Sukses

Saat Ayah Korban Perkosaan Sebut Nama Putrinya Jyoti Singh Pandey

Luka mendalam dirasakan keluarga korban perkosaan di India. Ayah korban, Badri Singh Pandey (53 tahun) dengan lantang tak ingin menutupi nama putri kesayangannya. Ia ingin dunia mengetahui nama asli putrinya.

Badri memberitahukannya kepada The Sunday People nama putrinya adalah Jyoti Singh Pandey. Ia berharap nama itu akan memberikan keberanian untuk perempuan lain yang selamat dari serangan yang serupa.

Selama ini, Joyti dikenal sebagai Putri India atau sering disebut Damini, menyusul perkosaan geng yang memuakkan dan berbuntut pembunuhan. Tapi, dengan izin ayahnya yang patah hati, nama Joyti pun diungkapkan.

"Kami ingin dunia tahu nama aslinya," tegas Badri seperti dikutip Mirror, Senin (7/1/2013).

"Putri saya tidak melakukan kesalahan, dia meninggal ketika melindungi dirinya sendiri," tambahnya.

"Saya bangga padanya. Mengungkap namanya akan memberikan keberanian untuk perempuan lain yang telah selamat dari serangan ini. Mereka akan menemukan kekuatan dari putri saya".

Badri dan keluarga diwawancarai di kampung halamannya di Billia di negara bagian India utara Uttar Pradesh. Badri dan keluarganya sengaja menjauhkan diri dari rumahnya di Delhi, tempat yang akan terus mengingatkan semuanya tentang serangan seksual yang dialami Joyti (23 tahun), ketika ia bersama temannya menumpangi sebuah bus.

Istri Badri, Asha (46 tahun), masih terlalu terguncang untuk berbicara.

"Pada awalnya, saya ingin melihat wajah pria yang tidak bertanggung jawab tapi saya tidak mau lagi. Saya hanya ingin mendengar pengadilan menghukum mereka dan mereka akan digantung," ujar Badri.

Badri menginginkan kematian untuk keenam pria bejat yang tega melakukan tindakan tidak manusiawi kepada putrinya.  "Orang-orang ini adalah binatang. Mereka harus dijadikan contoh dan masyarakat tidak akan membiarkan hal itu terjadi".

Badri berusaha mengingat kejadian nahas itu ketika putri satu-satunya mengalami cobaan berat. Pada 16 Desember 2012, Badri baru pulang ke rumah pada pukul 22.30 malam dari kerja shift di bandara sebagai loader. Badri dan istrinya khawatir karena Joyti, lulusan sekolah kedokteran, belum juga pulang dari bioskop.

"Kami mulai menelepon ponselnya dan ponsel temannya tapi tak ada yang menjawab," kenangnya.

"Kemudian pukul 23.15 kami mendapat telepon dari rumah sakit di Delhi yang mengabarkan kalau putri kami mengalami kecelakaan," katanya.

Mendapat telepon tersebut, Badri langsung meminta temannya mengantar dirinya dengan sepeda motor."Ketika saya pertama kali melihat dia (Joyti), dia terbaring di kasur dengan mata tertutup".

"Saya meletakkan tangan saya di dahinya dan memanggil namanya. Dia perlahan membuka matanya dan mulai menangis dan mengatakan kalau dia kesakitan".

"Saya menahan air mata saya. Saya katakan kepadanya jangan khawatir, kuatkanlah dan semuanya akan baik-baik saja".

Pada saat itu, Badri tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Seorang polisi kemudian menjelaskan kalau Joyti dan teman prianya Awindra Pandey (28 tahun) telah naik bus untuk pulang ke rumah tapi selama dua jam setengah, keduanya menumpangi perjalanan neraka dengan supir dengan asistennya, dan empat penumpang.

Keduanya babak belur setelah dipukuli berulang-ulang dengan jeruji besi dan Joyti berulang kali diperkosa sebelumnya dan akhirnya keduanya dibuang di jalan menuju bandara Delhi, hanya beberapa meter dari tempat kerja Badri.

Hati Badri pun hancur lebur membayangkan penderitaan yang dialami putrinya. Ia tak sanggup menyampaikan musibah yang dialami Joyti kepada keluarganya.

"Saya segera memanggil istri dan anak-anak dan mengatakan kepada mereka untuk datang ke rumah sakit. Tapi saya tidak bisa memberitahu mereka tentang perkosaan itu".

Selama 10 hari, Joyti berusaha bertahan hidup. Dokter melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. "Dia (Joyti) beberapa kali berbicara dengan gerakan tubuh. Ia menggunakan pipa makanan di mulutnya sehingga sulit berbicara".

Joyti juga menuliskan pada kertas kalau ia ingin tetap hidup. Ia ingin tinggal bersama keluarganya. Joyti juga memberikan dua pernyataan kepada polisi, tapi Badri terlalu bingung saat duduk di sana dan tidak mendengarkan apa yang dikatakan putrinya.

"Istri saya bersama dengannya ketika memberikan pernyataan tapi ia menangis setelah mendengarkannya," ujar Badri.

"Dia kemudian mengatakan kepada saya apa yang terjadi. Saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan insiden itu. Semua yang bisa saya katakan adalah mereka bukan manusia, bukan juga binatang. Mereka bukan dari dunia ini," tegas Badri.

"Itu mengerikan dan saya berharap tidak ada lagi yang akan mengalaminya".

"Dia terus menangis, ia kesakitan. Dan setelah melihat ibu dan saudaranya, ia menangis lagi".

Dokter mengharuskan Badri memindahkan Joyti karena kondisinya semakin memburuk. Akhirnya Joyti diterbangkan ke Singapura agar bisa dirawat dengan spesialis Boxing Day.

"Saya mengatakan kepadanya kalau semuanya oke dan kami semua akan pulang ke rumah. Dia sangat senang ketika kami berkata tentang pulang ke rumah dan dia tersenyum".

"Saya letakkan tangan saya di dahinya, ia bertanya ke saya apa saya sudah makan malam dan kemudian gerakan tubuhnya meminta saya tidur. Saya memeluknya dan menciumnya. Saya katakan kepadanya untuk beristirahat dan jangan khawatir dan dia menutup matanya".

Saat Joyti berjuang untuk hidup, ribuan orang turun ke jalan menuntut keenam terdakwa digantung dan membuat undang-undang baru tentang pemerkosaan. Tapi, pada 29 Desember Joyti mengalami serangan jantung.

"Saya sangat menginginkan ia bertahan hidup, meski ia harus hidup dengan ingatan serangan itu dan melewatinya dengan trauma".

"Kami begitu hancur ketika ia pergi. Ada kekosongan besar dalam hidup kami. Dia adalah pusat dalam alam semesta kami. Hidup kami berputar di sekelilingnya".

"Tidak ada dia begitu menyakitkan, masa depan tanpanya tak bisa dibayangkan".

Badri juga menjelaskan, teman Joyti Awindra bukanlah kekasihnya. Ia hanya teman pemberani yang berusaha menyelamatkan Joyti.

"Tidak ada permintaan untuk menikahinya karena kami beda kasta". Joyti tidak pernah menyatakan keinginan untuk menikah. Ia ingin konsentrasi ke kuliahnya dan ingin dapat kerja".

Badri juga mengatakan kalau Joyti sering menceritakan Awindra berusaha menyelamatkannya. Joyti terus memberitahu ibunya kalau Awindra berusaha terbaik untuk menolongnya, tapi pria-pria bejat itu terus memukulnya dengan tongkat.

Badri dan semua keluarga telah tersentuh oleh cara bangsa India dalam mendukungnya. Dukungan tersebut memberikan kekuatan dalam mengatasi cobaan pahit yang dialaminya. "Saya merasa dia bukan hanya anak saya tapi juga putri India".

Wajah Badri berseri-seri ketika ia berbicara tentang mimpi Joyti dan memperlihatkan album keluarganya. Setiap foto menunjukkan putrinya yang cantik tersenyum. Dalam kebanyakan, Joyti memakai pakaian Barat, namun yang ia disukai sari tradisional. Dia juga selalu memakai pakaian panjang, rambut mengkilap gelap dibiarkan terurai, tidak pernah diikat. Badri pun meminta agar foto putrinya tak diambil.

Hukum di India memang melarang memberikan nama korban perkosaan kecuali korban mengizinkan atau jika korban meninggal, keluarganya menyetujuinya. Dan kini keluarga yang perasaannya masih hancur mengumumkan nama putrinya yang berharga itu.(MEL/IGW)
    Loading