5 Cara Menghadapi Anak Ngamuk dan Tantrum agar Cepat Tenang Menurut Psikolog

Cara menenangkan anak ngamuk dan tantrum tanpa emosi. Simak 5 tips dari psikolog yang mudah diterapkan orang tua.

Diterbitkan 03 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Anak ngamuk atau anak tantrum sering membuat orang tua kewalahan. Tangisan keras, teriakan, hingga perilaku melempar barang bisa memicu emosi orang tua ikut terpancing.

Padahal, tantrum adalah bagian normal dari perkembangan emosi anak, terutama pada usia balita. Di fase ini, anak belum memiliki kemampuan bahasa dan kontrol diri yang matang untuk mengekspresikan perasaan mereka.

Psikolog klinis asal Amerika, Ray Levy, menegaskan bahwa kunci menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang. "Cara terbaik menghadapinya bukan dengan bentakan, melainkan pendekatan yang tenang, konsisten, dan penuh empati," katanya dikutip dari Parents pada Kamis, 2 April 2026.

Berikut cara efektif menghadapi anak ngamuk atau tantrum yang bisa diterapkan orang tua:

1. Tetap Tenang dan Kendalikan Emosi

Saat anak tantrum, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengontrol respons diri sendiri. Hindari membalas dengan nada tinggi, ancaman, atau ceramah panjang karena justru memperburuk situasi.

"Menghadapi anak yang sedang marah memang melelahkan, tetapi itu adalah hal yang wajar dan orang tua harus mengendalikan emosi," ujarnya.

  • Tarik napas dalam
  • Turunkan posisi tubuh sejajar dengan anak
  • Gunakan suara lembut namun tegas

Sikap tenang dari orang tua akan menjadi contoh bagi anak dalam mengelola emosi.

2. Cari Penyebab Anak Ngamuk

Jangan hanya fokus menghentikan tangisan. Cari tahu apa pemicu anak ngamuk. Beberapa penyebab umum:

  • Lapar
  • Mengantuk
  • Kelelahan
  • Bosan
  • Keinginannya ditolak

"Anak usia 1 sampai 3 tahun belum mampu menjelaskan emosi, sehingga mudah kehilangan kendali," tambah Levy.

Dengan mengetahui penyebabnya, solusi bisa lebih tepat. Misalnya, beri makan saat lapar atau ajak istirahat saat lelah.

3. Alihkan Perhatian Sejak Dini

Pada balita, mengalihkan perhatian adalah strategi yang sangat efektif. Jika tanda awal tantrum muncul seperti:

  • Bibir cemberut
  • Merengek
  • Menghentakkan kaki

Segera alihkan ke hal lain, seperti:

  • Mengajak melihat kendaraan
  • Memberi mainan atau buku favorit
  • Mengubah aktivitas

Semakin cepat dialihkan, semakin kecil kemungkinan tantrum berkembang menjadi ledakan emosi.

4. Jangan Langsung Menuruti Keinginan Anak

Banyak orang tua memilih menyerah agar anak cepat diam. Namun, hal ini justru membuat anak belajar bahwa ngamuk adalah cara efektif untuk mendapatkan keinginan.

Jika sudah mengatakan “tidak”, tetaplah konsisten.

  • Jelaskan alasan dengan bahasa sederhana
  • Tegaskan batasan yang ada

Konsistensi penting agar anak memahami aturan dan belajar mengontrol diri.

5. Dampingi Sampai Anak Tenang

Saat emosi sedang memuncak, anak belum siap diajak berdiskusi. Fokus utama adalah memastikan anak aman.

Setelah anak mulai tenang, bantu ia mengenali perasaannya. 'Kamu marah karena mainannya diambil, ya?'

Cara ini membantu anak memahami emosi seperti marah, sedih, atau kecewa.

 

 

Penyebab Anak Tantrum yang Perlu Dipahami

Anak tantrum umumnya terjadi karena kebutuhan atau keinginan yang tidak terpenuhi.

Pada umur 1 s.d 2 tahun, penyebab utamanya adalah keterbatasan kemampuan bahasa. Anak tahu apa yang diinginkan tapi belum mampu mengungkapkannya.

"Tantrum sering menjadi cara anak menyampaikan kebutuhan saat kemampuan bahasa belum berkembang," ujar Levy.

Selain itu, faktor lain juga memicu anak ngamuk:

  • Lapar atau mengantuk
  • Sakit atau kelelahan
  • Perubahan rutinitas
  • Lingkungan terlalu ramai
  • Larangan dari orang tua

Pada usia yang lebih besar, tantrum bisa muncul karena anak mulai ingin mandiri dan menentukan pilihan sendiri.

 

Langkah pencegahan anak ngamuk atau anak tantrum bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu membangun rutinitas yang teratur. Pastikan jadwal makan, tidur, bermain, dan istirahat anak berjalan konsisten setiap hari.

Anak yang kelelahan atau terlambat makan cenderung lebih mudah marah karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.

Selain itu, penting untuk memberi anak pilihan sederhana agar ia merasa memiliki kendali. Misalnya:

  • Memilih baju yang akan dipakai
  • Menentukan camilan sehat
  • Memilih buku cerita
  • Cara ini dapat mengurangi konflik kecil yang sering memicu tantrum.

"Pada dasarnya, setiap tantrum berakar dari satu hal sederhana, yaitu tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan," ujarnya.

Orang tua juga disarankan memberi pemberitahuan sebelum terjadi perpindahan aktivitas. Misalnya, beri tahu lima menit sebelum waktu bermain selesai atau sebelum pulang dari taman.

Perubahan yang mendadak sering membuat anak merasa kehilangan kendali, sehingga lebih mudah memicu emosi.

Yang tak kalah penting, anak belajar dari cara orang tua menghadapi stres. Jika orang tua terbiasa bersikap tenang dan konsisten, anak pun akan meniru pola tersebut dalam mengelola emosinya.