Hipertensi dan Diabetes Tak Terkontrol, Waspadai Risiko Aritmia

Aritmia atau irama jantung yang tak beraturan bisa berujung stroke. Salah satu risiko terjadi aritmia adalah orang dengan hipertensi tak terkontrol.

Diterbitkan 02 April 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Hipertensi atau tekanan darah tinggi serta diabetes yang tidak terkontrol merupakan salah satu faktor risiko aritmia atau irama jantung tak beraturan. Hal ini terjadi karena tekanan darah dan gula darah tinggi yang tidak terkontrol dapat mengubah struktur otot jantung.

"Kondisi itu menyebabkan terhalangnya sinyal listrik jantung," kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan Evan Jim Gunawan dari Eka Hospital MT Haryono Jakarta.

Padahal, agar jantung dapat berfungsi diperlukan sinyal listrik agar otot jantung berdenyut. Pada kondisi normal sinyal listrik berjalan tanpa hambatan sehingga irama jantung konsisten. Sementara itu, bila ada gangguan atau hambatan pada sinyal listrik maka irama jantung tidak beraturan.

"Kondisi irama jantung yang tidak beraturan inilah yang disebut sebagai aritmia," jelas Evan dalam temu media pada Selasa, 31 Maret 2026.

Evan menjelakan bahwa gangguan irama jantung tidak selalu sama. Berdasarkan kecepatan denyut jantung dan keteraturan atau tidak, gangguan irama ini terbagi menjadi tiga:

  • Takikardia: Kondisi di mana jantung berdetak terlalu cepat (lebih dari 100 kali per menit walau kondisi sedang istirahat).
  • Bradikardia: Kondisi di mana jantung berdetak terlalu lambat (kurang dari 60 kali per menit), yang sering kali membuat penderitanya merasa mudah lelah atau pusing.
  • Atrial Fibrilasi (AF): Ini adalah jenis aritmia yang paling umum tapi cukup serius. Pada kondisi ini detak jantung terasa tidak beraturan. Hal yang dikhawatirkan dari kondisi ini adalah stroke. "Pada atrial fibrilasi, jika ditangani, dapat memicu penggumpalan darah yang berisiko menyebabkan stroke," papar pria yang menjalani electrophysiology fellowship di Beijing, China ini.

 

Faktor Risiko Lain Aritmia

Selain hipertensi dan diabetes tak terkontrol, Evan mengatakan bahwa usia dan faktor keturunan merupakan faktor risiko dari aritmia.

Selain itu, orang yang memiliki gangguan tiroid --tiroid terlalu aktif atau tidak aktif -- sangat memengaruhi kerja jantung. Kemudian, orang dengan sleep apnea yakni gangguan tidur yang mana napas berhenti sejenak. "Ternyata membebani jantung sehingga iramana berubah," tuturnya.

Lalu, kekurangan asupan kalium dan magnesium juga bisa memengaruhi irama jantung.

 

 

Apakah Alami Aritmia atau Tidak?

Saat seseorang mengalami jantung berdebar, bisa saja bukan aritmia. Bisa debaran yang wajar yang biasanya setelah mengonsumsi kafein berlebih, berolahraga berat atau saat stres, jatuh cinta, takut, atau panik. Biasanya, irama jantung akan kembali normal setelah pemicu hilang.

"Untuk yang bahaya biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan pemeriksaan medis," tutur Evan.

Untuk menegakkan diagnosis biasanya dokter akan menyarankan metode screening elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung dalam waktu singkat. Namun, ada kalanya irama jantung tak beraturan kadang muncul kadang tidak, maka perlu dipasang Holter monitoring.

"Alat kecil yang dipasang pada tubuh selama 24–48 jam (atau lebih) untuk merekam setiap detak jantung saat Anda beraktivitas normal hingga tidur. Ini sangat efektif menangkap gangguan yang tidak muncul saat pemeriksaan EKG biasa," tutur Evan.

Lalu, ada event recorder, mirip dengan Holter, namun digunakan dalam jangka waktu lebih lama (mingguan) untuk pasien yang gejalanya muncul sangat jarang.

Jika memang tegak diagnosis aritmia, maka perlu dilakukan tindakan.Salah satu metode pengobatan populer adalah ablasi jantung yakni prosedur minimal invasif.

"Pada penanganan ini, dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) juga telah membantu banyak orang kembali beraktivitas," katanya.