Sukses

Anak di Bawah 6 Tahun Belum Bisa Vaksinasi COVID-19, Bagaimana Cara agar Aman dari Corona?

Liputan6.com, Jakarta Vaksinasi COVID-19 menjadi salah satu upaya penting dalam mencegah penularan dan penyakit gejala berat. Namun, hingga saat ini vaksin yang tersedia belum bisa diberikan kepada anak di bawah 6 tahun.

Hal ini disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 Reisa Broto Asmoro dalam Siaran Sehat, Senin 14 November 2022.

“Sayangnya, sampai sekarang vaksinasi COVID-19 yang tersedia untuk 6 tahun ke atas,” kata Reisa.

Tak bisa vaksinasi bukan berarti orangtua tidak dapat melindungi anak dari paparan COVID-19. Menurut Reisa, cara yang tepat untuk melindungi anak dari penularan COVID-19 adalah dengan memastikan bahwa orangtua dan keluarga sudah mendapatkan vaksinasi secara lengkap hingga booster.

“Jadi kita lindungi anak-anak di bawah usia 6 tahun ini dengan vaksinasi termasuk booster dari anggota keluarga dan semua orang yang berinteraksi dengan anak. Inilah yang kita sebut kekebalan komunitas, jadi komunitas melindungi anak yang belum mendapat akses vaksin tadi.”

Reisa juga mengimbau orangtua agar tak lupa memerhatikan vaksinasi atau imunisasi lain yang dibutuhkan anak.

“Jangan lupa, selain memerhatikan vaksin COVID-19 juga harus memerhatikan vaksinasi atau imunisasi anak yang lainnya juga. Supaya nanti anak ini juga tidak berisiko penyakit berat yang lainnya.”

“Jadi tetap harus dilakukan imunisasi lengkap terutama imunisasi dasar rutinnya dan keluarga yang lainnya harus segera booster,” ujar Reisa.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pentingnya Booster

Vaksinasi terbukti dapat melindungi tubuh dari risiko perburukan gejala COVID-19 dan kematian.

“Namun ingat, seiring berjalannya waktu antibodi kita itu akan turun sehingga antibodi ini membutuhkan booster agar jumlahnya meningkat kembali dan kita memiliki perlindungan yang optimal kembali.”

Vaksinasi penting terutama bagi populasi yang lebih berisiko seperti lanjut usia (lansia), komorbid, ibu hamil, anak-anak, dan orang-orang dengan imunodefisiensi.

Berdasarkan riset dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sebanyak 1.373 pasien COVID-19 yang meninggal dunia pada 4 Oktober hingga 8 November 2022 ternyata 84 persennya belum mendapat booster.

“Sementara, dari 10.639 pasien COVID-19 dengan gejala sedang, berat, hingga kritis dari tanggal 4 Oktober sampai 8 November 2022, 74 persen di antaranya belum booster.”

“Nah tentu kalau lihat data ini kita semakin sadar pentingnya perlindungan diri dan melakukan vaksinasi booster, tentunya dilengkapi dengan protokol kesehatan ya.”

3 dari 4 halaman

Peningkatan XBB

Sebelumnya, Reisa juga membahas soal subvarian baru yang disebut XBB. Hadirnya XBB disinyalir menjadi penyebab lonjakan kasus yang terjadi akhir-akhir ini.

“Kalau adanya kenaikan kasus yang terjadi di berbagai negara ini memang berkaitan dengan XBB, jadi disinyalir tren kenaikan kasus yang terjadi di Indonesia juga berkaitan dengan varian XBB yang sudah ditemukan di sini,” kara Reisa.

Tentunya, lanjut Reisa, ini harus menjadi pengingat bagi masyarakat. Pasalnya, dewasa ini aktivitas warga sudah berjalan seperti biasa atau berangsur-angsur normal.

“Kegiatan masyarakat sudah seperti sebelum ada pandemi, perlu diingat bahwa pandemi masih ada. WHO belum mencabut statusnya, ditambah sekarang XBB sudah ditemukan di 28 negara sampai sekarang.”

“Jadi, ketika kita beraktivitas di luar rumah, tentunya kita belajar dari negara lain juga yang sudah banyak ditemukan kasus ini. Harus tetap waspada, harus tetap membekali diri dengan protokol kesehatan dan lengkapi vaksinasi kita.”

Belajar dari pengalaman dua tahun menghadapi pandemi, protokol kesehatan tidak hanya bermanfaat untuk mencegah COVID-19 tapi juga penyakit-penyakit lain.

“Jadi enggak ada salahnya untuk membekali diri dengan mengencangkan protokol kesehatan yang selama ini telah kita lakukan,” ujar Reisa.

4 dari 4 halaman

Upaya Hadang XBB

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi, XBB adalah anak dari varian Omicron yang memang memiliki kemampuan penularan tinggi.

Ia pun menjelaskan upaya-upaya dalam menyikapi penyebaran XBB ini. Dengan adanya subvarian ini maka testing, tracing, dan treatment (3T) serta vaksinasi masih penting dilakukan.

“Nah untuk mengantisipasi lonjakan kasus, pemerintah terus menguatkan upaya-upaya dari hulu ke hilir,” kata Nadia dalam Siaran Sehat bersama Radio Kesehatan pada Senin (7/11/2022).

Upaya dari hulu yakni protokol kesehatan salah satunya penggunaan masker yang saat ini terlihat mulai longgar. Tak lupa pula hindari kerumunan yang padat dan lakukan tes.

Sementara itu, upaya hilir yang dimaksud Nadia adalah menyiapkan rumah sakit serta obat untuk pasien COVID-19

“Tapi di hilir kami juga siapkan rumah sakit, pengobatan, dan tentunya fasilitas yang dibutuhkan. Jangan lupa segera vaksinasi terutama untuk booster ketiga karena itu jadi pelindung kita,” ujar Nadia.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS