Sukses

Kisah Muliyono, Warga Banyuwangi yang Tampung Pengguna Narkoba

Liputan6.com, Banyuwangi Jika banyak orang membatasi hubungan dengan pengguna narkoba, tidak begitu dengan Muliyono (37). Pria asal Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur malah pernah menampung pengguna narkoba di rumahnya. 

"Saya pernah menampung empat orang pengguna narkoba beberapa tahun lalu. Mereka ketergantungan obat-obatan dan takut pulang ke rumah. Jadi, saya tampung dulu di rumah," ucap Muliyono saat ditemui di rumahnya, di awal pekan ini ditulis Sabtu (5/10/2019).

Selama para pengguna narkoba tinggal sementara di rumahnya Muliyono memberikan aktivitas menyenangkan dan bermanfaat. Upaya ini berhasil mengalihkan mereka dari ketergantungan obat-obatan terlarang.

"Saya ajak bangun pas subuh. Lalu, salat berjamaah. Kemudian diajak senam. Saya pikir, cara ini sebagai terapi dalam bentuk kegiatan di pagi hari," terang Muliyono.

 

 

Tak hanya kegiatan di pagi hari, Muliyono memantau keempat pengguna narkoba agar tidak sendirian. Menurutnya ketika sendirian keinginan menyentuh obat-obatan terlarang bisa saja terbayang.

"Jangan sampai terdiam dan sendirian, makanya sering diajak kumpul dan ngobrol. Ya, supaya mereka lupa dan enggak berpikir hal-hal lain (obat-obatan)," Muliyono melanjutkan.

Melalui mengobrol, Muliyono belajar memahami apa yang sebenarnya diinginkan pengguna narkoba.

"Saya tanya, 'Kamu pengennya apa?' Kalau mau putus sekolah, enggak pengen sekolah nanti bisa terjerumus lagi (kecanduan narkoba)," lanjut Muliyono.

 

* Dapatkan pulsa gratis senilai Rp 5 juta dengan download aplikasi terbaru Liputan6.com di tautan ini.

2 dari 3 halaman

Ajarkan Kesenian

Muliyono yang menekuni bidang kesenian, seperti tarian dan gamelan, mengenalkan dunia seni ke para pengguna narkoba. Mereka bisa memilih dan berlatih kesenian sesuai minat masing-masing.

"Saya di sini juga berusaha mengalihkan (pengguna narkoba) dengan kegiatan kesenian. Itu sudah saya lakukan sejak 2017 lalu," terang Muliyono.

Selain itu, bisa juga membuat anyaman. Mereka membuat anyaman dengan modal sendiri lantas dijual.

"Modal dilakukan sendiri. Saya kawal juga. Setiap minggu ada kas. Uang yang diperoleh mereka itu buat modal dari hasil pendapatan mereka, bukan sumbangan," lanjut Muliyono.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan juga video berikut

Loading
Artikel Selanjutnya
Apresiasi Bakat dan Prestasi Anak Berkebutuhan Khusus, Banyuwangi Gelar Festival Kita Bisa
Artikel Selanjutnya
Pertahanan Terakhir Warga Banyuwangi Menjaga Bukit Tumpang Pitu