Sukses

Ucapan Duka Tragedi Kanjuruhan dari Politisi Tuai Kritik, Warganet Sebut Tak Usah Pakai Foto

Liputan6.com, Jakarta Tragedi Kanjuruhan menimbulkan duka mendalam dari publik dalam dan luar negeri. Beberapa hari berlalu usai kejadian, ucapan duka cita masih mengalir deras termasuk dari para politis. Salah satunya diucapkan oleh Pimpinan DPRD dan Fraksi Provinsi Jawa Timur.

Poster dukacita dari para politisi dihujani dengan kritik dari berbagai pihak. Hal ini lantaran banyak yang berpendapat bahwa foto yang digunakan untuk mengucapkan duka cita tidaklah relevan.

Dalam poster dengan latar hitam, para anggota DPRD Jawa Timur nampak tersenyum. Foto-foto para anggota DPRD Jawa Timur berjejer dan dimuat dalam sebuah koran. Bahkan tak sedikit yang ikut mengira bahwa orang-orang yang berada dalam foto tersebut adalah korban dari Tragedi Kanjuruhan.

Ada warganet yang menganggap ucapan tersebut tidak ada empati. Malah seperti sedang melakukan kampanye.

"Pas liat ini pertama kali, asli aku kira juga orang2 di foto ini ikutan jd korban krn nonton di stadiun. Baru tau kalo ini cuma ucapan bela sungkawa dr reply tweet orang. Bener2 mati empatinya, ada foto yg cengar cengir lagi," tulis akun @ho***ss.

Beberapa warganet juga menyampaikan alangkah lebih baik bila mengucapkan duka tidak memakai foto. Hal itu dirasa lebih menghargai korban.

"Kalau kek gini sama aja kek kampanye dengan kesempatan dalam kesempitan," cuit pemilik akun @panora***ndo***.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 4 halaman

Tujuan Ucapan Duka Cita: Empati atau Jaga Popularitas Diri?

Sejatinya, setiap orang atau kelompok memang akan memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan duka cita. Hal tersebut biasanya disesuaikan dengan empati, kenyamanan, dan kemampuan dari masing-masing pihak.

Berkaitan dengan hal tersebut staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indriani mengungkapkan bahwa menyampaikan duka cita bisa didasari oleh berbagai tujuan. 

"Ada yang memang didasari oleh empati, ada yang karena menjaga popularitas atau eksistensi diri, ada yang mencari simpati, ada juga yang karena mengikuti konformitas yang berlaku. Namun apa yang melandasi seseorang memberikan ucapan belasungkawa tidak bisa kita tebak begitu saja," ujar Efnie melalui keterangan pada Health Liputan6.com ditulis Kamis (6/10/2022).

"Motif yang melatarbelakangi tersebut sifatnya tersembunyi, dan dibutuhkan assessment khusus untuk mengetahuinya. Namun, jika ekspresi dari foto yang dipasang di poster dan lain-lain tidak selaras dengan ucapan duka cita, maka hal tersebut memang sebaiknya dikoreksi."

3 dari 4 halaman

Cara Bijak Ucapkan Duka Cita

Terlebih, media yang dipilih untuk menyampaikan duka cita bisa beragam. Menurut Efnie, caranya bisa dilakukan dengan menyampaikan secara langsung, melalui status atau unggahan di media sosial, menggunakan poster, spanduk, dan lain-lain.

"Tetapi hal yang harus diperhatikan adalah pemilihan kata dan foto haruslah selaras," kata Efnie.

Lebih lanjut Efnie menyarankan bahwa sebaiknya juga tidak menyebarluaskan lebih lanjut gambar-gambar yang bersifat tragis dan ekstrem. Hal tersebut dianggap dapat menjadi informasi yang tidak baik untuk anak-anak, remaja, maupun publik.

"Sebaiknya tidak menyebarluaskan lebih lanjut gambar-gambar yang bersifat tragis dan ekstrem. Namun, jika ingin menyampaikan kalimat duka cita dengan narasi yang santun sebenarnya tidak masalah," ujar Efnie.

 

4 dari 4 halaman

Senyum Saat Ucapkan Duka Cita

Sementara itu psikolog klinis, Ratih Ibrahim mengatakan kejujuran empati seorang politisi sulit untuk mengindentifikasinya.

"Namanya juga politisi, seberapa sincere empati mereka itu sulit mengidentifikasikannya," ujar Ratih melalui pesan teks pada Health Liputan6.com, Rabu 5 Oktober 2022.

Ratih mengungkapkan bahwa senyum sebenarnya cara berkomunikasi nonverbal. Sehingga perlu dicermati senyum seperti apa yang diberikan. Dari pandangan Ratih, senyum yang diberikan oleh anggota DPRD Jawa Timur adalah senyuman standar.

"Ini masih senyum saja kok. Kalau enggak senyum, mukanya malah jadi seram. Mungkin akan menambah potensi stres bagi yang melihat," kata Ratih.

"Kita berprasangka baik saja ya, yang bersangkutan menunjukkan empati, sikap ramah dan friendly," tambahnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.