Sukses

Tetap Tenang Hadapi Anak Tantrum, Ini 5 Tips Pakar (2)

Liputan6.com, Jakarta Tantrum merupakan hal yang wajar terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Berhubung belum tahu cara mengomunikasikan rasa tidak suka atau nyaman terhadap seseuatu ia luapkan lewat tangisan atau teriak-teriak.

"Tantrum adalah sebuah komunikasi bahwa anak tidak ingin sesuatu dan menuntut hal yang dia sukai. Itu cara dia berkomunikasi tapi perlu diperbaiki," kata Pendiri dan Kepala Akademik Montessori Haus Asia, Rosalynn Tamara.

Tentu tidak mudah menghadapi anak yang sedang tantrum. Anda juga tidak boleh salah cara dalam menghadapi kondisi itu. Jika cara yang digunakan kurang tepat, misalnya marah atau meninggalkan anak yang sedang tantrum malah bisa menimbulkan masalah besar.

Berikut tips bagian kedua dalam menghadapi anak tantrum seperti disampaikan Rosalynn:

4. Ajak si Kecil berbicara

Saat anak masih menangis atau teriak, tidak akan efektif bila menasehatinya.

“Jangan kita ngomong sama anak ketika dia teriak-teriak. Percuma, dia tidak akan dengar. Dia akan blocking. Blocking kuping dia, blocking diri dia untuk mendengar nasihat dari kita,” katanya di depan Orami Community beberapa waktu lalu.

Ketika dia sudah tenang, baru ajak si Kecil berbicara. Cari tahu penyebab dia mengalami tantrum. Saat berbicar dengan anak tentu tidak dengan berteriak-teriak ataupun mengancam. Berbicaralah dengan tegas tapi penuh kasih sayang maka anak bisa paham bahwa yang tidak disukai oleh orangtua adalah tindakannya, bukan dirinya.

Bila orangtua menyertai ancaman maka dianggap oleh anak itu adalah hukuman. Ancaman beserta kalimat yang menakut-nakuti, misalnya "Bila tidak menghabiskan makanan nanti kamu kena sial," bukan juga solusi tepat. Anak tidak akan paham dengan teguran yang diberikan. 

Lebih baik, berikan penjelasan yang jelas dan konsisten. “Lihat matanya. Jadi itu kuncinya, selalu cari mata anak ketika ngomong. Karena di mata kan emosi yang ada, rasa ada. Tapi jangan melotot. Ketika tangannya menggumpal, pegang tangannya,” saran Rosalynn.

 

 

2 dari 3 halaman

5. Saat tantrum anak mulai berlebihan

Bila tantrum anak mulai melibatkan tindakan kasar seperti melempar sandal atau menarik-narik, berikan disiplin yang sesuai. Disiplin bukan berarti memarahinya tapi memberikan konsekuensi yang sesuai. Misalkan kasus anak yang melempar sandal saat tantrum, jangan terburu-buru membereskannya sendiri. Ajak si Kecil untuk membereskan sandal sesuai kemampuannya.

“Di situ, kita ada empati. Katakan padanya, ‘Oke, mama tahu kamu ngambek, tetapi bukan begini caranya.’ Saya tidak bilang cara ini bisa membuat anak Anda berubah dalam satu bulan. Tapi bisa per enam bulan, bisa satu tahun. Yang penting kita konsisten,” kata Rosalynn.

Rosalynn juga menyarankan orangtua untuk memberi batasan. Saat tantrum itu muncul, berikan batasan waktu, misalkan lima menit saja. Anda bisa berkata, ‘Boleh kamu marah, boleh kamu mau teriak-teriak, boleh kamu sedih, tapi lima menit ya. Kalau sudah lima menit, nanti dikasih tahu.’

Jadi semua ada batasnya, tidak bisa selama yang ia inginkan. Jika orangtua sedang memiliki waktu luang, memang tantrum bisa dibiarkan hingga mereda sendiri. Namun hal itu tidak selalu terjadi.

Anak perlu dilatih untuk paham bahwa tantrum juga ada batasnya, ada waktunya. Bahwa tidak selamanya orangtua bisa menunggu hingga tantrumnya reda.

 

3 dari 3 halaman

Komunikasi adalah Kunci

Seperti konflik lainnya, komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi anak yang tantrum. Menurut Rosalynn, orangtua memiliki waktu satu tahun, yakni saat anak beralih dari usia 3 ke 4 tahun, untuk mengajarkan komunikasi yang baik.

“Karena dengan komunikasi, semua hal bisa dibicarakan. Semua hal bisa dipecahkan. Anak-anak yang komunikasinya bermasalah, akan berimbas di emosi,” kata Rosalynn.

Kemampuan komunikasi yang baik bisa fatal hingga anak tumbuh dewasa. Menurut Rosalynn, itulah sebabnya mengapa kini banyak anak-anak yang mengalami cringe feeling. Anak membuang badan, buang barang, marah-marah yang tidak jelas, berbicara dalam bahasa yang sulit dipahami karena cara komuniksi tidak terbentuk dengan baik. Maka penting sekali bagi orangtua untuk memperhatikan dan membimbing anak dalam mengembangkan komunikasi.

 

Penulis: Selma Vandika