Sukses

Cerita Husain, Penyintas Kanker Usus dan Biaya Ratusan Juta untuk Berobat

Liputan6.com, Jakarta Di 2011, Husain Nurisman (45) begitu kaget ketika dokter mendiagnosisnya terkena kanker usus besar (kolorektal). Selama perjalanan berjuang melawan sel kanker di tubuhnya, biayanya hingga ratusan juta rupiah. Untung, kantornya tempat bekerja menanggung biaya pengobatan. 

Pengobatan yang dijalani Husain menggunakan metode target terapi, khususnya memanfaatkan obat Cetuximab serta tanpa target (kemoterapi biasa). Dalam target terapi, obat kanker tersebut dimasukkan ke bagian tahapan kemoterapi.

"Untuk target terapi (obat kanker) bisa Rp60 juta. Belum juga makin tinggi dosis agar obat bisa efektif bekerja. Dosis meningkat, biaya juga makin tinggi. Ya, mahal banget. Tapi kalau obat ditanggung BPJS Kesehatan setidaknya bisa tenang," jelas Husain saat ditemui di bilangan Tebet, Jakarta, ditulis Jumat, 22 Februari 2019.

Selain menggunakan obat kanker dan kemoterapi, ada obat-obatan lain juga diberikan untuk mendukung kualitas hidup Husain. Ia menyebut, sekali kemoterapi dan target terapi bisa memakan Rp100 juta.

"Kalau ditotal sama obat-obatan lain untuk meningkatkan kualitas hidup bisa sampai Rp100 juta sekali kemoterapi," ucap Husain.

Target terapi adalah salah satu obat kanker untuk kemoterapi. Obat kemoterapi ada dua jenis, yakni target terapi dan tanpa target terapi.

Ada hal menarik yang Husain ceritakan saat pertama kali menjalani kemoterapi.

Baru tiga kali kemoterapi, kondisi awal baik-baik saja. Husain tidak mengalami gejala kemoterapi, seperti mual dan muntah. Ternyata setelah dianalisis kondisinya, dosis obat kanker tidak berpengaruh terhadap kanker.

"Akhirnya, dosis obat kanker yang untuk target terapi ditambah lagi. Ada juga tambahan obat lain. Baru dari situ, mulai terasa efeknya. Lumayan efeknya, saya mual dan muntah," tutur Husain.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Menyebar ke kelenjar getah bening

Sebelum didiagnosis kanker kolorektal stadium 4, Husain menjalani endoskopi yakni tindakan meneropong saluran cerna untuk melihat kondisi saluran tersebut secara langsung. Ia pun didiagnosis kanker usus besar stadium 4. Usus besarnya harus dipotong.

Setelah operasi, dokter bedah yang menangani Husain menjelaskan, tumor sudah menyebar ke mana-mana, termasuk menyasar kelenjar getah bening. Penyebaran tersebut baru terlihat jelas saat operasi berlangsung.

"Kelenjar getah bening juga terinfeksi. Setelah itu, pengobatan yang saya jalani menggunakan target terapi (yang menggunakan obat kanker) yang fokus menyasar kanker kolon. Kalau hanya terapi biasa kan biasanya merusak seluruh jaringan tubuh," Husain menambahkan.

Untuk penentuan target terapi dipengaruhi dari tingkat keparahan dan penyebaran tumor. Ia menjalani pemeriksaan KRAS. Metode ini akan melihat apakah sel kanker bermutasi atau tidak. Kalau sudah termutasi, pengobatan tidak menggunakan target terapi.

"Kanker saya tidak bermutasi. Jadi, selain kemoterapi, saya juga menjalani target terapi. Dua-duanya digabung semua biar efektif," ujar Husain.

Dokter pun menggunakan kombinasi pengobatan target terapi dan kemoterapi. Adanya kombinasi membuat efek tidak parah layaknya kemoterapi. Yang paling parah mual. Tiga hari setelah kemoterapi, Husain hanya bisa makan buah, susu, dan makanan lunak-lunak (berkuah, bubur).

Mulut pun iritasi dan hidung berdarah. Kondisi ini pun baru dialami saat tahap akhir kemoterapi.

3 dari 3 halaman

Sel kanker tidak aktif

Target terapi yang dialami Husain selama 10 siklus. Selama itu, setiap dua minggu sekali, ia harus kemoterapi dan diberi obat kanker target terapi.

Saat kemoterapi, badannya pun lemas. Jalan kaki satu atau dua langkah saja tidak bisa.

Kini, Husain sudah sehat. Ia sudah berhenti kemoterapi dan target terapi. Tubuhnya makin lama makin sehat. Setiap kali dicek ke laboratorium, sel kanker tidak aktif.

Loading
Artikel Selanjutnya
Presiden Uruguay Dikabarkan Memiliki Kanker Ganas, Apa Saja Gejalanya?
Artikel Selanjutnya
Kematian Akibat Kanker Tinggi, Menkes Nila Ingatkan CERDIK