dengan orangtuanya yang lain.

-Patikan apa yang diharapkan dari co-parenting jelas.

-Ketahui hal-hal yang dapat dan tidak dapat Anda kontrol.

-Ingat bahwa anak belajar dengan melihat bagaimana Anda dan co-parent mengontrol emosi dan meminimalkan konflik.

 

(Adelina Wahyu Martanti)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.